Konten dari Pengguna
Menemukan Kemanusiaan di Tengah Perbedaan Agama
27 Oktober 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Menemukan Kemanusiaan di Tengah Perbedaan Agama
Menemukan kemanusiaan di tengah perbedaan agama: Agama sejatinya lahir dari rahim kemanusiaan. Ia hadir untuk menyatukan, bukan memisahkan. #userstoryNaufal Daffa Guswani
Tulisan dari Naufal Daffa Guswani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia yang kian bising oleh perbedaan, kita sering lupa bahwa agama sejatinya lahir dari rahim kemanusiaan. Setiap tradisi keimanan membawa pesan luhur yang sama yaitu mencintai sesama, menegakkan keadilan, dan menghadirkan kedamaian. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya, oleh sebagian orang agama dijadikan tembok pembatas, bukan jembatan penghubung.
Padahal, kalau kita menelusuri sejarah, agama-agama besar dunia lahir tidak untuk menciptakan jarak, tetapi untuk mengarahkan manusia kepada nilai yang sama berupa kasih, kebaikan, dan tanggung jawab moral. Nabi Musa, Isa, dan Muhammad yang menjadi tiga tokoh pilar Yudaisme, Kristen, dan Islam pun semuanya mengajarkan cinta kepada Tuhan dan manusia. Jika sumbernya satu dan pesannya sama, mengapa manusia masih saling menuding atas nama agama?
Agama yang Menyatukan, bukan Memisahkan
Sebagai mahasiswa yang mempelajari agama-agama dunia, saya sering menemukan bahwa semakin kita mengenal agama lain, semakin kita memahami bahwa kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak. Masing-masing agama memiliki bahasa dan simbolnya sendiri dalam berbicara tentang Tuhan.
Karen Armstrong, seorang sejarawan agama, menulis bahwa setiap agama adalah upaya manusia untuk menghayati belas kasih Tuhan sesuai konteks sejarah dan budaya masing-masing. Maka, konflik antaragama sering kali bukan karena ajarannya, melainkan karena tafsir sempit manusia yang menempatkan perbedaan sebagai ancaman, bukan peluang untuk belajar.
Dalam konteks ini, mengenal agama lain bukan berarti merelativisasi kebenaran iman sendiri, melainkan memperluas ruang empati. Sebab, memahami agama lain mengajarkan kita bahwa setiap manusia mencari Tuhan dengan cara yang ia pahami.
Ketika Kebenaran Menjadi Klaim Kekuasaan
Sayangnya, dalam sejarah panjang umat manusia, agama sering berubah menjadi alat politik dan identitas sosial. Kebenaran yang seharusnya membebaskan justru dibungkus dalam klaim eksklusif seperti, “Kami yang paling benar, kalian yang salah.” Dari situlah lahir berbagai tragedi kemanusiaan, semisal perang salib, konflik sektarian, bahkan diskriminasi yang dibenarkan dengan dalih iman.
Padahal, jika kita menilik akar spiritual setiap agama, semuanya menolak kekerasan. Dalam Islam, misalnya, Allah disebut sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dua sifat kasih yang menjadi dasar penciptaan. Dalam Injil, Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuh sekalipun. Dalam Yudaisme, Tuhan disebut penuh kasih setia (hesed). Nilai-nilai ini semestinya menjadi fondasi bagi dialog lintas iman, bukan sekadar slogan yang berhenti di lisan.
Mencari Tuhan Lewat Kemanusiaan
Dalam dunia modern yang plural dan global, kemanusiaan seharusnya menjadi titik temu di tengah perbedaan agama. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak menilai kita dari label keagamaan, tetapi dari amal dan niat kita kepada sesama.
Filsuf Muslim, Ibn ‘Arabi, pernah menulis, “Hatiku telah menjadi wadah bagi segala bentuk: biara bagi rahib, kuil bagi berhala, Ka'bah bagi peziarah, dan papan bagi Taurat. Aku mengikuti agama cinta, ke mana pun kendaraannya mengarah.” Kalimat itu bukan ajakan untuk mencampuradukkan agama, melainkan penegasan bahwa cinta dan kemanusiaan adalah inti dari segala iman.
Menjadi manusia beragama berarti menyalakan nurani, bukan menumpulkan empati. Kita tak perlu menghapus perbedaan, tapi belajar untuk tidak takut padanya. Karena justru dalam perbedaan itulah manusia diuji: Apakah ia mampu melihat Tuhan dalam diri orang lain?
Agama sebagai Jalan Menjadi Manusia
Hari ini, tantangan terbesar umat beragama tidak lagi mempertahankan identitas, tetapi memulihkan kemanusiaan. Dunia yang terpecah oleh konflik, ujaran kebencian, dan radikalisme butuh wajah agama yang lebih lembut, lebih mendengar daripada menghakimi.
Kita perlu kembali kepada semangat awal agama: untuk mengasihi yang lemah, menegakkan keadilan, dan menghidupkan harapan. Dalam istilah Islam, inilah makna rahmatan lil ‘alamin; dalam Kekristenan, disebut caritas; dalam Buddhisme, dikenal sebagai karuna; dan dalam Hindu, disebut ahimsa. Semua menuju pada satu makna: kemanusiaan universal.
Mungkin Tuhan memang menciptakan banyak agama agar manusia belajar mencintai dalam banyak cara. Karena cinta yang hanya mengenal satu bentuk, pada akhirnya akan menjadi fanatisme.
Menemukan kemanusiaan di tengah perbedaan agama berarti berani keluar dari menara kebenaran sendiri untuk mendengar yang lain. Ia bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling peduli. Sebab, agama sejati bukan diukur dari seberapa keras kita membela Tuhan, melainkan seberapa lembut kita memperlakukan manusia.
Dan mungkin, di tengah kebisingan dunia modern, itulah bentuk ibadah yang paling sunyi dan paling tulus.

