Konten dari Pengguna
Salah Paham: Di Balik Teks yang Tak Terbaca
26 Oktober 2025 11:00 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Salah Paham: Di Balik Teks yang Tak Terbaca
Ketika kesalahpahaman berpindah dari urusan pribadi ke ruang publik, hal itu dapat memengaruhi sejarah, politik, dan filsafat, yang berujung pada kehancuran peradaban.Nasruddin Leu Ata
Tulisan dari Nasruddin Leu Ata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang pemuda menulis pesan ke pacarnya setelah sehari penuh berjuang menghadapi tekanan pekerjaan: βAku lagi nggak sempet ngomong. Nanti aja ya.β Di benak si pacar, kalimat itu terdengar seperti sikap acuh. Ia merasa diabaikan, seolah-olah usaha menunggu dan memperhatikan tidak dihargai.
Ia pun menarik diri, memendam perasaan, menunggu penjelasan yang tidak datang. Sementara di sisi lain, orang itu tidak tahu bahwa perasaan yang ia tuangkan adalah rasa bersalah karena tidak bisa menjaga waktu bersama bukan karena tidak peduli. Dalam diam itu, jarak mulai muncul, dan cinta yang dulu berapi, perlahan memudar tanpa pertarungan.
Pengalaman sederhana seperti ini mungkin tampak sepele dalam hubungan, tetapi bayangkan jika kesalahpahaman seperti ini terjadi dalam skala yang jauh lebih besar. Ketika kebingungan bukan hanya tentang emosi, tetapi tentang siapa pemilik tanah, bagaimana teori-teori ilmiah seharusnya dipahami, atau apa arti sebenarnya sebuah hukum dalam konstitusi.
Ketika kesalahpahaman berpindah dari urusan pribadi ke ruang publik, hal itu dapat memengaruhi sejarah, politik, dan filsafat, yang berujung pada kehancuran peradaban. Ini tentang bagaimana dunia mungkin runtuh bukan karena kebencian, haus kekuasaan, atau dendam historis, melainkan karena sesuatu yang lebih tenang, lebih mendalam, dan lebih universal yaitu kesalahpahaman.
Bukan karena orang-orang ingin berperang, melainkan karena mereka salah membaca kata, salah menafsirkan makna, salah mengingat sejarah, atau keliru meyakini kebenaran mereka sebagai satu-satunya kebenaran.
Misalnya, konflik Israel-Palestina berakar pada interpretasi sejarah yang berbeda, atau penciptaan senjata nuklir yang tidak pernah dimaksudkan oleh teori relativitas Einstein. Atau bagaimana jika Plato melangkah terlalu jauh dengan idealismenya karena ia tidak sepenuhnya memahami realisme Sokrates?
Atau bagaimana tindakan keras pemerintah terhadap masyarakat adat berasal dari salah menafsirkan hukum adat sebagai hambatan? Atau bagaimana Pasal 33 ayat 3 UUD 1945, yang membahas tentang penguasaan negara atas bumi, air, dan sumber daya alam, sering disalahartikan bukan sebagai cara untuk melindungi rakyat, melainkan sebagai izin untuk mengeksploitasi mereka.
Membaca ulang fenomena seperti saya meminjam bahasa Derrida bahwa tidak ada yang di luar teks. Dalam bukunya Of Grammatology (1967), ia menulis, βil n'y a pas de hors -texte.β Ini bukan berarti dunia hanya terdiri dari teks , melainkan bahwa semua pemahaman tentang dunia melewati jaringan bahasa, simbol, dan wacana. Dengan kata lain, tidak ada pemahaman yang sepenuhnya bebas dari struktur makna yang membentuknya.ββ
Jadi ketika kita berbicara tentang isu-isu ini, kita tidak membahas sesuatu yang "alami" atau "netral." Kita menafsirkan realitas yang telah dibentuk oleh sistem tanda, bahasa, dan struktur kekuasaan yang menamainya dan mengaturnya.β ββ
Beberapa Contoh
Di Indonesia, Pasal 33 ayat 3 UUD 1945, yang menyatakan " bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat," merupakan contoh sempurna bagaimana teks konstitusi menjadi medan perebutan makna yang tak berujung. Para pendiri bangsa memandang pasal ini sebagai amanat untuk melindungi sumber daya alam dari eksploitasi asing.
Akan tetapi, penafsiran selanjutnya mengubah maknanya secara dramatis." Milik negara" diartikan sebagai izin untuk memberikan izin pertambangan kepada perusahaan, sementara "kesejahteraan rakyat " disempitkan menjadi sekadar pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, hutan hujan Kalimantan dan Sumatra, yang dulunya paru-paru dunia, berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara.
