Konten dari Pengguna

Tak Ada Masa Lalu yang Terlalu Hitam: Saat Momentum Hidup Datang Menyapa

Murdiono
Murdiono adalah dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki keahlian dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab
12 Oktober 2025 13:16 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tak Ada Masa Lalu yang Terlalu Hitam: Saat Momentum Hidup Datang Menyapa
Tak Ada Masa Lalu yang Terlalu Hitam: Saat Momentum Hidup Datang Menyapa” mengajak pembaca merenungi kekuatan perubahan dalam hidup manusia. Dengan mengangkat kisah Umar bin Khattab, yang dahulu menja
Murdiono
Tulisan dari Murdiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap manusia menyimpan kisah yang tak selalu indah. Ada babak-babak kelam, keputusan yang disesali, dan jalan yang dulu tampak benar namun ternyata menyesatkan. Namun, sejarah dan sastra sama-sama mengajarkan: tak ada masa lalu yang terlalu hitam ketika momentum hidup datang menyapa.
Dok Ilustasi Cahaya_Di_Tengah_Gelap
zoom-in-whitePerbesar
Dok Ilustasi Cahaya_Di_Tengah_Gelap
Momentum yang Mengubah Arah
Dalam kisah sejarah Islam, Umar bin Khattab adalah simbol terbesar dari kekuatan momentum hidup. Sebelum memeluk Islam, ia adalah sosok yang dikenal keras, tegas, bahkan sempat menjadi musuh paling sengit bagi Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat. Ia pernah berangkat dengan pedang terhunus untuk membunuh Rasulullah, namun pada hari yang sama, takdir dan momentum Ilahi mengubah segalanya.
Momentum itu datang dalam bentuk pertemuan sederhana dengan wahyu, ketika Umar mendengar ayat-ayat dari Surah Ṭāhā yang dibacakan oleh adiknya, Fāṭimah binti Khattab. Seolah dunia berhenti sejenak. Kata-kata yang lahir dari langit menembus dinding hatinya. Dari situlah, seorang penentang menjadi pelindung, seorang pembenci menjadi pencinta, seorang yang gelap menjadi penerang bagi umat.
“Sesungguhnya Allah menanamkan kebenaran dalam hati siapa yang Ia kehendaki,” tulis Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Dan dalam diri Umar, kebenaran itu menemukan momentumnya.
Sastra dan Momentum Jiwa
Dalam dunia sastra, momentum hidup sering dipahami sebagai titik balik eksistensial — saat seseorang menatap dirinya sendiri dan menemukan makna baru. Seperti tokoh Raskolnikov dalam novel Crime and Punishment karya Dostoyevsky, yang setelah berkubang dalam rasa bersalah dan dosa, menemukan pencerahan spiritual di ujung penderitaannya. Atau seperti dalam karya Jalaluddin Rumi, yang berkata:
“Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”
Momentum sering muncul dari luka itu sendiri — dari keterpurukan, kegagalan, atau kehilangan arah. Dan dari sanalah, seseorang belajar untuk menjadi.
Waktu Tidak Pernah Terlambat
Sejarah dan sastra seakan berpadu dalam satu pesan universal: tidak ada kata terlambat untuk berubah. Dalam psikologi modern, hal ini disebut “transformative learning” — proses perubahan diri yang lahir dari kesadaran mendalam setelah mengalami krisis. Jack Mezirow (1991), seorang ahli teori pendidikan, menjelaskan bahwa momentum perubahan sejati lahir dari “disorienting dilemma” — saat seseorang terguncang oleh realitas yang mengguncang sistem nilai lamanya.
Umar mengalami disorientasi itu lewat wahyu. Raskolnikov mengalaminya lewat rasa bersalah. Dan kita semua, dalam bentuk berbeda, akan mengalaminya lewat kehilangan, kesalahan, atau penyesalan.
Ketika Allah Memanggil Hati
Al-Qur’an berbicara lembut tentang konsep momentum ini dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
Momentum bukan sekadar keberuntungan, melainkan panggilan Ilahi kepada hati yang siap menerima perubahan. Ia datang di waktu yang misterius — kadang di tengah kegagalan, kadang di puncak kesombongan. Ia seperti cahaya yang menembus jendela paling kecil dalam ruang hati yang gelap.
Menjemput Momentum
Tak ada masa lalu yang terlalu hitam untuk diterangi cahaya perubahan. Jika Umar bin Khattab bisa mengubah kebenciannya menjadi kekuatan iman, maka setiap kita pun memiliki kesempatan yang sama. Masa lalu bukan kutukan; ia hanyalah bahan bakar untuk kebangkitan.
Seperti kata penyair Chairil Anwar dalam puisinya Aku:
“Sekali berarti,
sesudah itu mati.”
Momentum hidup menuntut keberanian untuk berarti, meski masa lalu kita penuh luka. Karena nilai sejati manusia bukan di mana ia memulai, tetapi di mana ia memutuskan untuk berubah.
Trending Now