Konten dari Pengguna
Tanpa Kata Tapi Menyakitkan: Bahaya Bullying Non-Verbal di Sekitar Kita
10 November 2025 15:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tanpa Kata Tapi Menyakitkan: Bahaya Bullying Non-Verbal di Sekitar Kita
Bullying non-verbal adalah kekerasan tanpa kata seperti tatapan sinis, pengucilan, atau tawa ejekan yang bisa melukai mental korban dan meninggalkan trauma mendalam tanpa disadari.Najwa Petrina Dewi
Tulisan dari Najwa Petrina Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bullying tidak selalu berbentuk hinaan atau kekerasan fisik. Ada bentuk perundungan yang lebih halus, tak bersuara, tapi menyakitkan bullying non-verbal. Jenis perundungan ini terjadi lewat tatapan, gestur, hingga pengabaian sosial. Tak ada kata-kata kasar, namun luka batinnya bisa bertahan lama.
Bayangkan seorang siswi SMA yang setiap kali berjalan ke kelas selalu disambut tawa kecil dan lirikan tajam dari teman-temannya. Ia tidak pernah disakiti secara langsung, tapi selalu merasa tidak diinginkan. Setiap kali ia ingin bergabung dalam kelompok belajar, semua berpura-pura sibuk. Akhirnya, ia memilih diam dan menyendiri. Tak lama, prestasinya menurun, dan semangatnya hilang. Inilah bentuk nyata dari kekerasan tanpa suara yang sering kali tak dianggap serius.
Kasus serupa pernah viral di salah satu SMA di Jawa Tengah, di mana seorang siswi mengalami depresi karena dikucilkan teman-temannya. Tak ada ejekan langsung, tapi ia selalu ditinggalkan saat kerja kelompok, diabaikan di grup chat kelas, dan ditertawakan secara diam-diam setiap kali berbicara di depan kelas.
Guru-guru awalnya mengira itu hanya masalah pertemanan biasa, tapi setelah siswi itu mengalami gangguan kecemasan dan akhirnya pindah sekolah, barulah disadari bahwa itu bentuk bullying non-verbal sistematis.
Kasus ini menunjukkan bahwa bullying tak selalu butuh suara lantang untuk melukai. Kadang, cukup dengan tatapan, diam, dan pengabaian, seseorang bisa dibuat merasa tak berharga.
Dampak dari bullying non-verbal sangat serius. Korban sering mengalami rasa malu, cemas, minder, bahkan trauma sosial. Mereka merasa tidak aman berada di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat belajar dan berkembang.
Menurut sejumlah penelitian psikologi, korban bullying non-verbal berisiko mengalami depresi dan isolasi sosial yang lebih tinggi dibanding korban bullying verbal, karena bentuk ini sulit dideteksi dan jarang mendapatkan pembelaan dari orang lain.
Yang lebih ironis, banyak pelaku bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan kekerasan. Mereka menganggap tindakannya sekadar bercanda atau tidak suka saja, padahal dampaknya bisa menghancurkan kepercayaan diri seseorang secara perlahan.
Yang lebih berbahaya dari pelaku bullying adalah orang-orang yang diam melihatnya. Saat kita melihat teman dikucilkan tapi memilih tidak peduli, kita sebenarnya ikut memperkuat lingkaran kekerasan itu.
Kita sering membicarakan pentingnya empati, tapi dalam praktiknya, masih banyak yang menertawakan orang yang berbeda, menjauh dari yang tidak populer, atau bahkan ikut diam-diam menolak keberadaan seseorang.
Kampus atau sekolah bukan sekadar tempat mencari nilai, tapi juga tempat belajar menjadi manusia yang berempati. Bullying non-verbal terjadi karena budaya diam yang dianggap aman padahal justru memelihara ketidakadilan sosial dalam bentuk yang halus.
Bullying non-verbal adalah bentuk kekerasan yang sering luput dari perhatian karena tidak meninggalkan bekas fisik. Namun luka batinnya bisa jauh lebih dalam dan lama sembuhnya.
Sebagai sesama manusia, kita perlu lebih peka terhadap ekspresi diam, tatapan tajam, atau sikap menjauh yang mungkin sedang menyakiti seseorang. Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan kata-kata yang diucapkan tapi kehadiran yang diabaikan.

