Konten dari Pengguna
Amerika Serikat - Venezuela Dalam Strategi Taktik Grey Zone
8 Desember 2025 16:10 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Amerika Serikat - Venezuela Dalam Strategi Taktik Grey Zone
Konflik AS-Venezuela bukan lagi soal tank dan rudal, melainkan pertarungan sengit di Zona Abu-Abu (Grey Zone). AS menerapkan Kampanye Tekanan Maksimum untuk melengserkan Nicolás Maduro tanpa invasi -naufal athallah
Tulisan dari naufal athallah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik Grey Zone Amerika Serikat dan Venezuela telah menjadi salah satu konflik paling intens dan berkepanjangan di Amerika Latin, hal ini mencerminkan benturan ideologi politik serta kepentingan strategis yang mendalam. Konflik ini dapat ditelusuri sejak era Hugo Chávez, yang secara terbuka menantang kekuatan AS melalui revolusi sosialis dan menjalin aliansi dengan rival geopolitik AS, termasuk Kuba, Rusia, Tiongkok, dan Iran. Eskalasi mencapai titik panasnya pada pasca pemilihan umum 2018 dan 2024, di mana AS dan puluhan negara lainnya menolak mengakui legitimasi Nicolás Maduro, bahkan secara resmi mengakui pemimpin oposisi sebagai pemimpin sah negara. Langkah ini menciptakan dualitas kepemimpinan dan menjadi pintu masuk bagi AS untuk menerapkan kebijakan perubahan rezim atau regime change melalui mekanisme non-militer.
Dalam konteks ketegangan modern yang berisiko tinggi, konflik AS-Venezuela tidak lagi terbatas pada benturan senjata konvensional, melainkan bergeser ke dalam ranah Strategi Grey Zone. Konsep Grey Zone merujuk pada operasi yang berada di wilayah abu-abu antara kondisi damai dan perang terbuka, dirancang untuk mencapai tujuan strategis secara halus dan ambigu, namun harus tetap efektif. Strategi ini muncul sebagai respons rasional terhadap biaya eskalasi militer yang sangat tinggi dan pemanfaatan globalisasi. Tujuannya adalah menciptakan fakta di lapangan secara bertahap, memanfaatkan ambiguitas hukum internasional untuk melemahkan lawan tanpa memicu respons militer yang terkoordinasi.
Amerika Serikat secara sistematis mengimplementasikan strategi Grey Zone ini melalui kerangka kerja yang dikenal sebagai Kampanye Tekanan Maksimum (Maximum Pressure). Kampanye ini bertujuan menciptakan dilema bagi rezim Maduro dan memaksa transisi kekuasaan tanpa melibatkan personel militer AS dalam konflik terbuka. Strategi ini selaras dengan pendekatan Realis, di mana AS sebagai kekuatan dominan bertindak pragmatis, menimbang untung rugi dari penerapan sanksi maksimum demi menghilangkan ancaman ideologis dan menjamin stabilitas regional yang sesuai dengan kepentingan mereka.
Aplikasi taktik Grey Zone ini, hal yang paling menonjol adalah Tekanan Ekonomi Masif dan Manuver Koersif Hukum. Pilar utama Tekanan Maksimum adalah penerapan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, secara spesifik menargetkan aset penting seperti perusahaan minyak negara (PDVSA) dan aksesnya ke sistem keuangan AS. Sanksi ini berfungsi sebagai bentuk perang ekonomi yang menghasilkan kerugian materiil setara dengan blokade militer, tetapi menghindari risiko perang bersenjata skala penuh. Sementara itu, manuver hukum terlihat jelas dari dakwaan pidana narko-terorisme terhadap Presiden Nicolás Maduro dan penetapan kelompok terkait rezim (Kartel de los Soles, TdA) sebagai organisasi teroris asing.
Penggunaan instrumen hukum domestik terhadap kepala negara asing, sebuah tindakan yang jarang dilakukan, secara strategis berfungsi untuk mendiskreditkan Maduro di mata komunitas internasional dan melegitimasi serangkaian sanksi dan tekanan yang lebih keras. Selain itu, AS juga menggunakan Aktor Proksi melalui pengakuan dan dukungan terbuka terhadap faksi oposisi Venezuela, yang memberi ruang bagi AS untuk bertindak tanpa menanggung atribusi langsung atas ketidakstabilan domestik. Kombinasi instrumen ekonomi, hukum, dan diplomatik-proksi ini memungkinkan AS mencapai tujuan destabilisasi dengan biaya dan risiko yang rendah.
Pemetaan taktik Grey Zone dalam konflik Geopolitik AS - Venezuela pada tahun 2025 ini menjadi studi kasus penting dalam memahami cara kerja Grey Zone di era kontemporer. Amerika Serikat memanfaatkan strategi ini secara rasional untuk mengejar tujuan geopolitik dengan meminimalkan risiko eskalasi militer langsung. Meskipun strategi ini efektif secara taktis dalam menciptakan gangguan, resistensi terkoordinasi dari kekuatan non-Barat mengurangi keberhasilan strategisnya dan menimbulkan biaya geopolitik yang besar bagi Washington di jangka panjang, seperti perluasan pengaruh rival globalnya di Amerika Latin.
Sumber Bacaan :
Mazarr, M. J. (2015). Mastering the gray zone: understanding a changing era of conflict.
Sullivan, M. P., Rush, R. G., & Seelke, C. R. (2008). Latin America: Energy Supply, Political Developments, and US Policy Approaches. Congressional Research Service.
Rosanti, A. W. (2025). PEMBERIAN SANKSI AMERIKA SERIKAT TERHADAP VENEZUELA DI MASA KEPEMIMPINAN MADURO TAHUN 2018-2024 (Doctoral dissertation, UPN Veteran Jawa Timur).
Arango, S. (2019). Crisis in Venezuela: the United States’ Duty to Respond. Policy & Politics.

