Konten dari Pengguna

Wawancara Kerja yang Mengubah Hidup

Najelaa Shihab
Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
5 Agustus 2021 17:12 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Wawancara Kerja yang Mengubah Hidup
Rekrutmen adalah proses berkelanjutan yang dampaknya akan menentukan keberhasilan misi pribadi dan misi organisasi dalam jangka panjang.
Najelaa Shihab
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
7 Tanda Anda Akan Diterima Kerja Setelah Interview. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
7 Tanda Anda Akan Diterima Kerja Setelah Interview. Foto: Shutterstock
Tanggung jawab utama dari pemimpin organisasi adalah menemukan tim kerja yang punya cita yang sama dan cara serupa yang dipercaya efektif untuk mencapainya. Rekrutmen tak boleh dilihat sebagai masalah atau tahapan dalam organisasi yang harus selesai dalam periode tertentu. Rekrutmen adalah proses berkelanjutan yang dampaknya akan menentukan keberhasilan misi pribadi dan misi organisasi dalam jangka panjang. Wawancara kandidat yang ingin mengambil peran tertentu, selalu jadi aktivitas paling saya nanti di jadwal pekerjaan.
Sama seperti yang diwawancara, yang perlu persiapan prekondisi, sebagai pewawancara, saya juga punya metode khusus yang teruji. Terlebih lagi, saya biasanya orang terakhir yang ditemui kandidat sebelum keputusan diberikan. Tujuannya buat saya selalu jelas, memastikan bahwa siapapun yang jadi teman dalam perjalanan adalah lingkaran profesional yang punya kompetensi lebih dari saya di bidang yang akan digeluti, bisa berkolaborasi dan saling melengkapi tim lain yang sudah jadi bagian awal di organisasi.
Ada rangkaian pertanyaan yang selalu saya siapkan, ada urutan yang sistematis dari pengalaman saya memahami pola percakapan, tetapi saya selalu memastikan bahwa porsi berbicara kandidat jauh lebih banyak daripada porsi saya menjelaskan. Mengamati dan mendengarkan adalah keterampilan esensial pewawancara yang sering dilupakan dalam konteks rekrutmen kita.
Sebelum pertemuan dengan kandidat, saat membaca resume yang bersangkutan dan memahami deskripsi posisi yang dibutuhkan, saya dengan sengaja membuat perbandingan dengan tim lain yang sudah menjalankan peran serupa di organisasi sebelumnya. Kemampuan untuk memilih karakteristik mana yang akan berpengaruh signifikan dalam mendiferensiasi calon yang sekadar mampu dengan calon yang “luar biasa keren”, muncul dari pengalaman komprehensif tentang tingkah laku apa yang dipraktikkan konsisten oleh pekerja ulung di lapangan.
Ada beberapa pertanyaan kunci yang membantu saya dalam merekomendasikan kandidat terbaik untuk organisasi. Memahami dari mana kandidat tahu tentang lowongan ini, memberikan informasi awal yang esensial tentang seberapa proaktif sikapnya dan apakah ada rekomendasi tambahan yang berguna untuk melihat reputasinya. Saya juga selalu bertanya apakah lamaran diajukan ke tempat yang berbeda dan faktor apa yang menyebabkan bekerja di sini akan menjadi pilihan utama. “Hal apa yang tak akan bisa dilakukan di organisasi apapun di dunia, kecuali bila ikut bergabung menjadi tim Karier.mu atau Sekolah.mu?” misalnya. Bukan hanya dapat gambaran yang lebih detail tentang motivasi, tetapi diskusi ini selalu membuat saya punya lebih banyak empati untuk memahami latar belakang konteks kandidat ini.
Capaian dalam karier yang paling membanggakan, biasanya adalah bagian dari wawancara yang oleh kandidat paling dinantikan. Portfolio atau daftar prestasi memang perlu disiapkan, tetapi saya selalu mengklasifikasi kandidat ke dalam kelompok yang berbeda, tergantung apakah fokus penjabarannya mendeskripsikan keberhasilan personal, target tim atau reputasi organisasi. Tak ada yang salah dengan semua jenis jawaban di atas, tapi lagi-lagi, respons yang bersangkutan menunjukkan apa yang menjadi fokus dalam perjalanan kariernya dan bagaimana ia melihat interdependensi perannya. Dengan pemantik tadi, saya biasanya bertanya lebih jauh berkait tujuan karier, 1 sampai 3 tahun mendatang, bahkan 20-30 tahun ke depan (jangan kaget kalau saya tak hentinya mengingatkan tentang maraton panjang di pendidikan! :))
Sekali lagi, rekrutmen dan menumbuhkan individu di organisasi adalah bagian dari misi yang berkelanjutan, di titik wawancara ini, biasanya saya sudah ada bayangan apakah kandidat adalah seseorang yang akan cocok untuk bekerja bersama di saat ini, atau mungkin perlu menunggu beberapa waktu lagi atau bahkan ada di siklus yang berbeda dengan posisi organisasi dan tak cocok bersama kami. Banyak contoh nyata di mana saya menunggu lebih dari 5 tahun, atau yang bersangkutan melewati lebih dari 3x wawancara dengan saya di organisasi berbeda sebelum akhirnya bisa bekerja bersama—semata karena hierarki jenjang dan tujuan kariernya baru pas setelah berdialog sekian lama.
