Konten dari Pengguna

Bahasa dan Identitas: Kenapa Kata 'Maaf' Kini Sering Diganti dengan 'Sorry'?

Nur Fatimah Nabil'lilla
mahasiswa universitas pamulang jurusan sistem informasi
11 Juni 2025 14:35 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bahasa dan Identitas: Kenapa Kata 'Maaf' Kini Sering Diganti dengan 'Sorry'?
Fenomena mengganti “maaf” dengan “sorry” mencerminkan perubahan bahasa dan identitas budaya. Artikel ini membahas dampaknya terhadap cara kita mengekspresikan nilai dalam Bahasa Indonesia.
Nur Fatimah Nabil'lilla
Tulisan dari Nur Fatimah Nabil'lilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://www.freepik.com/free-photo/young-girl-showing-namaste-gesture-checked-shirt-red-t-shirt-looking-serious-front-view_16376791.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=898b33d9-c2df-4f60-bc45-6bf958a71bc6&query=maaf+sorry+free
zoom-in-whitePerbesar
https://www.freepik.com/free-photo/young-girl-showing-namaste-gesture-checked-shirt-red-t-shirt-looking-serious-front-view_16376791.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=898b33d9-c2df-4f60-bc45-6bf958a71bc6&query=maaf+sorry+free
Kata “maaf” dulu begitu akrab di lidah masyarakat Indonesia. Kini, semakin banyak orang yang lebih memilih mengatakan “sorry”. Apakah ini hanya tren, atau ada makna budaya yang sedang bergeser?
Pernahkah kita memperhatikan bagaimana kata-kata dalam percakapan sehari-hari mulai berubah? Dulu, ketika seseorang melakukan kesalahan kecil, kita akan mendengar “maaf” dengan nada sungkan. Tapi sekarang, semakin sering terdengar “sorry”, bahkan dalam obrolan yang sepenuhnya dilakukan dalam Bahasa Indonesia. Fenomena ini terlihat sepele, namun sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: perubahan cara pandang terhadap bahasa kita sendiri.
Kata “sorry” dianggap lebih ringan, lebih santai, dan... entah kenapa, lebih keren. Sementara “maaf” mulai terasa terlalu serius, terlalu formal, atau malah terlalu "baku" untuk digunakan dalam interaksi sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Apakah ini semata-mata soal gaya bahasa? Atau ada yang lebih penting yang sedang bergeser tanpa kita sadari?
Bahasa mencerminkan cara kita memandang dunia dan diri sendiri. Ketika kita lebih memilih kata asing untuk menyampaikan hal-hal sederhana, seperti minta maaf, kita perlu bertanya: apakah kita mulai merasa Bahasa Indonesia kurang representatif untuk perasaan dan ekspresi kita? Atau, jangan-jangan kita sedang tanpa sadar menganggap bahasa asing lebih "berkelas"?
Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh media sosial, budaya pop global, dan kebiasaan konsumsi konten luar negeri. Banyak dari kita terbiasa menonton video berbahasa Inggris, mendengar lagu-lagu luar, atau membaca caption yang penuh campuran bahasa. Akibatnya, kata “sorry”, “thank you”, “please”, dan sebagainya lebih cepat muncul di lidah dibandingkan padanannya dalam Bahasa Indonesia.
Namun, mengganti “maaf” dengan “sorry” bukan hanya soal kebiasaan. Ini adalah refleksi dari bagaimana kita, sebagai penutur asli Bahasa Indonesia, mulai mengabaikan kedalaman dan keindahan bahasa sendiri. Kata “maaf” punya nuansa yang lebih dalam daripada “sorry”. Ia membawa beban empati dan tanggung jawab yang kuat, sementara “sorry” sering hanya sekadar formalitas atau basa-basi.
Bukan berarti kita tidak boleh menggunakan bahasa asing. Dunia sudah global, dan penguasaan bahasa asing tentu penting. Tapi, kalau kita terus menerus mengganti kata dasar Bahasa Indonesia dengan bahasa asing hanya demi terlihat modern, bisa jadi kita sedang mengikis jati diri kita sendiri.
Jadi, mari kita mulai dari hal kecil: memberi ruang kembali untuk kata “maaf”. Bukan karena kita anti bahasa asing, tapi karena kita ingin menjaga agar bahasa kita tetap hidup, utuh, dan bermakna.
Trending Now