Konten dari Pengguna
Belajar Mandiri: Perjalanan Mahasiswa Baru Menemukan Perannya
8 Desember 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Belajar Mandiri: Perjalanan Mahasiswa Baru Menemukan Perannya
Kampus bukan cuma tempat mengejar IPK. Mahasiswa baru juga menemukan jati diri dan belajar jadi warga negara dewasa lewat deadline, uang jajan, dan toleransi kamar kos. #userstoryNajwa Salma
Tulisan dari Najwa Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa baru, saya sering merasa bahwa dunia kampus adalah ruang yang luas sekaligus membingungkan. Segalanya terasa baru: lingkungan, ritme belajar, cara berinteraksi, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang selalu saya rasakan—bahwa apa yang saya alami tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sebagai pelajar, tetapi juga sebagai warga negara muda. Kampus ternyata bukan hanya tempat belajar mata kuliah, melainkan juga tempat di mana saya mulai memahami siapa saya dan bagaimana saya hidup di tengah masyarakat.
Hal pertama yang paling sering saya rasakan adalah kebingungan menghadapi sistem perkuliahan yang jauh berbeda dengan sekolah. Tidak ada lagi guru yang mengingatkan deadline, tidak ada lagi jadwal belajar yang teratur dari pagi sampai siang. Semua bergantung pada diri saya sendiri. Pada awalnya, saya sempat merasa kewalahan karena terlalu bebas.
Saya harus belajar mengatur waktu agar tidak tertinggal materi, memilih mana kegiatan yang benar-benar penting dan berusaha bertanggung jawab atas keputusan saya sendiri. Di titik ini, saya mulai mengenali arti “kemandirian”—bukan hanya sebagai tuntutan kampus, melainkan juga sebagai nilai kewarganegaraan.
Saya belajar bahwa menjadi warga negara berarti mampu mengelola diri, membuat pilihan yang tidak merugikan orang lain, dan bersikap dewasa meskipun prosesnya tidak selalu mudah.
Sebagai mahasiswa baru, saya juga melihat bagaimana pertemanan menjadi aspek penting dalam kehidupan kampus. Di sekolah, teman mungkin berasal dari lingkungan yang seragam, tetapi di kampus saya bertemu orang-orang dari berbagai kota, budaya, kebiasaan, dan cara berpikir.
Pada awalnya saya canggung, takut salah bicara, bahkan takut dianggap aneh. Namun, perlahan saya menyadari bahwa keberagaman ini justru membuat saya belajar banyak hal. Saya mulai memahami bahwa kebinekaan bukan hanya materi hafalan di pelajaran PPKn, melainkan realitas yang saya temui setiap hari. Ada teman yang cara bicaranya berbeda, ada yang pola pikirnya lebih tegas, ada yang lebih santai, dan semuanya normal. Saya belajar bahwa menghargai perbedaan adalah bagian penting dari hidup sebagai warga negara.
Dalam proses pertemanan itu, saya juga teringat bahwa sikap toleran tidak hanya berlaku pada hal besar seperti agama atau suku, tetapi juga dalam hal kecil. Misalnya, cara orang menata kamar kos, kebiasaan makan, jam tidur, atau cara bercanda.
Dari hal-hal sederhana itu saya belajar untuk menahan ego, memahami bahwa tidak semua orang harus seperti saya, dan menjalin hubungan yang sehat tanpa memaksakan standar pribadi. Pelajaran semacam ini mungkin tidak tertulis di buku, tetapi sangat terasa dampaknya terhadap bagaimana saya bersikap sebagai bagian dari komunitas.
Kehidupan kampus juga membuat saya berhadapan dengan masalah sederhana, tetapi cukup menguras pikiran: mengatur uang jajan. Sebagai mahasiswa baru yang belum bekerja, saya harus belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ada masa ketika saya terlalu sering ikut makan di luar bersama teman, lalu menyesal di akhir bulan.
Ada saat ketika saya tidak enak hati menolak ajakan nongkrong padahal uang saya tinggal sedikit. Dari situ saya belajar bahwa kedewasaan bukan hanya soal umur, tetapi soal kemampuan mengatur diri sendiri. Hal ini mengingatkan saya bahwa sebagai warga negara, saya harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kecil yang saya buat setiap hari.
Di kampus, saya juga melihat fenomena yang cukup menarik: kecenderungan mahasiswa untuk memposting segala sesuatu di media sosial. Dari kelas pertama, tugas kelompok, kegiatan organisasi, sampai keluhan tentang dosen, semuanya dengan cepat muncul di linimasa. Sebagai mahasiswa baru, saya sempat ikut-ikutan. Rasanya menyenangkan bisa bercerita dan mendapat perhatian. Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa tidak semua hal sebaiknya dibagikan.
Ada hal yang seharusnya menjadi ruang privat, ada yang harus dipikirkan matang-matang sebelum diposting, dan ada juga informasi yang jika disebarkan tanpa pengecekan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Di sini saya belajar bahwa tanggung jawab digital adalah bagian dari kewarganegaraan masa kini. Menjadi warga negara tidak hanya tentang mengikuti aturan negara, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan ruang digital dengan bijak.
Pengalaman lain yang membentuk cara pikir saya sebagai mahasiswa baru adalah melihat dinamika di organisasi kampus. Saya belum aktif terjun, melainkan saya memperhatikan bagaimana senior berdiskusi, merencanakan kegiatan, atau memecahkan masalah.
Ternyata organisasi bukan sekadar tempat mencari pengalaman, melainkan juga ruang belajar demokrasi. Ada proses musyawarah, ada keputusan yang harus diterima bersama, dan ada konflik yang harus diselesaikan tanpa saling menjatuhkan. Meskipun saya belum terlibat langsung, saya bisa merasakan bahwa semua proses itu mencerminkan bagaimana masyarakat bekerja. Dari situ saya belajar bahwa setiap orang memiliki peran, pendapat, dan kontribusi yang harus dihargai.
Yang paling membuat saya terkesan selama menjadi mahasiswa baru adalah semangat saling membantu di antara kami. Ketika ada yang tidak memahami materi, teman lain dengan senang hati menjelaskan. Ketika ada yang kesulitan biaya fotokopi, teman sekelompok merelakan untuk meminjamkan.
Ketika ada yang homesick, semua mendengarkan tanpa menghakimi. Solidaritas kecil seperti ini membuat saya merasa bahwa Indonesia yang beragam ini sebenarnya sangat kaya akan nilai gotong royong—nilai yang sering disebut di kelas, tetapi kini benar-benar saya lihat dalam tindakan nyata.
Dari semua pengalaman yang saya jalani, saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa baru bukan hanya tentang mengenal kampus, melainkan mengenal diri sendiri sebagai warga negara muda. Setiap interaksi, keputusan, dan kebiasaan kecil yang saya lakukan ternyata membentuk cara saya melihat masyarakat.
Saya belajar untuk mandiri, menghargai perbedaan, mengatur diri, bertanggung jawab dalam bermedia sosial, dan ikut menjaga harmoni di lingkungan saya. Kampus mungkin terasa sebagai dunia baru, tetapi justru di ruang itulah saya mulai belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa—bukan hanya sebagai mahasiswa, melainkan sebagai bagian dari bangsa.
Jika di masa depan saya menemukan tantangan yang lebih besar, saya percaya pengalaman sederhana sebagai mahasiswa baru ini akan menjadi dasar penting untuk menjalani kehidupan kewarganegaraan yang lebih matang.

