Konten dari Pengguna
Bayangan Merah di Bulan September
21 September 2025 12:01 WIB
Β·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Bayangan Merah di Bulan September
Apakah Gatot Nurmantyo dengan Bayangan Merah dari Bulan September akan kekal? Siapa yang membuat kekal? Apakah berdampak kepada kebudayaan kita?Alit Teja Kepakisan
Tulisan dari Alit Teja Kepakisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada dua berita penting di kumparan, satunya adalah Gatot Nurmantyo dan Kemunculannya Jelang Peringatan G30S/PKI dan Wawancara Eksklusif Gatot Nurmantyo: Saya Tak Nuduh βPKIβ, tapi Ingatkan TNI. Tentu saja, bicara soal Gatot Nurmantyo, terutama bulan September pasti kaitannya sebuah produk kebudayaan bernama film yang digarap oleh Arifin C. Noer.
Sebuah film yang barangkali kalau diputar menggunakan kaset, itu kaset sudah usang ingin diputar lagi dengan manuver - manuver Gatot Nurmantyo. Bahkan, Pusat Penerangan TNI sendiri memberikan pencerahan apa itu "proxy war" yang selalu dikutip oleh Gatot Nurmantyo, baik selama menjadi KSAD, Panglima TNI maupun sebagai apapun. Bahkan, quote yang paling menarik saat dirinya menjadi KSAD adalah "Pasien gila saja tidak pernah membakar rumah sakitnya sendiri. Ini mahasiswa gimana? Tapi bukan saya sebut mahasiswa gila lho," ujar dia pada saat dialog dengan aparat pemerintah daerah, DPRD, tokoh agama dan tokoh pemuda di Yogyakarta (20/4/2015).
Harus kita pahami, bahwa sang Jenderal yang ditunjuk oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo sebagai Panglima TNI itu, adalah generasi yang iklimnya menaruh peran militer amat penting sebagai stabilitator dan dinamisator (bahasa Ali Moertopo). Jadi, kalau tiba-tiba saja ada judul berita seperti di kumparan bahwa kemunculan Gatot Nurmantyo menjelang peringatan G30S/PKI, maka sebenarnya tidak usah heran.
Kembali ke persoalan September, soal sinema, sebenarnya saya sudah ulas mengapa produk kebudayaan bernama film ataupun karya sastra berupa novel dan cerpen yang menjadi legitimasi anti-komunis di Indonesia itu mempengaruhi cara pandang generasi terutama yang lahir pada saat de-Sukarnoisasi gencar berlangsung, seperti Ibu saya misalnya yang lahir tahun 1967, di saat de-Sukarnoisasi sangat gencar dilakukan.
Namun, berdasarkan penuturan Ibu saya kepada saya, bahwa dirinya yang hafal nama menteri di Kabinet Pembangunan dan (tentunya bukan hafal nama ikan, hahaha.) sering nobar film garapan Arifin C. Noer itu memang menjadi kebiasaan umum bagi mereka yang lahir di masa itu.
Dan, tafsir yang hanya satu-satunya dan benar wajib diterima adalah ya film itu. Bukan buku A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, yang dalam catatan Salim Said, itu adalah buku yang dilarang. Mudahnya, itu buku judulnya Cornell Paper. Pantas saja, mentalitas larang-melarang ternyata sudah sejak kelahiran Orde Baru. Sehingga, kalau kita membaca Laut Bercerita, terutama Laut bersama dengan Kinan, rela mencari Rumah Hantu di Seyegan, Yogyakarta, agar diskusi buku kiri mungkin sembari makan mie dan minum kopi menjadi lebih asyik.
Mengapa kiri ini lantas menjadi menakutkan? Dan, sampai kumparan mengaitkan bahwa kemunculan Gatot Nurmantyo adalah alarm akan September yang digambarkan dalam produk kebudayaan itu mengerikan?