Sebagai CEO di organisasi, saya juga sangat percaya bahwa tugas terpenting dalam wawancara adalah memastikan kesamaan nilai dan penguatan budaya organisasi. Deteksi tentang nilai seringkali sulit dilakukan dalam waktu wawancara yang singkat. Strateginya, pancing jawaban otentik dengan refleksi spesifik yang berkait emosi. “Siapa murid favorit Anda?” contohnya, menarasikan apa yang diapresiasi dari interaksi dan selalu memberi kesempatan mencari tahu paradigma yang dimiliki. Seringkali saya juga meminta kandidat memaparkan bagian apa yang tidak disukainya dari pekerjaan yang hendak dilamarnya. Perspektif mencari tahu “apa yang dihindari” ini, membantu mengetahui ekspektasi kandidat sekaligus apakah ia akan siap menghadapi tantangan beradaptasi. Banyak sekali kasus di mana semua yang tak diinginkan oleh kandidat adalah hal-hal yang juga akan ditemukannya di tempat baru. Kesediaan kandidat perlu diimbangi dengan keterbukaan kita untuk “membocorkan” hal-hal mengagetkan apa yang biasanya ditemui anggota tim baru.
Kandidat yang membayangkan bahwa mengajar adalah menghabiskan mayoritas waktu bersama anak, akan selalu tak siap saat menyadari bahwa kolaborasi dalam merencanakan kegiatan dengan teman sejawat, dokumentasi asesmen dengan penuh tanggung jawab adalah bagian yang akan menyita (lebih) banyak waktu dalam pekerjaan. Di bagian ini saya juga biasanya langsung mencoret kandidat yang menceritakan hal negatif tentang perusahaan sebelumnya dengan sudut pandang sebagai korban yang lemah. Tentu ada puluhan faktor valid yang memengaruhi ketidakcocokan tempat kerja dengan kita, tetapi ada ratusan faktor lainnya yang menuntut kita untuk keluar dari situasi sulit dengan rasa berdaya.
Di antara sekian banyak tek-tokan tanya jawab, pertanyaan yang paling saya nantikan jawabannya justru “Apakah ada yang ingin Anda tanyakan pada saya?” Wawancara paling berkesan selalu ditandai dengan kandidat yang mengajukan pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh siapapun kecuali saya. Kombinasi antara pendekatan personal dan substansi yang dalam, selalu mempesona. “Interogasi” yang intrusif atau apapun yang terasa sebagai “pop up quiz” akan membuat enggan menjawabnya. Pertanyaan elaboratif dari bahan tentang organisasi yang sudah dibaca sebelumnya, pertanyaan detail tentang sejarah atau tentang target, ide proyek atau saran pengembangan selalu bagaikan durian runtuh untuk saya. Di tahapan ini, keunikan seorang kandidat, potensinya atau bahkan kontribusi instannya bagi organisasi akan terlihat nyata.
Bonus akhir wawancara dengan saya? Di tempat yang sama, selalu langsung saya berikan umpan baliknya (bahkan kadang kala langsung keputusan rekrutmennya). Mencari kerja dan mencari teman kerja adalah investasi proses dan waktu yang berharga, yang perlu direfleksikan bersama dan hasilnya tak perlu mengejutkan untuk salah satunya. Kandidat punya hak untuk tahu hasil asesmen dan mengapanya, sebagaimana saya juga berhak tahu apakah ada keinginan yang berubah dari pelamar setelah percakapan dengan pemimpin organisasi yang ditujunya. Kehadiran kedua pihak di wawancara, kecocokan persepsinya tentang interaksi pertama akan sangat menentukan kualitas relasi selanjutnya. Saya bahkan punya pengalaman mengubah keputusan dan jadi berbalik membujuk kandidat habis-habisan setelah saya melihat reaksinya atas ulasan wawancara saya. Bukan hanya menerima dengan terbuka, semenit sesudahnya, perempuan muda luar biasa ini menyatakan apa yang akan dilakukannya, bahkan memberikan usulan tentang buku yang menarik untuk dibaca berkait topik penting saat wawancara.
Gugup atau lancar, gagal atau diterima, bukan hanya itu kesimpulan dari proses wawancara kerja. Semua kompetensi kita sedang diuji di dunia nyata bukan hanya oleh yang mewawancarai tetapi oleh diri kita sendiri. Semoga Tuhan mempermudah setiap langkah kita yang mencoba menemukan tempat berkarya, kita yang menyediakan lapangan kerja dan juga memberkahi upaya kami di Karier.mu untuk menguatkan simpul yang mempertemukan kedua pihaknya. #merdekaberkarier #merdekaberkarya
Ilustrasi Wawancara Kerja Online. Foto: Shutterstock
Trending Now