Konten dari Pengguna

Buku-buku yang Meramaikan Sepi 2021

Najelaa Shihab
Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
30 Desember 2021 12:26 WIB
·
waktu baca 12 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Buku-buku yang Meramaikan Sepi 2021
Sebaik-baik teman adalah buku. Pandemi sepanjang tahun ini, di rumah hampir 365 hari, tentu adalah alasan utama kenapa frekuensi dan durasi membaca saya naik berlipat kali. #userstory Najelaa Shihab
Najelaa Shihab
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rekomendasi buku Elaa Shihab
zoom-in-whitePerbesar
Rekomendasi buku Elaa Shihab
Pandemi sepanjang tahun ini, di rumah hampir 365 hari (bahkan pada saat “pindah” beberapa minggu ke luar Jakarta beberapa kali) - tentu adalah alasan utama kenapa frekuensi dan durasi membaca saya naik berlipat kali.
Akan tetapi, tahun ini juga tahun pertama saya mulai berbagi “perpustakaan digital” dengan beberapa teman kerja yang juga gemar membaca. Lebih dari tahun-tahun sebelumnya, genre dan cakupan topik buku pilihan 2022 ini beragam sekali, sebagian pilihan disini juga bisa dibilang lebih mungkin “memancing kontroversi”.
Mungkin bukan kebetulan, karena di tahun ini saya juga memaksa diri untuk membuat lompatan dalam karya tulisan, maka jenis bacaannya juga banyak yang keluar dari kebiasaan.
Berikut buku-buku yang membuat hati, pikiran, dan percakapan grup WhatsApp/Telegram terasa lebih ramai di 2021 yang lebih sepi.

1. Crying in H Mart oleh Michelle Zauner.

Membaca memoir ini meninggalkan rasa penuh raya buat saya - memahami perjalanan manusia dan kompleksitasnya membuat hangat hati sekaligus patah hati di waktu yang sama. Buku pertama Zauner ini (terlepas dari apakah Anda sudah mengenalnya lewat “Japanese Breakfast” - group musik indie-nya) melebihi ekspektasi dari segala sisi.
Bagaimana makanan dan budaya Korea, juga hubungan anak dengan ibunya digambarkan dengan berlapis emosi benar-benar akan berbekas dan mentransformasi bagaimana pembaca memaknai hidup dan mati.

2.Klara and The Sun oleh Kazhuo Ishiguro.

Buku tentang robot yang sangat manusiawi, penuh kecemasan sekaligus membawa harapan? Hanya Ishiguro yang lagi-lagi, setelah karya sebelumnya “Never Let Me Go” bisa membuat tokoh utama yang begitu otentik tapi sekaligus penuh kejutan, memancing kita memunculkan pertanyaan sekaligus makin percaya bahwa loyalitas dan cinta, selalu bisa kita pelajari bahkan dari karakter yang tak disangka.

3.No One Is Talking About This oleh Patricia Lockwood.

Penulis puisi yang kemudian menulis essay, dan sekarang novel. Saya membaca karya Lockwood sebelumnya dan terus terang memulai buku terakhirnya tanpa ekspektasi, dan kemudian membuktikan lagi, jatuh cinta yang tanpa disangka (termasuk ke buku juga!) adalah pengalaman yang mengagetkan tapi juga menyenangkan sekali :) Untuk yang merasa punya isu dengan sosial media, pengguna yang punya ketergantungan pada twitter atau justru tidak suka sama sekali, banyak refleksi dan ironi yang digambarkan di fragmen-fragmen ini.

4.Matrix oleh Lauren Groff.

Bukan berdasar filmnya Keanu Reeves ya (walaupun bacaan apapun berkait Reeves pasti akan menarik juga :)). Novel ini bercerita tentang perempuan yang memilih melakukan pergerakan di era dan area sangat konservatif, memimpin dengan ambisi, melawan dominasi laki-laki.
Fiksi historis tentang Marie De France yang saya rekomendasikan sebagai buku pilihan tahun ini bukan hanya karena tema, tetapi juga gaya penulisannya yang sangat unik. Terutama cara Groff melakukan pacing dengan kalimat, mendeskripsikan suasana, dan peristiwa membuat bukunya bukan saja ingin cepat diselesaikan tetapi juga sulit dilupakan.
Elaa Shihab: koleksi pribadi

