Konten dari Pengguna
Kuliah Ekonomi di Warung Kopi
3 Juli 2025 8:54 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Kuliah Ekonomi di Warung Kopi
Ekonomi tak hanya di kampus. Di warung kopi, obrolan sederhana menyimpan pelajaran ekonomi paling jujur dari rakyat kecil yang tiap hari berjuang menyiasati hidupNazwa Aulia Sutisna
Tulisan dari Nazwa Aulia Sutisna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Nazwa Aulia Sutisna

Di sebuah sudut kampung, berdiri warung kopi sederhana. Bangkunya dari kayu panjang yang mulai miring, mejanya sudah kusam oleh noda kopi, tapi tempat ini tak pernah kehilangan pelanggan. Di sinilah ekonomi hidup dan berbicara β tanpa perlu grafik, presentasi, atau istilah asing dari jurnal internasional.
Setiap pagi, para ojek online, tukang bangunan, pedagang keliling, dan bapak-bapak pensiunan berkumpul. Obrolannya beragam: dari harga sembako yang melonjak, tarif parkir yang berubah, sampai cara menjaga pelanggan tetap loyal. Meski tanpa gelar sarjana, logika mereka tentang pasar sering kali lebih tajam daripada seminar ekonomi digital.
βKalau cabe naik, saya gak bisa naikin harga pecel, nanti pelanggan kabur. Solusinya? Porsi dikurangi dikit, sambelnya dibikin lebih pedes, biar tetap puas,β ujar Bu Murni, pedagang nasi di seberang warung.
Tanpa sadar, mereka sedang menganalisis supply dan demand, menerapkan strategi efisiensi biaya, bahkan memahami perilaku konsumen. Semua itu bukan dari teori kelas, tapi dari tekanan kebutuhan hidup sehari-hari.
Ekonomi sering dianggap rumit, eksklusif milik mereka yang kuliah di gedung megah dengan AC dingin. Tapi di balik warung kopi ini, ekonomi justru terasa paling nyata. Di setiap keputusan: kapan harus kulakan, harga jual yang pas, dan strategi bertahan saat dagangan sepi β semuanya adalah pelajaran ekonomi.
Ketika seorang ibu rumah tangga bisa menyulap uang seratus ribu menjadi belanja mingguan, atau remaja jualan pulsa dari kamar kos demi tambahan uang jajan, itu semua bukti bahwa ekonomi bukan hanya milik pakar. Kita semua sedang menjadi ekonomi β hanya saja dengan kurikulum kehidupan.
Bahkan, sering kali kita menyaksikan inovasi lokal yang luar biasa. Seorang pedagang gorengan yang memberikan sistem "bon harian" untuk pelanggan tetapnya sudah menerapkan sistem kredit mikro. Tukang parkir yang tahu titik paling ramai dalam sehari sudah melakukan mapping konsumen.
Kita tidak perlu menunggu momen krisis global untuk membahas ekonomi. Cukup duduk di warung kopi, dengarkan cerita-cerita kecil di sekitar: tentang usaha bertahan, strategi jualan, dan pilihan-pilihan finansial di tengah kesulitan. Karena sesungguhnya, kuliah ekonomi terbaik bisa saja dimulai dari secangkir kopi hitam di pagi hari.

