Konten dari Pengguna
Orang Tua Setara: Ayah dan Ibu Sama-Sama Berperan dalam Pengasuhan Anak
8 November 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Orang Tua Setara: Ayah dan Ibu Sama-Sama Berperan dalam Pengasuhan Anak
Masih banyak yang berpikir kalau urusan anak sepenuhnya tanggung jawab ibu, sedangkan ayah cukup “membantu.” Padahal, anak butuh kehadiran dua sosok orang tua yang sama-sama terlibat dalam pengasuhan.Nadhira Khalifatun Nisa
Tulisan dari Nadhira Khalifatun Nisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayah nggak cuma pencari nafkah, dan ibu nggak cuma pengasuh. Keduanya adalah tim yang saling melengkapi. Karena anak butuh dua sosok yang sama-sama hadir, bukan salah satu yang terus menanggung beban.
Selama ini, urusan mengasuh anak sering kali dibebankan pada ibu. Ibu dianggap tahu segalanya tentang anak—mulai dari urusan makan, tidur, sampai emosi anak—sementara ayah “cukup membantu” di sela-sela kesibukannya bekerja. Pola pikir ini sudah begitu melekat di banyak budaya, termasuk di Indonesia, dan tanpa sadar diwariskan dari generasi ke generasi.
Padahal, kalau dipikir lagi, anak butuh sosok ayah dan ibu yang sama-sama hadir dalam proses tumbuh kembangnya. Pengasuhan bukan cuma soal siapa yang memberi makan atau mengganti popok, tapi juga tentang dukungan emosional, waktu bersama, dan kasih sayang yang seimbang.
Banyak masyarakat masih terjebak dalam pandangan bahwa tugas utama laki-laki adalah mencari nafkah, sedangkan perempuan harus fokus di rumah. Ini adalah bentuk dari budaya patriarki—sistem sosial yang menempatkan laki-laki di posisi dominan dan perempuan di posisi domestik. Contohnya bisa dilihat di berbagai negara. Di Jepang, meskipun pemerintah sudah mendorong kesetaraan gender, kenyataannya perempuan tetap menanggung beban terbesar dalam pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.
Di Indonesia pun, terutama dalam budaya Jawa, ayah sering dipandang sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan, sementara ibu bertanggung jawab di rumah. Tapi menariknya, di kalangan generasi muda sekarang mulai muncul perubahan. Banyak ayah milenial yang sadar bahwa perannya nggak cuma sebatas “mencari uang,” tapi juga ikut hadir dalam pengasuhan.
Mereka lebih aktif bermain, bercerita, bahkan mengganti popok anaknya sendiri. Perubahan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran tentang kesetaraan gender dan pengaruh media sosial yang membuka cara pandang baru tentang peran orang tua.
Social Role Theory menjelaskan bahwa perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan muncul karena ekspektasi sosial—bukan karena kemampuan alami. Masyarakat terbiasa melihat perempuan mengurus anak, jadi muncul anggapan bahwa perempuan memang “lebih cocok” jadi pengasuh.
Sedangkan Biosocial Constructionist Theory menjelaskan bagaimana perbedaan biologis di masa lalu (seperti perempuan yang hamil dan menyusui) akhirnya berkembang jadi norma sosial yang kaku. Dulu mungkin masuk akal kalau perempuan lebih banyak di rumah, tapi sekarang ketika kondisi sosial sudah berubah, aturan itu seharusnya juga ikut berubah.
Kesetaraan dalam pengasuhan bukan berarti menghapus peran ibu atau menukar posisi ayah, tapi bagaimana keduanya bisa bekerja sama secara adil dan saling mendukung. Ibu tetap bisa berkarier tanpa merasa bersalah, dan ayah pun bisa menunjukkan sisi lembutnya tanpa takut dianggap “kurang maskulin.”
Kuncinya ada pada perubahan pola pikir. Anak-anak seharusnya tumbuh dengan melihat bahwa ayah dan ibu adalah tim yang setara, bukan dua peran yang terpisah. Selain itu, dukungan kebijakan seperti cuti ayah dan pendidikan bebas bias gender juga penting untuk mendorong budaya pengasuhan yang adil.
Anak belajar tentang cinta dan tanggung jawab bukan dari kata-kata, tapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jadi, ketika ayah dan ibu saling berbagi peran dengan setara, mereka sebenarnya sedang mengajarkan arti kesetaraan dan kasih yang paling nyata.

