Konten dari Pengguna
Abah Kumuh: Proklamator Pendidikan Bangsa
20 Juli 2025 9:24 WIB
Ā·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Abah Kumuh: Proklamator Pendidikan Bangsa
Tulisan ini berisi tentang pentingnya pesan Abah (Kyai) bagi Santri sebagai pengawal kemajuan bangsa IndonesiaNana Meily Nurdiansyah
Tulisan dari Nana Meily Nurdiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Latar Belakang
Indonesia merdeka sudah lebih kurang 79 Tahun sejak kemerdekaan diraih pada tahun 1945 kita telah memperingatinya dengan penuh suka cita, haru, senang dan bahagia tercurah dalam satu kemasan yang harmoni dalam melodi, kunci mayor dan minor kita nikmati, dengan berbekal para semangat juang leluhur untuk dapat memberikan peradaban yang harus dijaga, dan dirawat melalui proklamasi yang disampaikan Bung karno kala itu. Jika ditelusuri pembacaan teks proklamasi tersebut sesungguhnya memberikan dampak values kehidupan yang saling asih, asah, dan asuh. Values yang menunjukkan eksistensi peradaban nyata bagi masyarakat luas di Indonesia sehingga Indonesia merupakan Negara yang sangat menjujung norma kebaikan dalam pelbagai aspeknya dengan ragam budaya, ras dan sebagainya.
Perihal di atas mengisyaratkan bahwa kita semua sebagai bangsa yang maju harus dapat mewujudkan sebagaimana tersirat, mengingat secara usia bangsa yang sudah melewati usia dewasa ini harus benar-benar memberikan kontribusi nyata kepada founding father/pejuang terdahulu dan kontemporer, bahwa tugas kita belum selesai. Disadari, tidak mudah memang hal ini untuk diperjuangkan sekalipun negara ini sudah Merdeka, mengingat bahwa pelbagai macam temuan dilapangan menyatakan bahwa masih ada terjadinya pertama, ketimpangan; kedua, ketidakadilan; ketiga, supermasi hukum; keempat, oligarki kekuasaan; kelima, harga kebutuhan yang semakin meroket (primer & sekunder); keenam, ekonomi kerakyatakan yang tidak merakyat dan; ketujuh, Pendidikan yang mengalami kemunduran bahkan berorientasi pada bisnis bukan merangkul untuk dan semua golongan. Belum lagi ditunjang dengan data tingkat pengangguran di Indonesia dengan beberapa indicator tingkat Pendidikan diantaranya: pertama, tidak/belum pernah sekolah/belum tamat dan tamat SD tahun 2019 sebesar 2,39%, tahun 2020 sebesar 3,61%, dan tahun 2021 sebesar 3,61%; kedua, Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2019 sebesar 4,72%, tahun 2020 sebesar 6,46%, dan tahun 2021 sebesar 6,45%; ketiga, Sekolah Menengah Atas-Umum (SMA Umum) tahun 2019 sebesar 7,87%, tahun 2020 sebesar 9,86%, dan tahun 2021 sebesar 9,09%; keempat, Sekolah Menegah Atas-Kejuruan (SMA Kejuruan-SMK) tahun 2019 sebesar 10,36%, tahun 2020 sebesar 13,55%, dan tahun 2021 sebesar 11,13%; kelima, Diploma I/II/III tahun 2019 sebesar 5,95%, tahun 2020 sebesar 8,08%, dan tahun 2021 sebesar 5,87% dan; keenam, Universitas tahun 2019 sebesar 5,64%, tahun 2020 sebesar 7,35%, dan tahun 2021 sebesar 5,98%. (BPS Tingkat Pengangguran; Survei Angkatan Kerja Nasional-SAKERNAS).
Alih-alih berkaca pada temuan-fakta masalah diatas, seyogyanya menjadi perhatian bagi seluruh pemangku policy dan seluruh rakyat Indonesia untuk dapat menjaga kualitas hidup dengan menjungjung tinggi sikap ke-bersama-an, ke-gotong royong-an, ke-keluarga-an, ke-kompok-kan sebagai bentuk kebutuhan dan bukan sebagai sebuah keniscahyaan keinginan belaka, sebagaimana Islam memberikan petunjuk yang demikian. Beri dan sokong melalui pelbagai kegiatan, pelatihan, penguatan hidup (physical and spiritual) sebagai bentuk bekal dan pendampingan keterampilan bagi semua untuk mendongkrak pelbagai indicator tersebut.
