Konten dari Pengguna

Israel Dan Karakteristik Strateginya di Kawasan Timur Tengah

naufal athallah
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP Universitas Sriwijaya
9 Oktober 2025 11:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Israel Dan Karakteristik Strateginya di Kawasan Timur Tengah
Bangsa Israel hidup dengan keyakinan bahwa dunia selalu siap menyerang. Dari trauma sejarah hingga doktrin serangan "dahulu daripada didahului"
naufal athallah
Tulisan dari naufal athallah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Source: pixabay.com/photos/flag-israel-country-flag-state-flag-21096
zoom-in-whitePerbesar
Source: pixabay.com/photos/flag-israel-country-flag-state-flag-21096
Kekuatan Israel di tengah ancaman kawasan Timur Tengah bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan militernya, tetapi juga oleh sejarah panjang yang membentuk mentalitas bertahan bangsa itu. Sejak berdiri pada tahun 1948, Israel dikelilingi oleh negara-negara yang kerap berseteru dengannya. Kondisi ini menumbuhkan budaya strategis yang keras, cepat, dan penuh perhitungan. Bagi Israel, keamanan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban untuk memastikan keberlangsungan negara di tengah lingkungan yang tidak ramah.
Mentalitas yang dibangun ini lantas menjadi prinsip kekuatan yang diturunkan, menolak asumsi damai jangka panjang. Israel merasa memiliki kewajiban sejarah untuk menjadi yang terkuat di wilayah itu. Mereka harus memastikan bahwa kejadian buruk di masa lalu—yakni pemusnahan massal—tidak akan pernah terulang lagi di tengah lingkungan yang tidak ramah. Oleh karena itu, strategi militer Israel tidak dibangun di atas harapan damai, tetapi di atas kebutuhan untuk mencapai superioritas militer absolut.
Doktrin ini segera terjadi setelah Israel berdiri sebagai negara. Perang Enam Hari pada tahun 1967 adalah bukti nyata bagaimana Mentalitas Pengepungan ini diterjemahkan menjadi tindakan. Mereka merasa terkepung oleh Mesir, Suriah, dan Yordania, yang merupakan representatif bangsa Arab, Israel memilih melakukan serangan pendahuluan taktikal yang cepat dan mematikan, menghancurkan angkatan udara lawan sebelum sempat menyerang 3 sisi melalui darat. Kemenangan ini, yang menguasai wilayah-wilayah kunci, semakin memperkuat keyakinan bahwa agresi cepat adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Kejadian serupa terjadi kembali pada Perang Yom Kippur tahun 1973. Serangan mendadak lagi oleh superioritas Mesir dan Suriah pada Hari Raya Yahudi menunjukkan bahwa keunggulan Israel yang bisa dipatahkan. Meskipun Israel berhasil membalikkan keadaan, perang ini menjadi trauma baru. Perang Yom Kippur ini menegaskan bahwa ancaman tidak pernah hilang dan bahwa Israel tidak boleh lengah sedikit pun. Ini semakin membenarkan seperangkat kepercayaan bahwa mereka harus selalu berada di depan musuh, baik dari segi intelijen maupun teknologi militer.
Melalui jalur diplomasi , Perjanjian Damai dengan Mesir pada tahun 1979 menjadi pengecualian penting dalam narasi panjang konflik ini. Mesir, yang merupakan kekuatan Arab terbesar, akhirnya mengakui Israel setelah serangkaian perang. Perjanjian ini, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kekuatan militer Israel dan diplomasi yang didukung Barat dapat memecah belah front Arab, tetapi hal ini tidak menghilangkan ancaman dari pihak-pihak lain yang menolak mengakui keberadaan Israel.
Budaya strategis ini pada akhirnya diinstitusionalisasi melalui konteks militer modern, khususnya Angkatan Pertahanan Israel (IDF). Ketergantungan Israel pada teknologi militer canggih seperti yang terlihat dalam doktrin Revolution in Military Affairs—adalah cerminan dari budaya yang berusaha meminimalisasi kerugian manusia di pihak mereka. Pada saat yang sama, doktrin operasionalnya bersifat ofensif-taktis, meski tujuan strategisnya adalah defensif. Hal ini diperkuat oleh mitos nasional seperti Masada, yang diserap ke dalam indoktrinasi tentara IDF, artinya menyuarakan pesan bahwa pertahanan diri harus dilakukan hingga titik darah penghabisan dan tanpa kompromi. Ketika dihadapkan pada ancaman, pilihan strategi yang paling diyakini efektif adalah serangan pencegahan (pre-emptive strike) dan penggunaan kekuatan yang disproporsional untuk memastikan kemenangan yang cepat dan tuntas.
Penting untuk dicatat bahwa Israel tidak menjalankan strateginya sendirian. Sejak lama, Israel telah membangun kemitraan strategis yang sangat erat dengan Amerika Serikat. Dukungan keuangan, teknologi militer canggih (seperti rudal Iron Dome), dan dukungan diplomatik di forum internasional menjadikan Israel kekuatan regional yang hampir tak tersentuh. Ketergantungan pada Amerika ini adalah cara Israel mengkompensasi kerentanan geografisnya. Bantuan dari AS menjadi penjamin utama agar kewajiban sejarah Israel untuk tetap kuat dapat terus terpenuhi.
Melalui sejarah peperangan dan dukungan Amerika inilah Israel secara bertahap berhasil memposisikan dirinya sebagai kekuatan baru yang tak tertandingi di deretan kawasan Arab. Kekuatan ini bukan hanya soal senjata, melainkan sebuah kerangka aksi yang mendalam, yang memaksa negara-negara Arab di sekitarnya untuk berpikir dua kali sebelum bertindak, bahkan mendorong beberapa negara untuk menormalisasi hubungan demi kepentingan keamanan bersama (Abraham Accords).
Jadi, strategi militer Israel tidak dibangun di atas harapan damai, tetapi di atas kewajiban sejarah untuk selalu menjadi yang terkuat di wilayah itu. Mereka harus memastikan bahwa kejadian buruk di masa lalu tidak akan pernah terulang lagi di tengah lingkungan yang tidak ramah. Pilihan untuk menyerang duluan dan menggunakan teknologi canggih hanyalah cara nyata untuk menjalankan prinsip ini.
Referensi :
Bar-Tal, D., & Antebi, D. (1992). Siege mentality in Israel. International Journal of Intercultural Relations, 16(3), 251-275.
Bauer, Y. (1996). The impact of the Holocaust. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 548(1), 14-22. https://doi.org/10.1177/0002716296548001002
KUTLU, O. Ö. A Comparative Analysis of Israel’s Preemptive Strikes Assessing the Osiraq (1981) and Al-Kibar (2007) Airstrikes.
Dinstein, Y. (2019). The Impact of the Holocaust on the Development of International Law. In Israel Yearbook on Human Rights, Volume 49 (2019) (pp. 281-296).
Trending Now