Konten dari Pengguna
Kasih yang Berganti Arah: Dari Didikan yang Mengalir ke Bimbingan yang Kembali
29 November 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Kasih yang Berganti Arah: Dari Didikan yang Mengalir ke Bimbingan yang Kembali
Di tengah lajunya teknologi, peran anak dan orang tua perlahan bertukar. Dari yang dulu membimbing, kini mereka belajar pada kita. Dalam momen sederhana itu, kita menemukan kembali cinta yang tumbuh.Nazhif Syafa Ar Rummi
Tulisan dari Nazhif Syafa Ar Rummi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada yang benar-benar siap melihat orang tuanya menua di saat seorang anak masih belum memberikan penghargaan yang terbaik bagi mereka. Ini adalah rasa yang hadir secara perlahan seperti hadirnya embun yang turun tanpa suara, namun meninggalkan sejuk yang bertahan lama.
Kita tumbuh dalam dekapan hangat yang membuat kita percaya bahwa orang tualah yang selalu tahu segalanya mengenai kehidupan ini. Mereka adalah fondasi dari semua kepastian, seperti tangan yang membimbing, suara yang menenangkan ketika terjatuh, dan membimbing setiap langkah pertamanya di bumi ini. Namun, dunia yang mereka kenalkan kepada kita tiba-tiba tidak lagi sama. Dalam keheningan, peran itu kembali berputar, dari arah “dia yang membimbing” menjadi “dia yang membutuhkan bimbingan”.
Pada satu titik, seringkali tanpa disadari kita duduk bersama mereka bukan lagi sebagai anak kecil yang bertanya, melainkan sebagai seseorang yang memberikan jawaban. Pada era digital, pergeseran seperti ini semakin terasa nyata. Fenomena ini dikenal sebagai reverse socialization.
Perkembangan teknologi telah menciptakan sebuah ruang sosial baru. Ruangan itu mengharuskan setiap warga negara memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Dalam ruangan itu, kompetensi bukan lagi ditentukan oleh usia, melainkan seberapa jauh tingkat adaptasi seseorang terhadap teknologi. Di sinilah kesenjangan digital antargenerasi muncul secara nyata, kesenjangan akses dan kemampuan teknologi antara generasi muda dan generasi tua menciptakan jarak sosial baru dalam keluarga dan masyarakat (Luahambowo, 2025). Di dalam jarak itulah cerita ini mendapatkan bentuknya.
Aku tumbuh dalam keluarga di mana orang tua adalah pemandu dalam kehidupanku. Masih teringat secara jelas ketika semasa kecil orang tuaku selalu membantuku melakukan hal-hal sederhana—memasang tali sepatu, mengikat kancing seragam, mengajarkan cara membaca waktu, buku, dan menuliskan namaku.
Pada masa itu, mereka adalah pusat informasi pertamaku. Namun, seiring dengan bertambahnya usiaku, terutama sejak aku mengenal teknologi digital hubungan sedekat nadi itu perlahan mulai melemah. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadgetku, mendekam diruangan yang aku kunci dari dalam, bahkan aku jarang membicarakan keseharianku kepada mereka seperti saat aku masih kecil.
Tak hanya tentang sikapku yang telah berubah, tetapi juga tentang dunia yang kini semakin jauh dari jangkauan pengetahuan mereka. Kedua orang tuaku berusaha untuk beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin cepat. Pada titik inilah aku mulai menyadari betapa kuatnya arus teknologi yang menggerus pola relasi kami. Mereka yang dulunya memperkenalkanku pada huruf-huruf pertama kini harus meminta tolong untuk sekedar menekan ikon yang tepat di layar ponsel. Awalnya aku merasa heran, bagaimana pemandu kehidupanku yang mengetahui segalanya tidak memahami aplikasi sesederhana ini?. Namun semakin aku tumbuh, aku mulai sadar bahwa bukan kemampuan yang menjadi masalah utamanya, tetapi pada “jarak budaya” yang tercipta karena percepatan teknologi.
Aku masih teringat ketika ayahku bertanya tanpa ragu,
Dan banyak lagi pertanyaan yang datang silih berganti, seakan-akan aku adalah orang yang paling tahu segalanya. Setiap kali namaku dipanggil oleh mereka, ada kepercayaan kecil yang mereka titipkan. Kepercayaan yang dulu kumiliki ketika mereka mengajariku membaca, menulis, dan hal-hal sederhana lainnya. Ironisnya, saat ini yang mereka pelajari bukan lagi kehidupan luas yang penuh makna, tetapi dunia kecil di dalam layar. Dunia yang menurut mereka sangat asing, namun bagiku sudah menjadi bagian dari napas harian.
Pada awalnya, aku menjawab dengan nada yang terkesan datar, karena bagiku semua itu terlalu sederhana dan bagaimana mungkin mereka tidak mengetahuinnya. Namun, ketika aku melihat cara ayahku meperhatikanku sangat baik dan mengulang gerakan yang sama lebih dari dua kali, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadaku. Ada perasaan getir yang menyelinap pada sela-sela rongga dada ini. Hal ini semakin membuatku lebih mengerti bahwa mereka bertanya bukan karena bodoh, tetapi karena dunia telah bergerak sangat cepat dari langkah mereka.
Pada akhirnya, mengajari orang tua menggunakan teknologi bukanlah sekadar pertolongan teknis. Ini Adalah proses pulang kembali kepada akar kepada sumber kasih yang tak pernah meminta balasan. Di balik setiap gerakan jari mereka di layar ponsel yang terasa kaku dan ragu dan setiap pertanyaan yang berulang, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana dulu mereka mengajarkan kita menghadapi kehidupan dunia. Kasih itu tidak hilang, melainkan hanya berpindah tangan. Ini Adalah bentuk kecil partisipasi kita dalam memastikan kesetaraan digital dan merupakan tindakan kewarganegaraan yang paling intim, paling personal, dan manusiawi.
Teknologi mungkin telah menciptakan jarak antargenerasi, tetapi ia juga menghadirkan jembatan. Di atas jembatan itu, saya berdiri bersama orang tua bukan sebagai anak kecil yang diajari tetapi sebagai anak yang kini diberi kesempatan untuk membalas segala kebaikan mereka. Saya merasakan bahwa keluarga adalah tempat di mana waktu boleh berubah, tetapi cinta selalu bisa menemukan jalannya kembali.

