Konten dari Pengguna

Ketidakadilan Perempuan Kepala Rumah Tangga: Realita Berat di Balik Peran Ganda

Najwa Salsabila
Mahasiswi Universitas Jember Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial
8 Desember 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketidakadilan Perempuan Kepala Rumah Tangga: Realita Berat di Balik Peran Ganda
ketidakdilan perempuan karena memiliki peran ganda tetapi tetap di stigma , namun realita dibalik peran ganda sangat berat
Najwa Salsabila
Tulisan dari Najwa Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi warga menjual dan membeli makanan di pasar (sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi warga menjual dan membeli makanan di pasar (sumber: dokumentasi pribadi)
Pada saat pertama kali saya berkunjung dan menginjakan kaki di rumah salah warga yang ada di kabupaten Situbondo, terdapat rumah yang memiliki penghuni beranggotakan 5 orang dengan sedarah. Saya melihat sosok perempuan yang menjalani peran ganda dengan sangat berat tetapi tetap tegar, bukan hanya sebagai seorang ibu rumah tangga tetapi sekaligus sebagai tulang punggung keluarga.
Sekian banyak rumah dan keluarga yang saya kunjungi khususnya keluarga atau warga yang memiliki ketidakberfungsian keluarga dengan optimal di kabupaten Situbondo. Saya menemukan ketidakberfungsian terhadap kepala keluarga atau ayah dimana perempuan mengambil ahli tanggung jawab tidak hanya mengurus rumah dan anak tetapi juga mencari nafkah demi bertahan hidup keluarga.
Tempat yang saya kunjungi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur tersebut merupakan keluarga-keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi rendah dan juga sederhana yang mengakibatkan perempuan ini juga harus bekerja keras dan sering kali tanpa dukungan penuh dari suami atau kepala keluarga yang seharusnya menjadi sandaran utama dalam keluarga.
Realita ini bukanlah hal yang langka, banyak sekali perempuan di linhkungan sekitar mengalami situasi serupa dimana atau kepala keluarga tidak berfungsi secara sosial dan juga ekonomi, entah karena meninggal, sakit atau bahkan pengangguran sehingga tanggung jawab ekonomi dan pengasuhan sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Perempuan seperti ibu yang saya temui disebuah rumah di Kabupaten Situbondo ini seringkali dianggap kurang mampu atau bahkan disalahkan atas kondisi keluarganya.
Ketidakberfungsian pada kepala keluarga bukan hanya menjadi masalah pribadi tetapi dampak yang terjadi pada seluruh anggota keluarga, dikarenakan anak-anak menjadi kurang mendapatkan perhatian dan pengasuhan secara optimal karena ibu harus membagi waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam keluarga, dibalik ini semua masih ada stigma sosial yang melekat
Ilustrasi ibu sedang bekerja dan merawat anak (sumber: dokumentasi pribadi)
Stigma negatif terhadap keluarga ini semakin berat karena masyarakat dan lingkungan sekitar menganggap bahwa ketika kepala keluarga tidak berfungsi maka keluarga tersebut dianggap "bermasalah" yang dimana stigma ini dapat menambah tekanan bagi perempuan.
Perempuan sebagai kepala keluarga menurut saya memerlukan perhatian khusus baik dalam bentuk perlindungan sosial maupun penghargaan akan peran ganda mereka dalam membangun keluarga, seperti akses modal usaha, bantuan sosial yang tepat sasaran serta program pemberdayaan perempuan harus diperkuat untuk mengurangi ketidakadilan yang mereka hadapi saat ini.
Melihat langsung dari kisah nyata yang pernah saya lihat, penting bagi kita untuk menghapus stiga dan memperluas perspektif masyarakat serta pengakuan atas perjuangan perempuan dalam memerankan peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah sebagai cerminan kesetaraan dan keadilan gender. Memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang dan mendapatkan perlindungan sosial bukan hanya soal kebaikan tetapi juga hak asasi yang harus diperoleh setiap warga negara.
Trending Now