Konten dari Pengguna
Penyebab Kendala Penetrasi Saat Bercinta dari Sudut Pandang Penderita Vaginismus
9 Maret 2020 17:54 WIB
Diperbarui 6 Agustus 2020 13:17 WIB

Kiriman Pengguna
Penyebab Kendala Penetrasi Saat Bercinta dari Sudut Pandang Penderita Vaginismus
Banyak orang yang percaya mengenai mitos tentang rasa sakit saat berhubungan seksual pertama kali. Lalu bagaimana dengan penderita Vaginismus?Mustika Fajar
Tulisan dari Mustika Fajar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak saya mem-posting cerita mengenai Vaginismus yang saya alami, banyak sekali DM yang masuk dan sebagian besar belum tahu mengenai adanya penyakit ini. Masih banyak orang percaya mengenai mitos tentang rasa sakit saat berhubungan seksual pertama kali.
Tidak sedikit pula informasi yang beredar mengenai penyebab munculnya penyakit Vaginismus yaitu karena adanya faktor psikis. Baik itu rasa takut akan berhubungan seksual, khawatir rasa sakit yang akan dirasakan saat berhubungan seksual, atau bahkan trauma akan pelecehan seksual pada masa lalu.
Solusi yang ditawarkan untuk menyembuhkannya pun variatif, mulai dari hipnoterapi, senam kegel, operasi selaput dara, dan masih banyak informasi lainnya di media online.
Lalu, apa itu Vaginismus?
Merujuk pada ICD (International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems), sebuah pedoman klasifikasi penyakit yang dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization). Vaginismus berkode N94.2 berada pada golongan kelainan organ reproduksi dan salurah kemih.
Jadi, Vaginismus adalah sebuah penyakit di mana penderitanya mengalami kekakuan otot pada dinding vagina yang tidak bisa dikendalikan. Sehingga menyebabkan kendala penetrasi, baik itu rasa sakit terus menerus setelah penetrasi, penetrasi tidak terjadi sewaktu-waktu, penetrasi hanya sebagian saja, bahkan hingga kegagalan penetrasi.
Vaginismus dan Kurang Rileks
Kali ini Saya ingin bercerita tentang pengalaman Saya mengenai penyebab Vaginismus yang Saya sebutkan di atas. Kebungkaman Saya akan Vaginismus tidak membuat Saya merasakan respons orang lain ataupun dokter secara langsung yang menyatakan bahwa penderita Vaginismus mengalami "kurang rileks" saat berhubungan seksual. Saya hanya mendapatkan informasi dari artikel-artikel yang saya temukan di media online.
Lalu apakah benar pendapat bahwa Vaginismus disebabkan karena faktor psikis? Karena perempuan kurang rileks? Karena terlalu cemas atau takut berhubungan seksual? Saya tidak dalam kapasitas menjawab benar atau salah dalam hal ini.
Yang pasti, Saya sudah mencoba segala cara agar Saya bisa rileks termasuk berbulan madu untuk yang ke sekian kalinya.
Penderita Vaginismus lainnya bahkan sudah sampai ke psikolog, psikiater, dan melakukan senam kegel dengan harapan pikirannya bisa menjadi rileks. Nyatanya berakhir dengan kegagalan lagi.
Kesembuhan Vaginismus
Hingga akhirnya saya menemukan satu akun Instagram yang dikelola oleh dokter penggiat Vaginismus pertama di Indonesia. Dengan bantuan tangan beliau pula saya bisa sembuh berkat βdilatasiβ. Ya! Dilatasi merupakan satu-satunya penyembuhan efektif bagi penderita Vaginismus.
Rasa tegang, takut, panik, cemas menyelimuti Saya ketika ingin mencoba melakukan hubungan seksual usai prosedur dilatasi di rumah sakit. Namun kali ini rasa takut itu bukan dikarenakan rasa sakit yang Saya khawatirkan seperti malam pertama, namun rasa takut dan khawatir apabila gagal lagi untuk kesekian kalinya.
Pada akhirnya mitos tersebut berhasil Saya patahkan, karena kali ini Saya berhasil penetrasi dalam kondisi tidak rileks dan tanpa rasa sakit sama sekali.
Karena vagina yang normal (tidak Vaginismus) tetap dapat dilakukan penetrasi meskipun perempuan dalam kondisi tidak rileks, tegang, atau bahkan tidak menginginkannya sekalipun.
...
Bagi para perempuan yang mengalami kondisi sama seperti Saya, tidak perlu khawatir karena kalian pasti bisa sembuh :) berikut beberapa akun Instagram yang bisa dijadikan referensi mengenai Vaginismus: @vaginismusindonesia, @vaginismuscampaign, @pejuangvaginismus
Vaginismus terjadi bukan karena seorang perempuan tidak mau, melainkan karena dia tidak mampu.

