Konten dari Pengguna

Braga, Pukul Dua Pagi

Nadwa Dwi Nurcahyo
Bachelor of Communication Science (Journalism) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
12 November 2025 6:00 WIB
ยท
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Braga, Pukul Dua Pagi
Apa yang terjadi di Braga jam 2 pagi setelah hujan? Sebuah perjalanan jurnalistik menyusuri jalanan yang hening, mengamati sisa pesta, dan menemukan sisi lain Braga yang sedang mengambil napas.
Nadwa Dwi Nurcahyo
Tulisan dari Nadwa Dwi Nurcahyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber : pxhere.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pxhere.com
Hawa dingin menusuk menembus lapisan jaket. Bukan dingin kering yang menggigit tajam, melainkan dingin basah yang merayap pelan di kulit. Udara pukul dua pagi di Braga, Bandung. Sekitar tiga puluh menit setelah hujan deras reda, terasa begitu berat dan memeluk.
Tugas saya malam ini sederhana, setidaknya di atas kertas, yakni berjalan menyusuri Jalan Braga dari ujung selatan ke utara, dan mencatat apa yang saya lihat. Sebuah liputan yang terasa ganjil. Siapa yang mau meliput jalan paling terkenal di Bandung di saat jalan itu justru sedang tidak ingin dilihat?
Tapi di sinilah saya hadir, dan berdiri di persimpangan Jalan Asia Afrika, di mulut selatan Braga. Lampu-lampu jalan yang berwarna kuning pucat baru saja menyala kembali setelah padam singkat oleh hujan. Aspal yang basah telah mengubah paving block tua itu menjadi cermin raksasa, yang memantulkan bayang-bayang bangunan bergaya Art Deco itu saat sedang beristirahat. Mereka terlihat seperti raksasa yang sedang beristirahat.
Perjalanan saya berlanjut. Lampu lalu lintas di perempatan besar itu menyala merah. Saya berhenti, mengikuti aturan menyebrang jalan yang tidak lagi relevan di jam sepagi ini. Sunyi. Beberapa detik kemudian, lampu itu berganti hijau. Saya melangkah menyeberang jalan. Tidak ada satu pun kendaraan lain. Hanya saya dan sebuah lampu jalan yang kesepian.
Memasuki koridor Braga, suara pertama yang menyambut bukanlah musik. Bukan juga tawa. Apalagi deru knalpot. Suara pertama yang menyeruak adalah gema dari langkah sepatu saya sendiri. Gema itu memantul di antara dua sisi dinding pertokoan, menciptakan ritme yang stabil tap... tap... tap... di atas trotoar yang masih basah.
Di sebelah kiri saya, Gedung Merdeka dan Gedung De Vries berdiri dalam bayang-bayang. Saya bisa merasakan dinginnya bangunan bersejarah itu. Dingin dari sesuatu yang telah melihat jauh lebih banyak malam daripada yang bisa saya hitung. Saya menyentuh salah satu pilar besarnya, plesterannya terasa lembap dan berpasir di telapak tangan saya.
Saya berjalan lebih jauh ke utara, memasuki jantung Braga. Di sinilah, tiga jam lalu, "kemeriahan" itu mencapai puncaknya. Di sinilah teras-teras kafe waktu dipenuhi ratusan manusia, beradu tawa, bercanda ria, dan beradu asap rokok. Di sinilah musik dari satu kafe tumpang tindih dengan musik dari kafe lain, menciptakan kebisingan yang disebut orang sebagai "kemeriahan".
Sekarang, kemeriahan itu telah menguap. Yang tersisa hanyalah tempat sepi yang sedang beristirahat. Kursi-kursi besi ditumpuk miring, rantai pengamannya sudah terpasang. Beberapa meja masih basah oleh sisa hujan, menampung genangan air kecil yang memantulkan lampu neon toko seberang. Saya mendekat. Aroma yang tercium adalah campuran yang aneh, bau masam sisa tumpahan bir, bau tembakau dari puluhan puntung rokok yang mengambang di genangan air, dan bau tanah basah.
Semuanya terasa lengket. Udara lengket, meja lengket, lantai lengket. Ini adalah sisa-sisa kemeriahan. Sebuah kontemplasi bahwa setiap kemeriahan selalu menghasilkan limbah yang tidak sedikit.
