Konten dari Pengguna
Apem Pemalang: Kue Tradisional dengan Rasa Manis dan Filosofi yang Mendalam
20 Oktober 2025 19:00 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Apem Pemalang: Kue Tradisional dengan Rasa Manis dan Filosofi yang Mendalam
Apem Pemalang, kue tradisional berbahan tepung beras dan gula merah, memiliki cita rasa manis legit. Biasanya dijual di pasar tradisional dan menjadi simbol kuliner khas daerah Wanarata.Najwa Petrina Dewi
Tulisan dari Najwa Petrina Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika kamu berkunjung ke Kota Pemalang, jangan hanya fokus pada pantai Widuri atau sate loso. Di balik kesederhanaan kota ini, terdapat satu makanan tradisional yang memiliki rasa manis sekaligus membawa makna yang dalam, yaitu Apem Pemalang. Kue bulat yang lembut ini bukan hanya enak, tetapi juga kaya akan filosofi dan cerita budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Nama "apem" tidaklah sembarangan. Kata ini diyakini berasal dari bahasa Arab βafwunβ yang berarti pengampunan. Apem Pemalang dipercaya berasal dari abad ke-19, saat pedagang Tionghoa datang ke Pemalang dan membawa serta resep kue apem mereka. Kue apem Tionghoa ini terbuat dari tepung beras, gula aren, dan ragi. Adonan dibiarkan mengembang sebelum dikukus hingga matang. Hasilnya adalah kue yang empuk dengan aroma yang wangi dan rasa manis yang khas. Seiring waktu, resep ini diadaptasi oleh masyarakat Jawa yang tinggal di Pemalang.
Tak heran jika apem sering hadir dalam berbagai acara tradisional seperti slametan, sedekah bumi, atau menjelang bulan Ramadan. Membuat dan membagikan apem menjadi cara masyarakat Pemalang untuk saling memaafkan dan mendoakan kebaikan. Dalam setiap gigitan apem, tersimpan pesan sederhana: mari saling memaafkan dan berbagi kebaikan.
Saat ini, pengemasan apem sudah lebih modern. Mereka membuat versi mini, menambahkan warna pastel yang menarik seperti warna pink, atau menjualnya secara daring. Kreativitas ini membuat apem tidak hanya menjadi makanan tradisional tetapi juga simbol kuliner yang relevan di dunia digital saat ini.
Namun, apem Pemalang lebih dari sekadar makanan. Ia mewakili kehangatan, silaturahmi, dan nilai-nilai kebaikan yang hidup dalam masyarakat. Dalam setiap proses pembuatannya, ada semangat gotong royong dan rasa kebersamaan yang kuat. Mungkin itulah yang membuat apem tetap bertahan sampai sekarang karena ia bukan hanya mengenai rasa, tetapi juga tentang cerita dan makna di baliknya.
Di tengah maraknya makanan modern, keberadaan Apem Pemalang mengingatkan kita untuk tidak melupakan budaya kita sendiri. Melalui rasa manis dan tradisi yang hangat, apem seolah berujar: βKita boleh modern, tetapi jangan lupakan tradisi yang menjadikan kita seperti sekarang. β Jadi, jika suatu saat kamu mengunjungi Pemalang, jangan lewatkan untuk mencicipi apem hangat di pasar tradisional. Siapa tahu, dari gigitan pertamamu, kamu tidak hanya menemukan rasa, tetapi juga kenangan dan makna yang abadi.

