Konten dari Pengguna
Bayangan di Taman Bunga
15 Desember 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Bayangan di Taman Bunga
Sebuah cerpen yang dibuat dengan tujuan untuk memainkan imajinasi pembaca, menerka-nerka setiap kejadian, dan ditambahkan dengan plot yang membuat pertanyaan pembaca semakin mendalam. #userstoryNasywa Ghina Wardhani
Tulisan dari Nasywa Ghina Wardhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Matahari bersinar terang di pagi hari. Hangatnya menyapa bunga-bunga di pekarangan rumah yang bermekaran. Udara yang sejuk, burung-burung kecil bercicit di ranting pohon belakang rumah. Di tengah taman itu, Lulu si gadis mungil, dengan rambut ikal berwarna kecokelatan, sedang asyik bermain. Wajahnya berseri seperti bunga yang sedang bermekaran. Ia menari-menari sembari menyanyikan lagu kesukaannya. Tawa kecilnya mengisi pagi yang cerah.
Siang harinya, ibu mengajak Lulu pergi ke rumah sakit tanpa alasan yang jelas. Lulu yang baru berusia 7 tahun dan belum mengerti banyak hal, sangat senang mendengar ajakan ibunya itu. Sudah lama ia tidak diajak pergi oleh ibunya.
Perjalanan ke rumah sakit ditempuh dengan kereta. Lulu duduk di samping jendela, wajahnya menempel di kaca, matanya berbinar setiap kali melewati pemandangan yang dipenuhi oleh sawah yang luas dan pepohonan yang rindang. Ia sesekali menatap ibunya yang duduk di sebelahnya, tatapan ibu terlihat kosong dan dingin, tapi Lulu tetap memeluk lengan ibunya dan berujar kecil,
“Lulu sayang ibu.” Ibu tidak menjawab, hanya diam dengan tatapan kosongnya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka pun sampai tujuan. Ibu segera menggandeng Lulu keluar dari kereta. Tak jauh dari pintu keluar stasiun, rumah sakit yang menjadi tujuan ibu terlihat begitu jelas. Lulu bertanya kepada ibu .
“Ibu, Lulu kenapa? Lulu sakit ya bu?” tanyanya bingung.
Ibu hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Lulu.
Setibanya di rumah sakit, Lulu membaca tulisan di pintu. “Kandungan.” Ia mengeja pelan. “Ka-n-du-ngan. Apa itu, Bu?” Ibu hanya terdiam. Lulu dan ibu menunggu antrean di ruang tunggu yang tidak jauh dari pintu yang bertuliskan “kandungan” yang dibaca Lulu tadi.
Mereka menunggu di ruang tunggu tanpa berbicara sepatah kata pun. Tak menunggu lama, nama ibu dipanggil oleh perawat. Ibu pun bangkit dari duduknya, kemudian menarik dan menghembuskan napasnya dengan berat, seolah ada sesuatu yang menahannya.
Lalu, ibu pun masuk ke dalam ruangan dokter sambil menggandeng tangan Lulu. Lulu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saat di ruang pemeriksaan pun Lulu tidak mengerti apa yang sedang ibu dan dokter lakukan.
Namun, setelah ibu dan dokter keluar dari ruang pemeriksaan, tiba-tiba dokter berkata kepadaku, “Adek kecil, setelah ini jagain ibu ya, adek sebentar lagi jadi kakak.” “Ibu, adek udah jadi kakak?” tanya Lulu dengan gembira. Tapi, ibu hanya memberikannya tatapan kosong.
Ternyata, setelah kejadian di rumah sakit itu adalah awal dari semua kejadian menimpa Lulu. Sejak hari itu, segalanya berubah. Ibu selalu berteriak kepada Lulu, semakin sering marah tanpa sebab. Lulu tidak mengerti. Pernah suatu malam, ketika Lulu mencoba memeluknya sebelum tidur, ibu malah mendorong tubuh Lulu.
“Jangan sentuh ibu!” katanya dengan mata yang membesar.
Lulu terdiam. Ia tidak mengerti kenapa ibu tidak mau dipeluk lagi.
Terkadang, jika Lulu tertawa menonton televisi, ibu akan membentaknya. Kadang ketika ia bernyanyi, ibu menyuruhnya diam.
“Jangan tertawa! Jangan bernyanyi! Kau tahu betapa ibu muak mendengar itu!”
