Konten dari Pengguna
Perjalanan Menemukan Bakat: Dari Gagal Hingga Kutemukan Diriku
16 Juni 2025 13:15 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Perjalanan Menemukan Bakat: Dari Gagal Hingga Kutemukan Diriku
Perjalanan dari kegagalan demi kegagalan sampai akhirnya menemukan bakat dan mencintai diri sendiri. Semua orang punya waktunya sendiri untuk bersinar.Nazwa Alifia Azzahra
Tulisan dari Nazwa Alifia Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu merasa minder ketika melihat orang lain begitu mudah menemukan bakatnya?
Dulu, aku sering merasa gagal dalam ajang pencarian bakat di kehidupan ini. Saat yang lain sudah punya arah, sudah tahu passion-nya, dan berhasil memanfaatkan potensi mereka, aku justru merasa hampa. Tak ada satu pun motivasi yang bisa membawaku maju. Aku bingung, apa sebenarnya yang bisa aku lakukan? Kegagalan demi kegagalan membuatku berpikir bahwa mungkin, aku tidak punya kelebihan apa-apa.

Karena kebingungan itu, aku mencoba banyak hal. Aku ikut berbagai lomba, mempelajari beragam keterampilan, hingga sekadar mengikuti teman dengan harapan bisa menemukan bakatku juga. Namun kenyataannya nihil. Aku sering gagal. Dan di titik tertentu, aku bahkan mulai berpikir bahwa mungkin aku memang tidak memiliki potensi apa-apa.
Titik terendah dalam hidupku datang ketika aku gagal total dalam sesuatu yang sudah kuperjuangkan dengan sepenuh hati. Aku menangis. Aku merasa sangat terpuruk. Namun dari kegagalan itu, aku mulai memahami sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya. Ternyata yang membuatku terus melangkah bukan karena aku merasa berbakat, melainkan karena aku berani mencoba dan tidak mudah menyerah, sesuatu yang kupelajari dari kisah inspiratif tokoh-tokoh sukses yang pernah gagal.
Perlahan aku mulai menyadari bahwa aku tidak perlu langsung menjadi hebat dalam sesuatu. Aku hanya perlu bertahan dan konsisten. Dari situlah aku mulai lebih fokus pada satu hal yang selama ini ternyata membuatku nyaman, yaitu menggambar. Awalnya hanya sekadar iseng di waktu luang. Lama-kelamaan menjadi pelarian. Bahkan menjadi sesuatu yang sangat aku cintai.
Bakat ternyata bukan sesuatu yang langsung terlihat. Kadang seseorang harus melewati serangkaian kegagalan, rasa kecewa, dan kebingungan terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan jalan pulangnya. Dan proses itu wajar. Tidak ada yang instan, dan setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Untuk siapa pun yang saat ini sedang merasa tersesat, percayalah kamu juga punya keistimewaan. Mungkin sekarang belum terlihat. Tapi jika kamu terus mencari dan berani gagal, lambat laun kamu akan menemukan versi terbaik dari dirimu sendiri. Karena sesungguhnya, perjalanan menemukan bakat adalah juga perjalanan mencintai diri sendiri.