Sementara itu, masyarakat adat yang bergantung pada hutan-hutan ini justru terpinggirkan. Konflik lahan di berbagai wilayah Indonesia merupakan contoh paling jelas bagaimana salah menafsirkan teks hukum dapat menyebabkan ketidakadilan struktural.
Negara memandang tindakannya sebagai perlawanan terhadap pembangunan, sementara masyarakat adat menganggapnya sebagai serangan terhadap warisan budaya dan ekosistem yang telah mereka lindungi selama beberapa generasi.
"Tanah bukan milik kami , kami hanya merawatnya," adalah filosofi masyarakat adat, yang seringkali tidak terdengar dalam dokumen hukum nasional. Alih-alih mengakui kearifan lokal dalam mengelola sumber daya, negara justru memandang hukum adat sebagai hambatan pembangunan yang harus diatasi dengan hukum formal. Konflik Israel-Palestina menunjukkan dinamika serupa dalam skala global.
Di balik pertumpahan darah yang terlihat terdapat pergulatan yang lebih mendalam atas narasi sejarah yang saling membatalkan. Israel membaca sejarahnya sebagai kembalinya ke tanah perjanjian penggenapan nubuat Alkitab dan pemulihan hak-hak historis setelah berabad-abad pembuangan.β βSementara itu, Palestina menganggapnya sebagai pengusiran dari tanah leluhur, sebuah tragedi yang disebut Nakba ( bencana ), di mana ratusan ribu orang diusir dari rumah mereka pada tahun 1948. Ketika kedua belah pihak yakin versi kebenaran mereka benar, dialog menjadi mustahil dan perdamaian tetap menjadi mimpi.
Menurut Derrida, solusinya bukanlah mengeklaim kebenaran mutlak dari satu pihak , melainkan mengakui bahwa semua teks, termasuk teks sejarah, selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Bayangkan jika Israel membaca ulang sejarahnya melalui sudut pandang yang lebih inklusif mengakui bahwa trauma Palestina itu nyata dan hak mereka untuk menentukan masa depan mereka sendiri sama validnya.
Atau jika Palestina membaca ulang narasi Israel dan memahami bahwa ketakutan akan penggusuran kedua kalinya bukan sekadar fiksi. Solusi damai, di mana kedua negara saling menghormati, bisa menjadi kenyataan bukan sekadar omong kosong diplomatik.
Namun ketika masing-masing pihak terlalu sibuk membaca sejarahnya sendiri dan mengabaikan kisah pihak lain, siklus kekerasan akan terus berputar seperti kutukan yang tak terhentikan.
Sementara itu, di dunia sains, kesalahpahaman dapat menciptakan monster yang tak terbayangkan. "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya tahu saya tidak pernah menginginkan bom," keluh Albert Einstein tentang penggunaan teorinya. Teori relativitas, yang dirancang untuk memahami alam semesta, akhirnya menjadi dasar pengembangan senjata pemusnah massal yang tidak pernah dimaksudkan oleh Einstein.
Para ilmuwan dan politisi menerjemahkan rumus E=mcΒ² secara teknis tanpa mempertimbangkan implikasi etisnya , dan dunia dihadapkan pada ancaman pemusnahan massal. Bayangkan sebuah dunia yang dibangun di atas fondasi kesalahpahaman, di mana setiap batu konflik terbuat dari salah tafsir, dan setiap dinding pemisah ditopang oleh ingatan selektif.
Catatan Akhir
Mungkin kekacauan yang kita saksikan hari ini bukanlah akibat dari kesalahan yang disengaja, melainkan konsekuensi dari kegagalan manusia untuk sepenuhnya memahami sejarah, teori, filsafat, hukum, dan terutama, satu sama lain.
Jika itu benar, maka jalan menuju perdamaian mungkin bukan dengan menambah kebencian, melainkan dengan meningkatkan pemahaman satu interpretasi pada satu waktu. Di dunia di mana obrolan menggantikan percakapan tatap muka, di mana teks hukum menjadi senjata politik, dan di mana sejarah digunakan untuk melegitimasi kekuasaan, pesan Derrida menjadi semakin relevan.
Tidak ada jalan pintas menuju pemahaman yang sempurna, tidak ada komunikasi tanpa risiko kesalahpahaman. Namun, justru di ruang itulah keindahan berada cinta yang tetap berbicara meski makna terguncang, persahabatan yang langgeng meski teks disalahartikan, demokrasi yang tetap hidup karena konstitusi terus-menerus diperdebatkan.
Mungkin perdamaian dunia tidak dimulai dengan kesepakatan tentang makna, tetapi dengan keputusan untuk tetap peduli bahkan ketika kita tidak sepenuhnya mengerti.