September dan Bayangan Merah
Analisis yang selalu saya pakai untuk menggambarkan bagaimana bingungnya situasi pada 1 Oktober 1965 selain Mayor Jenderal TNI Reksosamudro yang ditunjuk sebagai caretaker Menteri Panglima Angkatan Darat lalu kemudian Panglima Kostrad Mayor Jenderal TNI Soeharto pagi itu juga mengambil alih komando adalah juga kebingungan apa yang sebenarnya terjadi setelah adanya pidato pagi itu dari RRI.
Pidato yang berisi pesan hidup mewah para jenderal yang menghina kaum wanita dan menelantarkan nasib anak buah lalu berfoya-foya (silahkan simak di film Pengkhianatan), itu disampaikan dan Soeharto menghubungi angkatan lainnya bahwa ia mengambil alih Angkatan Darat.
Namun, wartawan harian Angkatan Bersenjata di tahun 1965, bernama Salim Said, memberikan analisis bahwa ketika PKI kemudian dianggap sebagai dalang dibalik kebingungan dan kekacauan yang terjadi pagi 1 Oktober itu, kemudian semua mengingat apa yang terjadi 17 tahun sebelumnya yaitu Peristiwa Madiun 1948. Ya, peristiwa yang dibelakangnya juga ada PKI.
Keng Po pada 20 September 1948 sangat menarik untuk dibaca saat itu (1948) bahwa "P.K.I reboet kekoeasaan di MADIOEN" dan adanya kutipan pidato dari Soekarno bahwa "Pilihlah maoe Ikoet siapa : Moeso jang aken membawa bankroetnja tjita-tjita kemerdikaan Republiek, atawakah SOEKARNO-HATTA." Memang haruslah diakui bahwa genealogi mengapa kemudian konfrontasi antara Angkatan Darat sebagai kekuatan politik tersendiri pada masa Demokrasi Terpimpin itu sangat anti-komunis.
Entah, kebetulan atau tidak bahwa kemudian malam 30 September 1965 dan kemudian dieksekusi pada pagi hari 1 Oktober 1965 kemudian menjadikan September sebagai sebuah bulan dengan bayangan merah? Sehingga, Salim Said dalam analisanya bahwa referensi orang akan PKI itu adalah 1948 dan kemudian terjadi lagi pada 1965 pada akhirnya memberikan perlawanan yang lebih sengit.
Ini bisa kita bandingkan dengan militer di Mesir yang sangat keras akan Ikhwanul Muslimin. Pasca revolusi menggulingkan Raja Farouk, para Free Officers yang kemudian mendirikan Naguib sebagai Presiden, kemudian digulingkan oleh Nasser yang tidak ramah terhadap Ikhwanul Muslimin. Hal itulah kemudian yang dipegang oleh militer Mesir sampai kemudian Morsi naik menjadi Presiden dan kemudian El Sisi melakukan kudeta pada 2013. Satu benangnya yaitu anti terhadap Ikhwanul Muslimin.
Bayangan merah di September itulah kemudian yang menjadikan banyaknya perlawanan dari kaum Kanan terhadap kaum Kiri saat itu yang direpresentasikan oleh PKI. Wijaya Herlambang kemudian memberikan catatan yang sangat rapi (bahasa sekarangnya itu TSM) mengenai bagaimana produk - produk kebudayaan itu kemudian melanggengkan ketakutan itu.
Namun, buku yang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film, sebenarnya bukan sekedar berbicara soal teknis bagaimana film itu diproduksi, mutu estetika atau kritik sastra. Bukan, bukan itu. Tapi, juga komprehensif, bagaimana misalnya program anti-Komunis dan tendensius kepada Amerika Serikat ternyata bermain cukup intens, bahkan sebelum Demokrasi Terpimpin.
Misalnya saja Congress for Cultural Freedom (CCF) yang dalam bahasa Wijaya yaitu terbentuknya liberalisme di panggung kebudayaan. Bahkan, kebijakan untuk menaruh pengaruh AS juga berlangsung di bidang pendidikan. Misalnya, dengan Ford Foundation dengan memasukkan intelektual yang nanti ketika Orde Baru berdiri menjadi bagian dari arsitek kebijakan pembangunan.