Saya berjalan melewati lorong-lorong kecil di antara bangunan. Gelap. Di sini, dinginnya terasa berkali-kali lipat. Saya bisa merasakan embun mulai terbentuk di rambut saya. Pipa-pipa AC di dinding bangunan meneteskan air dengan ritme yang tidak teratur, menambah soundtrack malam itu.
Lalu, saya melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan dua belas jam lalu. Saya berhenti. Tepat di tengah jalan. Di atas marka kuning yang basah.
Saya merentangkan kedua tangan saya. Tidak ada klakson. Tidak ada teriakan. Tidak ada motor yang nyaris menyerempet. Tidak ada apa-apa. Saya berdiri di sana selama satu menit penuh. Di sinilah, di titik nol keramaian ini, keheningan itu memukul saya dengan keras.
Sebagai jurnalis, saya sering meliput kerumunan. Saya tahu betul bagaimana rasanya terhimpit di tengah ribuan orang, namun merasa menjadi manusia paling terasing di dunia. Saya hafal rasa kesepian yang hanya bisa muncul di tengah keramaian itu.
Malam ini, pukul dua pagi, di jalan paling sibuk di Bandung yang kini kosong melompong, saya justru tidak merasa kesepian sama sekali.
Saya merasa terhubung. Terhubung dengan aspal, terhubung dengan gedung-gedung yang bernapas pelan, dan terhubung dengan dingin yang terasa memeluk. Jalanan ini dirancang untuk ribuan orang, untuk parade, untuk lalu lintas. Tapi sisi aslinya baru terasa saat ia sendirian.
Braga tidak sedang kesepian. Braga sedang menjadi dirinya sendiri. Ia sedang beristirahat dari perannya sebagai "Braga".
Setelah momen kontemplasi itu, saya melanjutkan langkah kaki ini. Perjalanannya terasa berbeda. Saya bukan lagi pengamat, saya adalah bagian dari keheningan itu.
Semakin ke utara, melodi musik itu berubah lagi. Suara langkah saya kini ditemani oleh suara baru.
Srek... Srek... Srek...
Ritme yang lambat, berat, dan basah. Di depan, di bawah cahaya lampu jalan, seorang pria dengan seragam oranye sedang menyapukan sapu lidi besarnya di atas aspal. Dia adalah penutup yang sesungguhnya. Dia adalah orang yang membersihkan panggung setelah semua aktor pulang.
Dia mengumpulkan sampah-sampah malam ini. Tisu, gelas plastik, puntung rokok menjadi tumpukan-tumpukan kecil yang rapi. Dia bekerja dalam diam, wajahnya tersembunyi di balik topi. Saya mengangguk ke arahnya. Dia balas mengangguk. Sebuah kontak singkat di antara dua "penghuni malam".
Di seberang jalan, di pos keamanan sebuah bank, seorang satpam duduk menghadap monitor kecil. Satu-satunya temannya adalah radio kresek-kresek yang menyiarkan lagu dangdut lawas dengan volume sangat rendah.
Dan kemudian, para pemilik Braga yang sesungguhnya mulai muncul. Kucing-kucing jalanan. Mereka keluar dari selokan, dari balik pot-pot tanaman besar. Berjalan dengan anggun tepat di tengah jalan, menguasai trotoar yang beberapa jam lalu dipenuhi sepatu-sepatu mahal. Mereka menatap saya, matanya berkilat terkena cahaya, seolah bertanya apa yang sedang saya lakukan di wilayah mereka.
Saya akhirnya tiba di batas utara, dekat viaduk kereta api. Liputan selesai. Saya menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Jalan Braga yang baru saja saya susuri kini terlihat seperti sebuah terowongan panjang yang terdiam. Sebuah lukisan cat minyak yang masih basah, di mana lampu-lampu kuning berpendar di atas aspal yang mengilap.
Laporan saya selesai. Braga jam dua pagi, setelah hujan reda, bukanlah tentang akhir yang menyedihkan. Ini bukan tentang kesepian. Ini tentang jeda.
Ini tentang napas dalam-dalam yang akhirnya bisa diambil oleh sebuah panggung yang tengah lelah. Ini adalah pengingat bahwa seberapa pun meriah suasana malam itu, akan selalu ada pagi yang membersihkan. Akan selalu ada kesempatan bagi Braga untuk "mereset" dirinya sendiri.
Braga sedang beristirahat. Dan dalam istirahatnya yang hening dan basah itu, ia baru saja mengajarkan saya cara menemukan diri sendiri di tempat yang paling tidak terduga.
Trending Now