5. Projections: A Story of Human Emotion oleh Karl Deisseroth.

Buku ilmiah tentang kognisi dan emosi manusia yang menceritakan kasus dan bisa dibaca bagaikan buku cerita? Jelas bukan hanya untuk neuroscientist semata, atau Anda yang ingin tahu tentang bulimia dan dementia - buku ini sarat empati tapi juga memberi penjelasan tentang teknologi terkini.
Tipe buku yang saya bayangkan bisa saya hasilkan kalau saya dulu melanjutkan karier sebagai akademisi dan praktik psikologi, tetapi tak pernah terwujudkan karena banyaknya keterbatasan kemampuan diri. Deisseroth, dan siapapun ahli yang mampu menulis informasi esensi dengan narasi berarti seperti di studi kasus ini, sangat pantas dikagumi.

6. First, We Make The Beast Beautiful: A new book about Anxiety oleh Sarah Wilson.

Buku ini saya masukkan rekomendasi, karena banyaknya kecemasan dan masalah kesehatan mental yang kita alami selama pandemi. Memoir ini kombinasi yang pas sebagai afirmasi sekaligus membangun koneksi dengan diri sendiri. Ada bagian yang lucu, ada bagian yang bikin terharu. Yang pasti buku ini akan membuat Anda mengingat kembali bahwa melihat dengan sudut pandang berbeda bukan sekadar saran bijaksana, tetapi perlu dipraktikkan untuk jadi kunci keluar dari labirin yang membelenggu kita.

7. Empire of Pain oleh Patrick Radden Keefe

Krisis dan adiksi, korupsi dan oligarki - buku yang ditulis secara sangat metodologis tentang dinasti Shakler yang lewat perusahaan farmasi maupun inisiatif “sosial”nya menjadi akar dari epidemik opioid di Amerika (dan seluruh dunia).
Tulisan Keefe, sesuai judulnya, bikin nyeri di dada saat membaca, jadi pengingat pula bahwa jurnalisme dan demokrasi perlu terus tumbuh, dan laporan investigasi seperti buku ini perlu terus didukung oleh masyarakat dengan tingkat literasi tinggi dan advokasi yang tidak setengah hati.

8. How To Avoid Climate Disaster oleh Bill Gates.

Jasa terbesar buku ini adalah memperkenalkan isu terkait perubahan iklim di bumi dan istilah-istilah pentingnya dalam bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami. Ada saran konkrit juga ambisi-ambisi yang Gates sampaikan dan membuat kita lebih optimis untuk ambil peran dalam menyelesaikan masalah global ini, tetapi juga lebih sadar akan pentingnya inovasi teknologi serta perubahan politik dan kebijakan yang dibutuhkan lebih dari sekadar aksi individual. Buku yang penting disebarluaskan sebagai konsumen dan produser, sebagai pekerja dan pengusaha, juga warganegara.
Rekomendasi buku Elaa Shihab

9. Underwater Wild: My Octopus Teacher’s Extraordinary World oleh Craig Foster.

Coffee Table books belum pernah masuk daftar buku rekomendasi saya bertahun-tahun ini, tapi kualitas foto dan informasi tentang kehidupan di lautan juga semua kampanye yang dilakukan Foster lewat dokumentasinya, berhasil memantik percakapan yang penting sekali. Menyelami bukunya paling tidak akan menambah semangat eksplorasi bagian dunia yangasih sangat sedikit bisa kita nikmati, dan kalau buat saya jadi makin termotivasi untuk segera ambil sertifikasi diving serta makin sering snorkeling yang jadi hobi baru selama pandemi :)

10. Promises and Possibilities: Dismantling the School-to-Prison Pipeline oleh Kelisa J. Wing.

Refleksi guru, terutama yang belajar dan bekerja bersama anak-anak dengan kondisi yang menantang, selalu berharga untuk dibaca. Banyak persamaan dan perbandingan dengan kondisi kita di Indonesia, banyak konteks khusus yang juga jadi catatan tentang apa yang bisa dipraktikkan dengan lebih baik lagi dari buku ini.
Dari sekolah ke penjara, sayangnya masih jadi rute yang terlalu sering dilalui oleh dengan penuh resiko dan kurangnya dukungan dalam sistem pendidikan kita.

