Konten dari Pengguna

Menemukan 'The Why'

Najelaa Shihab
Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
4 Agustus 2021 16:20 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menemukan 'The Why'
Ingin memahami manusia yang jadi subjek pendidikan adalah motivasi utama masuk fakultas psikologi, tetapi di antara banyak pilihan peran, yang awalnya saya bayangkan adalah jadi akademisi. #userstory
Najelaa Shihab
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi foto: pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto: pixabay.
Ingin memahami manusia yang menjadi subyek pendidikan adalah motivasi utama masuk fakultas psikologi, tetapi di antara berbagai pilihan peran, yang awalnya saya bayangkan adalah menjadi akademisi.
Mimpi ini tentu dipengaruhi oleh karier Habib Abdurrahman dan Abi yang sejak kecil sering meminta ditemani di ruang kuliah atau membaca hasil ujian mahasiswa, tetapi juga karena pengalaman saya sebagai mahasiswa di UI adalah pengalaman berada di lingkungan yang menyenangkan sekali. Kehangatan diskusi, keragaman perdebatan, keinginan terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan - semua latar belakang yang kuat untuk memutuskan mengambil peran sebagai staf pengajar di almamater yang saya cintai, dan terus belajar dari senior.
Memilih jalur kontribusi ini, membantu proses mengajar berbagai mata kuliah Psikologi Perkembangan, Psikologi Keluarga, Kognitif dan Belajar pada Anak, Metode Pengukuran Skala Psikologi bahkan Seminar Skripsi menjadi pengalaman yang bukan hanya membentuk cara berpikir saya tapi siapa saya dan paradigma saya dalam menjalani profesi.
Untuk saya saat itu, dan saya hari ini, kaitan antara “the why” pilihan mengabdi di pendidikan dengan apa yang saya lakukan sebagai dosen sangat jelas. Sampai dua tahun kemudian, datang banyak sekali pertanyaan dalam diri tentang “the what” yang paling sesuai.
Kumpulan data menunjukkan bahwa alasan utama seseorang berganti pekerjaan atau berpindah bidang, adalah penghasilan yang terlalu rendah, rasa tidak suka pada tugas rutinnya, harapan yang tak terpenuhi dengan apa yang dialami di organisasi, atau proses belajar dan beradaptasi yang terlalu sulit untuk dilalui.
Rentetan alasan tadi tidak saya alami - honor saya untuk satu mata kuliah di masa itu hanya Rp.300.000,- tetapi mendirikan lembaga pendidikan sendiri justru makin menambah ketidakpastian penghasilan dan bahkan jadi beban tambahan untuk keuangan. Tak ada faktor pendorong yang membuat saya meninggalkan kampus, faktanya sampai lebih dari 10 tahun kemudian saya masih mengajar paruh waktu, dan sampai sekarang masih menyimpan keinginan kembali. Akan tetapi, semulus-mulusnya transisi, banyak sekali catatan tentang apa yang saya alami dalam memutuskan perubahan jalur hidup ini.
Walaupun keyakinan utama untuk pindah muncul karena proses pengenalan diri dan karier di bidang pendidikan usia dini, keraguan utama dalam prosesnya juga datang dari sendiri.
Demikian kutipan yang saya baca dan masih teringat terus hingga kini. Saya sempat khawatir sekali bahwa pergantian bidang ini berarti menyerah pada pilihan sebelumnya atau pertanda bahwa saya mengaku salah. “Salah memilih jadi dosen”, “gagal bertahan di PTN” dan seterusnya.
Dalam proses teman saya yang lain, sang teman mengaku juga khawatir akan penilaian orang akan kegagalan (saya beruntung sisi ini tidak pernah terlalu saya rasakan). Darimanapun sumber label “salah”nya, jelas yang salah dari pikiran ini adalah logikanya. Pilihan pekerjaan di waktu yang berbeda dalam kondisi yang berbeda tak bisa dihakimi sebagai salah. Karier sebelumnya adalah yang terbaik (dan tercocok) untuk kita pada masa yang sudah dijalani. Bahwa kita punya kemampuan refleksi untuk melihat kebutuhan diri di periode berikutnya, jelas keberhasilan yang tak semua orang mampu melakukannya.