Antara lain, Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Ali Budiardjo, Mirriam Budiardjo (yang terkenal dengan bukunya yaitu Dasar-Dasar Ilmu Politik), Emil Salim dan lain sebagainya. Semua inilah yang dikenal sebagai Mafia Berkeley. Dari sisi kebudayaan, dalam bidang sastra misalnya dengan distribusi buku, majalah, pamflet dan karya sastra dari CCF yang jelas merupakan benang utamanya adalah anti-Komunisme.
Memahami kenapa adanya bayangan berwarna merah di bulan September ini harus memahami bahwa saat terjadinya dua kali peristiwa yang melibatkan PKI itu adalah bahwa Perang Dingin masing sedang hangatnya. Apalagi, strategi yang paling tepat digambarkan di dalam film Pengkhianatan G30S/PKI itu adalah Peristiwa Kanigoro.
Dan juga, beberapa buku yang membahas Madiun juga berkaitan dengan adanya kekejaman terhadap para ulama. Maka lengkap sudah bahwa PKI selain ideologi yang Komunis dengan representasi tindakannya seperti land-reform atau aksi sepihak dan kemudian 7 Setan Desa, itu semakin membuat orang tergambar di dalam film layar lebar bahwa ini adalah ideologi yang terlarang selain karena sudah dikukuhkan lewat TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966.
Maka jangan heran, membahas Komunisme, maka ujungnya akan awalnya itu soal anti beragama. Bukan membahas Materialisme Historis (Histomat) atau Materialisme Dialektis (Diamat). Bahkan, bukan membedah teks rumit nan njelimet seperti Das Kapital itu. Bukan sama sekali. Artinya, kebudayaan yang dihasilkan adalah bahwa ketakutan itulah yang menjadi dasar semuanya, bukan karena memang ideologi itu sudah kalah dengan zaman.
Ini bukan sekedar berdampak kepada dunia pendidikan, yang seperti harus kulo nuwun apabila membahas Marxisme dan Komunisme. Bahkan termasuk kemarin ketika RKUHP menjadi perdebatan. Padahal, ketika membahas Marxisme atau Komunisme sebagai sebuah ide di dalam kampus atau ruang diskusi yang bahkan sudah kian elitis, hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu yang pemahamannya melewati sudah melewati teks seperti Lenin, kumpulan Mazhab Frankfurt dengan membahas Laclau, Mouffe, Gramsci, Slavoj Ε½iΕΎek, Badiou, bukan lagi pada pembukaan Marx seperti Manifesto Komunis yang sudah dilewati.
Maka, apa sebenarnya dampak yang lebih jauh berpengaruh selain soal bahwa buku komunisme dilarang atau penyitaan buku, bahkan euforia setiap bulan September yang selalu diulang-ulang ini berdampak sampai mana?
Kebudayaan Enggan Baca
Satu buku yang judulnya menarik adalah Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, bahwa Lekra (organisasi kebudayaan yang menjadi corong kebudayaan kiri saat itu) tidak membakar buku, seperti sebuah satire dan alarm untuk kita bahwa kebudayaan yang paling tepat terhadap buku adalah ya membakar buku alias enggan baca.
Seorang Salim Said, yang pendapatnya selalu tegas soal peristiwa 1965, bahkan bukunya yang berjudul Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto saja pernah disita. Bayangkan. Salim Said, yang begitu pendapatnya jelas dan sering mengajar di Sesko, Lemhanas bahkan salah satu muridnya adalah Gatot Nurmantyo dan juga Moeldoko, itu bukunya disita. Makanya, kenapa saya menyebut Cornell Paper diawal yang ditulis oleh Ruth McVey dan Ben Anderson itu sebagai bold penting dimulainya Orde Baru yang dalam tanda petik membuat kebudayaan kita menjadi enggan baca.
Karena, perselisihan intelektual tidak terjadi karena saat itu kita dikuasai kemarahan yang isi kalengnya adalah politik dan hanya ketakutan. Saya sendiri mengalami, ketika pertama kali saya baca buku Komunis, dan Ibu saya dalam tanda petik yang merupakan generasi yang dibesarkan oleh Kabinet Pembangunan itu, sedikit kaget ia bahwa ideologi ini mulai dibicarakan di teras rumah.