Adanya norma diatas yang kemudian menjadi literatur relevan sebagai sebuah teori yang harus dan memang dikembangkan dan dimplementasikan yaitu bagian dari pada konsep tentang pendidikan Sosial yang diperkuat melalui sila ke-5 berbunyi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia (Saihu, 2020). Diketahui Banyak para tokoh pendidikan (akademisi, ulama) memberikan pandangan diantaranya: pertama, pendidikan sosial merupakan pendidikan yang memberikan dampak memengaruhi manusia pembelajar menunjukkan sikap sosial termasuk pengembangan dalam implementasi dengan lingkungannya; kedua, membentuk dan menanamkan dalam diri seseorang melalui bimbingan yang terarah sehingga tercipta jiwa yang sehat (sehat Jasmani dan Rohani) (Abdul Hamid al-Hasyimi, 2001) dan; ketiga, mendidik manusia sejak kecil tentang perilaku sosial tumbuh melalui sikap teladan (pembiasaan) (Abdullah Nasikh Ulwan, 1981). Lebih lanjut Abdullah Nashih Ulwan juga merumuskan pendidikan sosial dalam Islam adalah pendidikan yang diberikan sejak dini melalui pembiasaan perilaku dan informasi yang didapat untuk kemudian diimplementasikan melalui kehidupan sehari-hari berlandaskan psikis yang baik dengan merujuk pada aqidah al-Islamiyah sehingga dalam dirinya terbiasa menunjukkan perilaku yang bijaksana melalui adab yang baik dalam pergaulan (perkataan dan perbuatan).
Dalam memelihara values sebagaimana diatas, inilah yang kemudian menjadi salah satu semangat yang membara untuk memperjuangkan Pendidikan oleh penerus bangsa, tak terkecuali semangat itu selalu diingat dan di proklamirkan Kembali oleh Abah Kumuh dalam bentuk treatment dan merawat khazanah keilmuan yang nantinya akan dikembangkan oleh anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu yang menjadi pertimbangannya adalah bangsa Indonesia yang besar dan majemuk serta unik dan menunjukkan ke-universalan-nya yang sudah merdeka jangan sampai direbut Kembali oleh para penjajah, pemberontak dsb. Buktikan bahwa kita-kalian dapat dan mampu untuk menunjukkan eksistensi diri untuk merawat, menjaga bahkan menumbuhkan dalam pelbagai aspek (Pendidikan, ekonomi, pemerintahan) melalui perjuangan bangsa yang sudah diperjuangkan. Oleh karenanya, ulasan ini tentang Abah Kumuh sebagai seorang Tokoh Kharismatik, Ulama, Kyai Besar, Pendidik, dan sebagai orang yang humble-luwes dalam menjalin hubungan lintas golongan. yang lahir dari sebuah kampung yang terkenal dengan sebutan kampung santri yang Bernama Kandang Gede tempatnya para peng-gede-basa sunda ala Tangerang (Pembesar) lahir untuk mengestafetkan pesan mulia sebagaimana bung karno dan para tokoh ulama terdahulu sampaikan.
Namun demikian, ijinkan penulis mengurai dalam perspektif pribadi sebagai seorang Anak Ideologis Penuh Hikmah dan Berkah tentang Abah Kumuh yang menurut penulis penting bagi kita semuanya mengakui dan menyetujui akan hal itu tidak lain tujuan tersebut sebagai sebuah Refleksi Abah dalam Kenangan, bahwa Abah Kumuh-lah salah satu yang menghantarkan kita menjadi seorang pribadi-manusia yang berakhlak, berkaraker, bermoral yang seperti sekarang ini apapun latar yang kita lalui, hadapi, tapi tetap istiqomah dan bersyukur terhadap apa yang menjadi keputusan Ilahi Rabbi.
Abah Kumuh: Proklamator Pendidikan Bangsa
Sebelum mengulas tentang satu subtema tentang Abah kumuh, mari sejenak kita telusuri terlebih dahulu makna dari pada kata Abah Kumuh. Menurut Penulis Kata Abah mungkin sudah tidak asing didengar bagi masyarakat nusantara, tidak terkecuali suku sunda dan jawa. Jika ditelusuri tentunya Abah memiliki bermacam makna yaitu ditunjukkan kepada orang tua dan memiliki nilai positif baik dari segi akhlak, karakter, moral atau attitude seseorang. Selain itu, memiliki padanan makna yang ditunjukkan sebagai bentuk penghargaan, penghormatan kepada orang yang dituakan, atau disepuh (tokoh-kan) masyarakat (dikalangan-nya). Bisa juga sebutan sebagai anak kepada orangtuanya, bahkan teman akrab (karib). Selanjutnya, menurut KBBI kata Abah memiliki arti arah, tujuan, sedang meng-abah-kan menunjukkan arti mengarahkan dan menunjukkan. Dengan demikian, tidak heran, kata abah ini memiliki banyak makna yang penunjukkannya pada sebuah tingkat penghormatan, dan pengakuan seorang anak kepada teladan atau seorang figure salah satunya orang tua biasa disebut dalam lingkungan pesantren adalah Abah adalah Kyai.
