Konten dari Pengguna
Tersesat di Tren: Mahasiswa yang Kehilangan Arah Akademik
12 November 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Tersesat di Tren: Mahasiswa yang Kehilangan Arah Akademik
Banyak mahasiswa kini lebih sibuk membangun citra dan gaya hidup daripada mengejar ilmu. Demi gengsi, mereka lupa bahwa tujuan utama kuliah adalah belajar dan membentuk masa depan.Najwa Petrina Dewi
Tulisan dari Najwa Petrina Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa seharusnya menjadi masa penuh eksplorasi, pencarian jati diri, dan perjuangan untuk menimba ilmu. Namun, kini fenomena yang sering kita temui di kampus justru berbeda, banyak mahasiswa lebih sibuk membangun citra daripada membangun pengetahuan. Gaya hidup, penampilan, dan status sosial kerap menjadi tolok ukur “kesuksesan” di bangku kuliah, menggantikan semangat belajar yang sejatinya menjadi tujuan utama.
Di era media sosial, tekanan untuk tampil sempurna semakin besar. Foto di kafe mahal, outfit branded, hingga gaya hidup “estetik” seolah menjadi keharusan agar diakui sebagai mahasiswa keren. Tak sedikit yang rela menghabiskan uang bulanan hanya demi memenuhi standar tersebut bahkan sampai lupa bahwa tujuan utama datang ke kampus bukan untuk pamer, melainkan untuk belajar dan berkembang.
Fenomena ini tak hanya mencerminkan masalah individu, tapi juga budaya masyarakat yang semakin menilai seseorang dari “apa yang tampak”, bukan dari kemampuan dan integritasnya. Akibatnya, nilai akademik sering diabaikan, waktu belajar tergantikan dengan nongkrong, dan masa kuliah yang seharusnya produktif justru habis untuk mengejar validasi sosial.
Misalnya, sebuah studi di Universitas Muhammadiyah Makassar menemukan bahwa variabel gaya hidup (lifestyle) dan uang saku mahasiswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa: gaya hidup memiliki nilai sig = 0,000 dan t-hitung = 4,003; uang saku juga signifikan dengan t-hitung = 8,864. Artinya, mahasiswa dengan uang saku lebih besar dan yang mengikuti gaya hidup tinggi cenderung mengalokasikan uangnya untuk membeli kebutuhan sekunder, nongkrong di kafe, atau pakaian branded dibandingkan untuk kebutuhan akademik.
Data lain menunjukkan bahwa rata-rata uang saku mahasiswa di asrama berada di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta per bulan dan studi menyimpulkan bahwa gaya hidup konsumtif melemahkan efek positif literasi keuangan dalam mengelola keuangan pribadi. Kasus ini mengilustrasikan bahwa bukan hanya “ingin bergaya” yang menjadi masalah, tetapi juga ketidakseimbangan antara pengeluaran gaya hidup dan prioritas akademik ketika pengeluaran konsumtif tinggi, maka alokasi waktu dan dana untuk belajar bisa terabaikan.
Padahal, dunia kerja kelak tidak peduli seberapa trendi pakaianmu atau seberapa sering kamu update story di coffee shop. Dunia profesional menuntut kompetensi, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan gaya, tapi dibentuk melalui proses belajar yang sungguh-sungguh.
Menjadi mahasiswa bukan berarti tidak boleh bergaya atau bersosialisasi. Namun, keseimbangan adalah kuncinya. Gaya hidup memang penting untuk mengekspresikan diri, tetapi ilmu dan karakterlah yang akan membangun masa depan. Jangan sampai gengsi menutup jalan menuju kesuksesan yang sebenarnya.