Yang mana, saat itu bicara politik saja rasanya mungkin mengerikan. Artinya, kita tidak menikmati reformasi ini dengan segenap kebebasan dari rasa takut. Masih menempel segenap doktrin. Inilah yang saya sebut dan sudah saya tulis panjang soal produk kebudayaan berupa penulisan sejarah ulang yang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Menurut saya, selagi pola pikir kita tidak berubah, maka penulisan sejarah ulang dan bahkan sudah ada yang diresmikan itu, sia-sia. Termasuk pula pola pikir kita yang baru kemarin di 2024, sempatnya masih ada yang berupaya membakar buku. Padahal, kebudayaan baca itu menjadi sebuah kewajiban kita terutama untuk mengurangi ketakutan akan bayangan merah dari bulan September.
Belajar sejarah perlu, tetapi bukan berarti mempelajarinya seperti menonton film horor yang harus dibayangi ketakutan. Kenapa saya semacam mengangkat adanya ketakutan ini? Akhir-akhir ini, Laut Bercerita dan Madilog, sangat laris dibahas di media sosial. Dan, itu bagus menurut saya. Suka saja terhadap buku itu awal yang bagus.
Tidak usah cinta, yang penting jangan benci terhadap buku. Sebuah awal yang bagus di tengah gencarnya generasi scroll short atau video pendek. Dan, inilah langkah yang menurut saya tepat. Sehingga, Menteri Kebudayaan Fadli Zon pun tidak terasa membuang garam ke laut yang sia-sia.
Dan cerita di dalam Laut Bercerita sendiri pun menarik, sekelompok anak muda yang bahkan membaca Pramoedya Ananta Toer menjadi sebuah hal yang menakutkan. Melejitnya penulis atau buku-buku yang sekiranya bisa membuat generasi muda (saya pakai generasi), sebuah awal yang bagus. Mempelajari sejarah itu tidak ada yang bisa melarang tetapi dengan ketakutan dan doktrinasi yang sifatnya dogmatis itu sama saja menghapus kritisisme.
Sehingga, tidaklah kita perlu kita akan takut oleh bayangan merah yang bahkan sekelas Salim Said sudah mengatakan bangkrut. Ya, bangkrut. China sudah menjadi ekonomi pasar, Rusia sudah dipimpin dengan cara Putin dan bahkan beberapa negara Eropa Timur sudah beberapa masuk kepada NATO.
Kini Perang Dingin memang sudah tidak lagi sekedar barat dan timur atau bahkan berbasis ideologi. Di tengah konflik global yang didasarkan pada tarif Donald Trump itu sebenarnya sudah tidak relevan lagi membicarakan Perang Dingin yang sudah pecah dengan runtuhnya Tembok Berlin dan bahkan Yuval Noah Harari mengatakan bahwa hanya dengan tulisan pena, Uni Soviet sudah bubar.
Pada 15 Juni 2006 misalnya, TNI lewat Pusat Penerangan, dengan tulisan di Bila Komunis Berbedak Demokrasi, menarik untuk menghalau komunis. Namun, yang lebih substansi adalah ketidakadilan, bukan organisasi bahkan ideologi yang barangkali mewah di dalam buku dan kompas pergerakan.
Siapapun itu rezimnya, dan partai politiknya harus mengutamakan keadilan dan melawan ketidakadilan. Komunis sebagai sebuah pemikiran yang sebenarnya sosiologi, filsafat dan gagasan politik itu akan selalu dikaji dan ditantang oleh zamannya, sehingga ketika runtuhnya Uni Soviet, ia dinilai gagal. Namun, sebagai sebuah pemikiran, ia kekal.
Namun, ketidakadilan adalah musuh utama, bukan lagi organisasi yang sudah bubar dan sudah berhasil dikalahkan oleh militer. PKI sudah kalah, PKI gagal dan PKI sudah bukan lagi hantu. Yang menjadi hantu dan selalu menakutkan adalah ketidakadilan. Hilanglah bayangan merah ketakutan itu. Dan, karena saya membuka dengan kutipan Negarakertagama, maka yang harus diserbu habis-habisan adalah ketidakadilan.