Selanjutnya, kata KUMUH sendiri penulis mengambil dari pada dua unsur kata yang digabungkan diantaranya aKU dan kaMU atau bahkan kita-kalian semuanya. Tapi penulis tidak akan mengurai lebih dalam kata aku dan kamu secara bahasa. Singkatnya, penjelasan dari kumuh sendiri menunjukkan bahwa Aku dan Kamu merupakan bagian dari anak-anak Abah yang tumbuh kelak untuk dapat mendo`akan, mensyiarkan kebaikan, melanjutkan kehidupan tetap dalam koridor keimanan, keislaman, dan ketaqwaan sebagai seorang anak (biologis, ideologis) santri pembelajar untuk menjadi tonggak perubahan dan kemajuan peradaban dalam pelbagai masanya.
Ideologi-ideologi abah selalu dikenang penuh akan syarat dan makna bagi anak-anaknya (santri) tidak hanya subulussalam tapi seluruh elemen masyarakat bahkan antar golongan-pandangan tentang itu. Ideologi yang diajarkan tentang bagaimana membuka cakrawala pengetahuan melalui bingkai Pendidikan, memandang hidup itu luas dan dinamis. Tetapi tetap harus kita laksanakan Bersama dengan semangat yang membara.
Estafet memproklamirkan semangat dalam pelbagai perspektif kiranya selalu Abah Kumuh tunjukkan, agar para santri memahami bahkan menjiwai (melekat dalam diri) yang berimplikasi bagi kehidupan kelak dimasa yang akan datang, hal ini sebetulnya tercermin dari pada panca jiwa pondok dan motto pondok. Abah Kumuh juga merupakan salah satu figure tokoh yang banyak menderma baktikan kehidupannya untuk kemajauan bangsa dan negara terutama dalam bidang Pendidikan. Selain abah kumuh menjadi seorang Kyai (pimpinan pesantren) Subulussalam, abah selalu menggaungkan Pendidikan sebagai aksi (bukti nyata) dan tantangan melerai terjadinya kebuta aksaraan mengurai angka putus sekolah, menghilangkan sifat kebodohan, menciptakan suasana merangkul untuk kebersamaan dengan berbagai cara beliau lakukan untuk peningkatan keilmuan masyarakat luas, salah satunya dengan mengikuti pelbagai organisasi yang tidak luput dari peningkatan Pendidikan sosial sebagai bentuk keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti kegiatan organisasi FSPP (Forum Silaturahim Pondok Pesantren, MUI (Majelis Ulama Indonesia), BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), NU (Nahdhatul Ulama) dan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur`an), serta Organisasi Kemasyarakatan lainnya. Oleh karenanya tidak heran jika Abah Kumuh disisi lain disebut sebagai Kyai Organisatoris.
Abah Kumuh menyadari bahwa dipesantren, santri dididik secara langsung oleh kyai melalui miniatur kehidupan, yang bertujuan menyantrikan intelek dan mengintelekkan santri, meninggalkan pola pikir dikotomis, dan tidak mengandalkan teori-teori kosong (Nurdiansyah, 2020). Menanamkan kemodernan sejak dini guna terciptanya pemimpin sejati, kreatif, dinamis dan futuristic, serta pencetus yang sanggup menghadapi segala resiko, bahkan seringkali berkorban dan menjadi korban kebijakan yang kebablasan, atau tidak pada waktunya. Oleh sebab itu, tidak heran dibalik semangat yang beliau sampaikan kepada santrinya jangan sampai lagi kita terjajah dan tertinggal dalam menunjukkan eksistensi santri yang berperadaban, luweslah dalam bergaul, pandailah dalam memilah dan memutuskan, janganlah kita berujar dengan berkata ASBUN (Asal Bunyi), dsb. Ini menunjukkan betapa cintainya abah kumuh kepada anak-anaknya, dan kalau kita ingat bahwa dalam sambutannya abah menyebut dengan sebutan anak-anakku atau Santriwan dan santriwati, Abah Kumuh kemudian menjelaskan tentang Santri pada umumnya yang terdiri dari lima huruf diantaranya: pertama, Syin (Sa); kedua, Nun; ketiga, Ta; keempat, Ra; kelima, Ya.
