Konten dari Pengguna
Realita Kehidupan Kos yang Individualis
6 Juni 2025 19:13 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Realita Kehidupan Kos yang Individualis
Realita kehidupan kos individualis yang sepi ternyata tidak seburuk itu. Masih terdapat rasa peduli di dalamnya.Mutiara Ulfa
Tulisan dari Mutiara Ulfa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu aku pikir kehidupan di kos itu sangat seru dan penuh keakraban. Seperti yang aku lihat di film-film, anak kos sering makan bersama sambil menonton drakor, mengobrol sampai larut malam, atau mengerjakan tugas ramai-ramai di kamar.
Namun kenyataan yang aku alami jauh berbeda. Sudah 8 bulan aku tinggal di kos, tapi aku tidak pernah merasakan kebersamaan-kebersamaan seperti yang ada di bayanganku.
Suasana Kos yang Sepi dan Dingin
Sejak awal, suasana kos yang kutinggali sangat sunyi. Interaksi antarpenghuni hanya sebatas saling senyum saat berpapasan. Obrolan pun hanya terjadi saat ada kepentingan.
Selebihnya semua sibuk dengan dunia masing-masing. Entah itu kuliah, organisasi, atau sekadar bermain ponsel di kamar. Tidak ada interaksi antara satu sama lain. Semua benar-benar hidup secara individualis.
Awalnya aku tidak menyadari fenomena individualisme yang terjadi di sekitarku. Aku hanya menganggap orang-orang saling diam karena malu atau canggung untuk memulai interaksi. Tapi setelah beberapa kali aku mengobrol dengan orang sekitar dan melihat respons mereka yang terkesan enggan dan tidak nyaman, barulah aku menyadari bahwa orang-orang memang tidak memiliki ketertarikan membangun kedekatan.
Tinggal di Lingkungan Individualis Tak Selalu Buruk
Setelah mengetahui bahwa aku tinggal di lingkungan individualis, aku berniat akan pindah dari kos tersebut dalam waktu dekat. Tapi niat tersebut aku urungkan, karena ternyata lingkungan individualis memiliki beberapa karakteristik yang justru membuatku merasa nyaman dan cocok tinggal di dalamnya.
Pertama, lingkungan individualis minim interaksi sehingga mencegah terjadinya konflik atau drama sosial yang tidak penting. Suasana damainya membantuku lebih produktif melakukan segala sesuatu tanpa khawatir akan komentar buruk dari sekitar. Setiap penghuni di sini cenderung tidak suka ikut campur dan selalu menghargai privasi antara satu sama lain.
Kedua, lingkungan individualis mendorong rasa kemandirian dan tanggung jawab. Setiap orang sadar diri untuk tidak merepotkan penghuni lain. Mereka menjaga kebersihan kamar mandi, mengurus sampah sendiri, dan merawat fasilitas bersama agar tidak mengganggu kenyamanan siapa pun. Permasalahan barang hilang pun tidak pernah terjadi. Orang-orang tahu batasan sehingga tidak akan sembarangan menyentuh sesuatu yang bukan miliknya.
Di Balik Individualisme, Ternyata Masih Ada Rasa Peduli
Gaya hidup individualisme tidak membuat penghuni kos menjadi seorang yang acuh dan tidak peduli. Aku menemukan fakta bahwa di balik sikap tertutup itu, masih ada empati yang tersembunyi.
Aku pernah sakit saat masa ospek, tubuhku panas dan kepalaku terasa berat. Tanpa kuduga, seorang tetangga kos yang jarang berinteraksi denganku menghampiri. Ia memperhatikan wajahku yang pucat dan langsung menawarkan diri untuk mengantarku ke klinik milik kampus. Katanya, ia tahu aku mahasiswa baru dan mungkin belum paham prosedur berobat di sana. Jadi ia akan mengantarkanku supaya aku tidak kesulitan mengurus administrasi.
Pernah juga saat salah satu penghuni kos selesai sidang skripsi, ia membagikan makanan ke beberapa kamar. Tak banyak kata yang diucapkan, hanya senyum dan sepenggal kalimat, βIni ada sedikit camilan, Mbak.β Gestur sederhana yang ia berikan itu terasa hangat sekali. Di balik keheningan itu, ternyata masih ada bentuk-bentuk kecil dari kepedulian.
Belajar Menerima dan Memahami
Dari pengalaman tinggal di kos yang individualis, aku belajar memahami bahwa kehangatan tidak selalu ditunjukkan lewat kebersamaan yang riuh. Terkadang, perhatian kecil dalam diam justru terasa lebih tulus dan berarti. Lingkungan yang tampak dingin di permukaan ternyata menyimpan bentuk kepedulian yang sederhana dan menghangatkan.
Kini, aku tidak lagi memandang individualisme sebagai sesuatu yang negatif, melainkan sebagai gaya hidup yang berbeda, yang tetap bisa memberikan kenyamanan dengan caranya sendiri.

