Konten dari Pengguna
Rahasia Komunikasi yang Bukan Rahasia
8 Februari 2022 14:54 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Rahasia Komunikasi yang Bukan Rahasia
Komunikator terbaik adalah yang mampu mengamati dan menghayati bahasa tubuh. #userstory Najelaa ShihabNajelaa Shihab
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berkomunikasi jelas bukan hanya soal kemampuan berbicara. Sayangnya, di dunia yang punya preferensi pada siapa yang lebih keras bersuara, kompetensi verbal dalam mengutarakan gagasan seolah menjadi prioritas utama untuk dikembangkan.
Jelas bahwa salah kaprah ini mengagungkan banyak anak muda yang keras bunyinya walau kosong substansinya, dan melupakan anak muda lainnya dengan potensi dan kompetensi istimewa untuk menjadi komunikator ulung, dan karenanya juga kolaborator andal yang amat sangat dibutuhkan dunia. Di kelompok mana pun Anda berada sekarang, pandai berbicara atau belum rutin melakukannya - ada berbagai aspek kompetensi lain yang sangat krusial untuk diasah dan akan menjadi modal kompetensi masa depan yang sangat berharga.
Komunikasi yang tidak efektif selalu komunikasi tanpa tujuan yang jelas. Menulis atau melakukan presentasi, berpidato atau berdebat, apa pun bentuknya, yang terpenting bagi pengirim pesan adalah fokus pada apa yang ingin dicapainya. Apakah anda ingin menjelaskan atau meyakinkan? Memaparkan data atau menjual solusi atas masalah? Menceritakan kejadian atau membandingkan dan mengkontraskan pengalaman?
Memastikan bahwa apa dan bagaimana yang disampaikan sesuai dengan tujuan dan berdampak pada pembaca, pendengar, pembeli atau juri sesuai yang pengirim pesan inginkan adalah langkah sederhana yang sering terlupakan saat kemampuan komunikasi belum dilatihkan.
Sisi lain dari komunikasi yang dulu dianggap sebagai proses pasif adalah mendengar. Aspek mendengar dengan aktif, sekarang memang sudah mulai sering jadi anjuran tapi saat ini makin jarang ditemukan di dalam rapat atau di ruang belajar. Saya termasuk bersalah dan sering (tampak) kurang sabaran dalam percakapan.
Manusiawi sebenarnya, rata-rata otak kita bekerja empat kali lebih cepat dibanding kecepatan seseorang berbicara, sehingga tak semua kita mendengarkan dengan sepenuhnya 100% aktif, di saat hadir 25% saja sudah “cukup” untuk terlihat mendengarkan.
Mengendalikan pikiran (dan perasaan) agar bisa lebih mendengarkan dengan utuh, perlu kita biasakan. Terutama saat bekerja dari rumah di masa pandemi, atau komunikasi berlangsung dari jarak jauh, menghindari kebisingan sehari-hari menjadi makin sulit lagi. Suara dari multimedia atau percakapan yang temponya lebih cepat dari biasa dengan koneksi internet yang juga kadang sulit terdengar jelas bagi kita, makin menyulitkan bagi semua.
Tetapi tantangan terbesar selalu “kebisingan psikologis” yaitu kita enggan menyimak hal yang “sudah pernah didengar sebelumnya” atau pendapat yang bertentangan dengan apa yang kita anggap benar sebelumnya - sarkasme dalam bentuk telinga (dan hati) yang tiba-tiba tertutup tak peduli, adalah musuh mendengar aktif yang perlu terus kita hindari.
Komunikator terbaik adalah yang mampu mengamati dan menghayati bahasa tubuh. Observe and absorb, itu pesan saya pada murid-murid dan juga diri sendiri. Banyak sekali strategi yang bisa dipelajari, karena kemampuan ini bukan seperti sulapan yang akan datang sendiri. Betul-betul mendalami postur dan raut muka yang diterima, bukan hanya butuh membuka mata tetapi juga menemukan pola.
Walau ada rumus umumnya, bahasa tubuh setiap orang bisa berbeda. Untuk betul-betul memahaminya, perhatikan waktu dan rangkaian gesturnya - pandangan mata yang menunduk setelah tertawa berbeda sekali maknanya bila yang terjadi terbalik urutannya. Yang pasti, semakin Anda menguasai bahasa tubuh sendiri, memilih apa yang tepat di berbagai situasi, semakin juga otomatis akan menjadi lebih peka pada sinyal yang dikirim oleh orang lain yang disadari maupun tak disadari. Sama seperti semua aspek dimensi kompetensi lainnya, komunikasi non verbal selalu perlu dilatih.
Walaupun tidak semua kita punya kemampuan menerjemahkan bahasa lintas daerah atau negara, namun semua kita, apa pun bidang studi atau profesinya, perlu kemampuan menerjemahkan informasi ke bentuk visual dengan mumpuni. Dari teks ke infografis atau flowchart, dari bacaan ke simbol grafis - kemampuan ini bukan hanya membuat proses belajar dan bekerja bersama jadi lebih menyenangkan tetapi membantu meningkatkan konsentrasi dan memperjelas topik yang sulit didiskusikan.
Faktanya, semua pengalaman komunikasi multisensori akan punya kemungkinan berhasil yang lebih tinggi, karena mengaktifkan struktur otak yang berbeda untuk berfungsi. Faktor penentunya bukan seberapa bagus kualitas gambarnya sebagaimana yang mungkin kita duga - tetapi seberapa kuat jaringan konsep dikuasai oleh komunikatornya.
Kemampuan komunikasi yang baik juga berkait erat dengan kemampuan mengelola emosi. Menemukan titik tengah dalam diplomasi, memilih kata yang tak memancing multiinterpretasi, menunjukkan empati kepada kawan dan lawan bicara saat interaksi - hanya dengan emosi yang terkendali saling memengaruhi dan koneksi bisa terjadi.
Hal terakhir dan mungkin juga terpenting karena jarang kita dengar kaitannya adalah dimensi kompetensi berkomunikasi juga bisa dikembangkan apabila individu yang bersangkutan bisa memanfaatkan dan menikmati keheningan. Tahu kapan perlu berhenti, kapan kata-kata tak berguna dan memastikan bahwa pesan bisa jelas disampaikan justru tanpa suara adalah kemahiran tingkat tinggi yang membutuhkan kepercayaan diri. Keheningan menjadi jeda yang efektif untuk membantu semua pihak berpikir lagi, menginvestasikan waktu pada gagasan dan ide selama diskusi, menghayati pesan persuasi di saat orasi.
Tidak ada rahasia dalam menumbuhkan dimensi kompetensi komunikasi kita, yang seringkali menghambat di sekolah maupun karier adalah kurangnya umpan balik dan kesempatan mempraktikkannya. Jebakan pola komunikasi lama lebih sering dicontohkan dalam proses pengajaran dan pengasuhan, juga antara atasan dan bawahan, sehingga yang kita biasakan justru bentuk komunikasi tak efektif dan yang kita kuatkan adalah komunikator yang juga gagal menjadi kolaborator yang efektif. Butuh usaha berkelanjutan, uji coba dan perbaikan untuk mencapai kemahiran - tetapi dimensi kompetensi ini jelas punya developability yang sangat tinggi untuk diimplementasikan di pendidikan.