Lulu ketakutan, matanya memerah menahan tangis. Tapi ketika ia melihat perut ibunya yang kian membesar, ia berbisik dalam hati,
“Aku tahu ibu lelah. Mungkin nanti kalau adik sudah lahir, ibu nggak marah lagi sama aku.”
Malam-malam yang dulu dipenuhi canda, cerita, dan pelukan yang hangat kini berubah menjadi malam yang sunyi dan dingin. Suatu sore, Lulu hanya ingin bermain sepeda seperti dulu. Ia sudah lama sekali tidak bermain dengan sepeda kesayangannya. Teman-temannya sering memanggil dari luar pagar.
“Lulu, ayo main!”
Tapi ibu selalu melarangnya.
Hari itu Lulu memutuskan untuk diam-diam keluar, ia tahu ibu tidak suka kalau ia pamit.
“Mungkin kalau Lulu nggak ganggu, ibu nggak marah…” pikirnya.
Jadi, ia pergi diam-diam. Ia sangat senang dapat bermain dengan sepedanya itu, ia merasa bebas lagi, senyuman yang lebar juga terukir di wajahnya itu. Ia memutari sawah-sawah, melewati pedesaan, dan melihat hamparan perkebunan yang luas.
Namun, kebebasan itu hanya sementara. Saat ia pulang menjelang senja, ibu sudah menunggunya di depan rumah, wajahnya tegang, matanya terbuka lebar. Tanpa sepatah kata, ibu langsung menyeret Lulu ke garasi, menutup pintu, dan memukulinya dengan selang air.
“Ibu… sakit, Bu…” suaranya lemah.
Lulu menangis, tubuhnya gemetar, rasa dingin membalut tubuhnya, sebelum akhirnya pandangannya gelap.
Ketika Lulu terbangun, bau yang menyengat memenuhi hidungnya. Ia melihat langit-langit putih bersamaan dengan selang infus yang ada di tangannya. Benar, ia sudah berada di rumah sakit terbaring lemah. Di sampingnya, ibu menangis, menggenggam tangannya erat.
“Ibu… jangan nangis. Lulu nggak marah kok. Lulu senang ibu di sini,” ucap Lulu dengan suara lemah. Ibu memeluknya erat, air matanya membasahi tubuh mungil Lulu.
“Maafin ibu ya, Nak. Ibu salah, ibu salah Nak…” Ibu memeluk Lulu semakin erat, tapi tubuh Lulu terasa ringan, dingin…
Lalu tiba-tiba suara yang tak asing terdengar dari kejauhan.
“Sayang… sayang, bangun. Tolong, sadar…”
Cahaya putih di ruangan itu mendadak berubah menjadi cahaya redup. Ibu membuka matanya yang dipenuhi air mata dengan perlahan. Seketika tubuhnya terguncang, ia bukan lagi di kamar rumah sakit tempat Lulu dirawat. Ia melihat tangannya sudah dirantai di ranjang besi rumah sakit. Wajahnya cemas, suaranya serak. Seorang lelaki berdiri di sampingnya dan berkata.
“Kamu udah tenang sekarang?” katanya.
Lelaki itu terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, kemudian berkata,
“Lulu udah nggak ada, sayang. Dia pergi… tiga tahun lalu.”
Ibu mematung. Air matanya menetes.
“Enggak… enggak… dia tadi peluk aku. Aku peluk dia. Dia bilang dia sayang aku…”
Lelaki itu hanya bisa memeluk erat istrinya.
Beberapa tahun berlalu.
Ibu tidak benar-benar sembuh. Ia tidak banyak bicara, wajahnya hanya menunjukkan kemuraman dan isak tangis yang membekas. Namun setiap pagi, suaminya dan perawat selalu menemukannya duduk di taman belakang rumah.
Menyirami bunga, bersenandung pelan, menyanyikan lagu yang dulu selalu dinyanyikan Lulu saat bermain sepeda. Di samping bangkunya, ada sepeda kecil berkarat yang entah sudah berapa lama terparkir diam di sana.
Di pagi hari setiap kali angin bertiup, bunga-bunga di taman itu menari lembut, seolah menyapa kehadiran seseorang. Beberapa orang bilang, mereka pernah mendengar suara tawa anak kecil di antara angin yang bertiup. Tidak lama, tidak keras. Seolah Lulu selalu hadir di pagi hari, menari di bawah matahari yang cerah, dan menjadi obat rindu untuk ibu.