Kelima huruf diatas kiranya merupakan singkatan yang Abah Kumuh sampaikan kepada anak-anaknya seraya memberikan motivasi dan semangat untuk selalui diingat dan diimplementasikan. Adapun uraian SANTRI sebagai berikut: pertama, Syin (SÄlikun fi ad-Din) Santri harus senantiasa berjalan pada reel agama; kedua, Nun (NÄibun āAnil UlamÄā) Santri harus dapat menjadi pengganti atau penerus, kalau Ulama itu Warasathul āanbiyÄā (Pewaris para nabi) sedang santri pewarisnya para ulama; ketiga, Ta (Tarkul MÄāasi) Santri harus mampu meninggalkan perbuatan maksiat; keempat, Ra (RÄgibun fi al-ilmi) Santri harus cinta pada ilmu); dan kelima, Ya (YaqĆ®nun BiqismatillÄh) Santri harus yakin terhadap ketentuan dan ketetapan dari Allah Swt.
Melalui mimbar yang mulia itulah (pesantren atau pun diluar) Abah Kumuh selalu memperjuangkan dan memproklamirkan nilai-nilai Pendidikan dengan menjadi pembimbing, pendamping, Pembina untuk mencetuskan dan melahirkan generasi penerus bangsa dengan pelbagai ide, gagasan yang humanism, universal, dan komprehensif. Sehingga dapat diterima oleh pelbagai kalangan dan golongan.
Selain dari pada itu, Abah Kumuh juga selalu berujar tentang bagaimana eksistensi santri (kita) berprinsip untuk tidak melulu menjadi JONGOS dan abah memberikan banyak pilihan bahkan tidak mengekang untuk santri berkekspresi selama ia masih dalam koridor keislaman (kebenaran). Kalau bisa kitalah yang jadi pemimpin, pemimpin yang baik harus menguasai permasalahan, selalu banyak mengambil inisiatif, jangan menunggu perintah, melainkan ciptakanlah pekerjaan dan bukan mencari pekerjaan buat lah management-team (kelompok) yang kompak dan solid.
Abah dalam segi pembelajaran dan sambutannya selalu menunjukkan kharismatik tersendiri, sehingga dalam proses penyampaiannya selalu memberikan feedback yang baik dan memberikan semangat, membuka cakrawala pengetahuan yang luas kepada santri-santrinya. padahal disatu sisi saat itu, saya atau bahkan santri yang lain masih belum tau bahwa kehidupan diluar yang sebenarnya seperti apa, dan memang benar pandangan dari pelbagai sudut yang disampaikannya penuh makna dan perjuangan dengan seringkali di stroy telling-kan melalui mata pelajaran TÄrikh hadarah al-IslÄmiÅ·ah.
Sebagai anak, kita patut berbangga dan senang dengan semangat juang Abah Kumuh yang selalu memproklamirkan perjuangan-perjuangan terdahulu dalam pelbagai perspektifnya, bahkan tidak heran banyak diantara para sahabat, kolega, tokoh dan ulama mengagumi sosok Abah Kumuh sebagai manusia pembelajar sepanjang hayatnya. Maka, dari itulah penulis mengutarakan bahwa Abah Kumuh sebagai Proklamator Pendidikan Bangsa, siapakah beliau, beliau adalah orang tua kita semua yaitu Abah KH. Ahmad Maimun Alie, M.A. bin KH. Aliya Rafiuddin Kini abah dalam kenangan, ingatan bahkan jasa beliau sangat besar untuk kemajuan Pendidikan yang dampaknya kita rasakan bersama. Tanpa pamrih beliau merangkul, memuji dan selalu memberikan apresiasi kepada siapa pun yang berprestasi dalam pelbagai bidang. Jariyah beliau akan terus mengalir abadi bahkan bertambah infestasi jariyah tersirat oleh anak-anaknya, masyarakat untuk kemudian dikembangkan dan ditularkan kembali pada penerus generasi bangsa Indonesia. Abah senang dan Bahagia di Syurga-nya, ketika melihat anak-anaknya pandai bersyukur dan menjaga Amanah-amanahnya. Kini beliau tiada jasadnya, tapi abadi kehadirannya melalui mimbar ilmu disampaikan oleh penerus shaleh dan shalehah.
Penulis: Dr. Nana Meily Nurdiansyah, M.Pd.
Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Daftar Pustaka
Abdul Hamid al-Hasyimi, Mendidik Ala Rasulullah (Bagaimana Rasulullah Mendidik), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), hlm. 259
https://www.bps.go.id/indicator/6/1179/1/tingkat-pengangguran-terbuka-berdasarkan-tingkat-pendidikan.html
Saihu, S. (2020). Pendidikan sosial yang terkandung dalam Surat At-Taubah Ayat 71-72. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 9(01), 127-148.
Ulwan, A. N. (1981). Tarbiyatul aulad fil Islam. Beirut: Dar al-Salam.