11. A Search for Common Grounds: Conversations about The Toughest Questions in K-12 Education oleh Frederick M. Hess dan Pedro A.Noguera

Pendidikan selalu soal paradigma, perdebatan tentangnya seringkali penuh emosi, tetapi seharusnya berdasar bukti dan hasil evaluasi yang diteliti, bukan hanya opini dan asumsi. Sayangnya, dalam profesi ini, saya masih jarang sekali menemukan percakapan tentang polarisasi yang seberkualitas apa yang diuraikan oleh Hess dan Noguera disini.
Karena itu, alasan lain saya merekomendasikan buku ini adalah untuk menjadi contoh baik tentang saling berempati dan menghormati dalam diskusi, dan tentunya juga untuk memperkenalkan pendidik ataupun penggerak di lapangan tentang spektrum “mazhab” dalam kebijakan dan praktik yang sebagian (besar) juga relevan di konteks perubahan yang sedang kita bersama upayakan.

12. Wintering: The Power of Rest and Retreat in Difficult Times oleh Katherine May.

Ini buku tentang rebahan :) Kuncinya: perlu dipilih waktu yang tepat - dan ternyata juga perlu persiapan. Panduan penting bagi kita yang selalu merasa bahwa produktif setiap saat adalah hal biasa, dan sering lupa bahwa bisa berhenti dan menghayati kesedihan sebetulnya tanda berdaya.

13. Digital Body Language: How to Build Trust and Connection No Matter The Distance oleh Erica Dhawan.

Alat utama saya di masa-masa awal wabah, saat semua pekerjaan dilakukan jarak jauh dari rumah. Saya membuat daftar keterampilan yang perlu dilatihkan dari apa yang diuraikan Dhawan. Komunikasi dengan keluarga dan teman kerja, rasanya terselamatkan dengan bekal-bekal penting dari buku ini, walaupun masih banyak lagi hal yang harus diperbaiki. Kasih tahu ya kalau sudah baca, bagian mana yang paling susah dan paling muda dijalankannya! :)

14. Sumur oleh Eka Kurniawan (juga terbit dalam Antologi “Tales of Two Planets: Stories of Climate Change and Inequality in Divided World - editor: John Freeman)

Toyib dan Siti, konflik dan tragedi - buku yang akan membuat pembaca berharap bahwa Eka Kurniawan akan membuat banyak cerita pendek (agak panjang) lagi. Berbulan setelah membacanya pun, latar belakang dan alurnya terasa tetap memengaruhi emosi.
Gambaran tentang kerusakan alam yang hanya bisa digambarkan dengan indah oleh penulis yang paham konteks dan karakternya, saya yang membaca buku Bahasa Indonesia maupun antologi Bahasa Inggrisnya (dan membandingkannya dengan karya penulis mancanegara lainnya) sadar betul bahwa sang maestro punya keistimewaan khusus dengan kata dan kisah.

15. Dan 16.Bewilderment dan Overstory oleh Richard Power

Sengaja diletakkan di akhir, dan terpaksa melebihi batasan saya tentang 15 buku pilihan, karena dua buku Power ini tak bisa saya pilih mana yang lebih disukai. Sudah dengar namanya sejak novelnya Echo Maker, tapi entah kenapa selalu tertunda membaca karyanya.
Setelah membaca Bewilderment yang menceritakan tentang dan Overstory yang karakter utamanya adalah pohon - maka Anda tidak akan pernah lagi melihat dunia dengan mata yang sama. Kedua buku ini melibatkan banyak rasa - keindahan yang sempit tapi juga keterdesakan yang lapang, di alam maupun di hari-hari kita.
Sejatinya manusia begitu jauh dengan semua makhluk lain yang ada di sekitar kita - kekuatan karakter-karakter bukunya bukan saja menunjukkan kekuatan risetnya, tapi juga memantik kesadaran bahwa drama bukan hanya terjadi antarmanusia (walaupun hubungan Robin, anak dengan neurodivergent dan Theo ayahnya di Bewilderment digambarkan dengan poetic oleh penulisnya).
Semoga 2022 membawa makin banyak kebersamaan lewat bacaan yang kita refleksikan, meringankan banyak langkah di kehidupan lewat buku-buku yang mencerahkan.
Trending Now