Konten dari Pengguna
Masjid dan Jiwa yang Damai: Pelabuhan Tenang di Tengah Gelombang Dunia
12 Oktober 2025 13:16 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Masjid dan Jiwa yang Damai: Pelabuhan Tenang di Tengah Gelombang Dunia
Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang penuh tekanan dan kebisingan, masjid hadir sebagai pelabuhan jiwa—tempat manusia kembali menemukan kedamaian yang hakiki. Artikel ini mengajak pembaca merMurdiono
Tulisan dari Murdiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah gelombang dunia modern yang penuh ambisi, informasi, dan kecemasan, banyak manusia kehilangan arah dan kedamaian batinnya. Dalam kehidupan yang kian cepat dan bising ini, ketenangan jiwa menjadi sesuatu yang langka dan berharga. Di sinilah masjid hadir sebagai pelabuhan tenang, tempat jiwa yang lelah menemukan kembali keseimbangannya. Masjid bukan sekadar bangunan untuk beribadah, melainkan ruang spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta, menghadirkan kedamaian di tengah badai kehidupan. Di bawah kubahnya, hati yang resah belajar diam, dan dalam sujudnya, manusia menemukan makna sejati dari pulang: pulang ke Allah, sumber segala ketenangan.

Masjid sebagai Ruang Psikologis Ketenangan
Dalam psikologi modern, ada konsep yang dikenal sebagai mindful space—ruang yang diciptakan untuk menenangkan pikiran, meredakan stres, dan mengembalikan fokus batin. Menariknya, fungsi ini sudah ada sejak 14 abad lalu dalam Islam melalui keberadaan masjid. Masjid bukan hanya tempat sujud, tapi juga ruang restoratif jiwa. Ketika seseorang duduk di bawah kubahnya, dalam diam yang berirama dengan lantunan ayat, ia sedang mengalami apa yang oleh psikolog disebut grounding experience—proses menyadari kembali keberadaan diri dan hubungan dengan Sang Pencipta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar. (HR. Muslim).
Hadist ini bukan sekadar perbandingan lokasi, melainkan penegasan makna spiritual: masjid adalah pusat keseimbangan, tempat di mana hati kembali dari hiruk pikuk dunia menuju keheningan yang bermakna.
Masjid dalam Perspektif Sastra dan Jiwa
Dalam bahasa sastra, masjid bisa dianalogikan sebagai sumur jiwa—sumber air yang tak pernah kering bagi hati yang dahaga. Seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi, pernah menulis,
“Kembalilah ke rumah sunyi itu, karena di sanalah hatimu tenang.”
Rumah sunyi itu adalah masjid dalam makna rohaniah: ruang perjumpaan antara manusia dan Tuhannya, antara yang fana dan yang abadi. Setiap langkah menuju masjid, sebagaimana disebut dalam hadis, mendatangkan pahala, tapi juga mendatangkan ketenangan batin—sebuah efek psikologis yang kini diakui dalam ilmu neurosains sebagai spiritual calmness, yakni kondisi otak yang lebih seimbang akibat ibadah dan doa teratur.
Ketenangan dalam Gelombang Dunia Modern
Modernitas sering menjanjikan kebahagiaan instan—melalui layar, status sosial, atau kesuksesan ekonomi. Namun, kebahagiaan itu sering kali rapuh. Masjid justru mengajarkan kebahagiaan yang tenang, bukan meledak-ledak. Di sana, waktu terasa melambat. Dalam setiap rukuk dan sujud, manusia belajar untuk melepaskan kendali, menyerahkan lelah kepada Yang Maha Mengendalikan.
Seorang tokoh psikologi eksistensial, Viktor Frankl, menyebut bahwa manusia hanya akan menemukan makna ketika ia melampaui dirinya sendiri, ketika ia menyadari bahwa hidup bukan sekadar untuk “memiliki”, tetapi untuk “menyadari”. Di masjid, kesadaran itu lahir. Dalam sejuknya lantai dan senyapnya zikir, manusia menemukan kembali arah hidupnya.
Masjid: Simbol Keabadian di Tengah Kefanaan
Ketika dunia menawarkan kecepatan, masjid mengajarkan jeda. Ketika dunia mengajarkan kompetisi, masjid mengajarkan ketundukan. Ketika dunia sibuk menonjolkan “aku”, masjid membisikkan “Engkau”.
Masjid adalah pelabuhan: tempat kapal jiwa bersandar sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang kehidupan. Ia bukan sekadar bangunan, tapi ekosistem kedamaian—pertemuan antara dimensi spiritual, sosial, dan emosional manusia. Dan di setiap azan yang berkumandang, ada panggilan lembut dari langit: agar manusia yang lelah pulang sebentar ke rumah jiwanya.
Ketenangan bukan berarti tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap damai di tengah badai. Masjid mengajarkan itu. Sebagaimana ikan tak bisa hidup tanpa air, jiwa tak akan menemukan damainya tanpa masjid, tempat di mana hati kembali bernafas dalam kedekatan dengan Allah.