Berpindah seringkali datang dengan risiko yang sudah bisa diantisipasi ataupun yang tak mampu kita prediksi, tetapi wawancara skala besar di berbagai penelitian menunjukkan bahwa persepsi risikonya selalu lebih tinggi daripada yang senyatanya terjadi. Masih belum berani?
Ingat bahwa tidak berganti pekerjaan atau karier juga datang dengan risikonya sendiri, yang mungkin di saat kita cemas dengan perubahan seolah tertutupi, tetapi makin lama akan makin buruk dampaknya pada kondisi diri dan organisasi. Fakta ini juga perlu dipertimbangkan, bila yang menghalangi adalah alasan perlunya waktu atau rencana yang lebih detail dan membuat kita merasa punya kendali. Keniscayaan dari transisi apapun: menunda karena overplanning lebih berbahaya daripada segera memulai dan experimenting - saya membuktikannya berkali-kali!
Apa yang membantu untuk meningkatkan keyakinan diri? Memulai dengan kegiatan kerelawanan di bidang yang ingin ditekuni, melakukan job shadowing dengan mentor yang dikagumi, serta yang terpenting kesadaran penuh bahwa justru perubahan ini akan membuat kita “terpaksa” mengembangkan diri dalam bidang-bidang lain yang sebelumnya tidak tereksplorasi.
Ada ratusan topik dan spesialisasi di luar psikologi yang harus saya pelajari - aspek hukum, keuangan, pengelolaan sarpras yang sama sekali belum pernah saya pahami, manajemen talenta dan paedagogi orang dewasa yang saya merasa punya bekal dasarnya tapi ternyata jauh berbeda dalam praktiknya. Tapi semua kekurangan ini, bisa diubah menjadi kekuatan saat kita menggabungkan keunikan sudut pandang dari pengalaman sebelumnya dengan apa yang dibutuhkan di pekerjaan baru yang masih minim pengalamannya.
Salah satu peristiwa yang berarti, dalam diskusi tentang fasilitas taman bermain yang buat saya super asing, dan mencoba mengkaitkan pembagian ruang dan anggaran dengan dinamika sosial murid saat belajar. Kapan dan di mana proses belajar butuh mandiri atau sendiri, bagaimana agar terjadi lebih banyak kolaborasi, warna apa yang efektif menambah konsentrasi dan berbagai pertanyaan esensial lainnya yang jawabannya justru saya temukan saat mengintegrasikan perspektif ilmu yang berbeda dan justru menjadikan kualitas kerja lebih baik dari saya duga.
Setelah perpindahan karier dan kesempatan belajar ini, saya juga semakin menyakini bahwa area minat seseorang bisa sangat beragam. Tidak ada pekerjaan yang sempurna untuk semua orang, dan tidak benar juga bahwa hanya ada satu karier yang ditakdirkan paling tepat untuk Anda seorang. Kita semua individu multidimensi yang terus berkembang dan punya potensi untuk beradaptasi dalam berbagai peran dan pekerjaan.
Apapun yang kita putuskan di sepanjang perjalanan, akan perlu terus direfleksikan akan tetapi juga perlu terus dikuatkan. Ada fondasi kompetensi yang bisa terus kita manfaatkan, akan tetapi bagian yang paling menyenangkan - ada juga sederetan potensi yang bisa terus kita wujudkan di masa depan!
Satu hal yang secara khusus paling saya nikmati di awal karier sebagai pendiri lembaga pendidikan usia dini adalah melakukan proses rekrutmen tim kerja untuk mengembangkan organisasi bersama. Apa kiat sebagai pewawancara (dan yang diwawancara)? Saya uraikan besok ya di tulisan kelima dalam seri #merdekaberkarier #merdekaberkarya
Trending Now