Konten dari Pengguna
Hantu Itu Bernama Buku
30 September 2025 11:04 WIB
·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Hantu Itu Bernama Buku
Apakah buku itu menakutkan bagaikan Hantu? Yang selalu diburu? Apakah dia seram? Kalau seram, apakah dia hantu yang gentayangan? Alit Teja Kepakisan
Tulisan dari Alit Teja Kepakisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemarin, ketika membuka mata, lalu bersiap sejenak dan minum teh sebelum bekerja, sempatnya saya melihat tumpukan debu di rak buku, dan beberapa kertas di buku yang memang sudah ada bercak kekuningan (dikit). Ya, tidak terpikirkan pula saya saat membaca Laut Bercerita bahwa ada sekumpulan anak muda yang rela mencari rumah hantu di Seyegan demi membaca buku dan kemudian berakhir tragis.
Saya sedikit bersyukur (sekali lagi, sedikit) bahwa kini saya bisa membaca buku tanpa harus lagi mencari rumah hantu untuk membaca Marx bahkan menonton kuliah - kuliah atau diskusi Marx di sebuah sofa empuk dan ruang dingin yang barangkali tidak memerlukan BLT atau bansos dengan tayangan di Youtube.
Namun, begitu saya membuka notif berita hari itu setelah bersiap, saya mendapat berita Buku Pram 'Anak Semua Bangsa' Disita terkait Kasus Demo, Polda Jabar Klarifikasi. Yah, baru saja merayakan seabad Pram tahun ini. Kebetulan, saya baca berita itu pada 18 September. Yah, lagi-lagi, sebenarnya itu harusnya memperingati hantu PKI di Madiun, toh? Yang kejadiannya pada 18 September 1948.
Harian Rak'jat dan Lekra, sebagai salah satu (ingat, salah satu) sumber bacaan pada masa revolusi setelah G30S terjadi, akhirnya harus dihancurkan. Dampaknya, Ben Anderson dan Ruth McVey kena pula kajiannya dikenal sebagai Cornell Paper. Balik lagi ke buku yang disita yaitu buku Pramoedya Ananta Toer oleh Polda Jabar.
Entah ya, padahal saya kemarin agak optimis, setelah merayakan Seabad Pram ditambah ada Happy Salma yang berperan di peringatan itu sebagai Nyai Ontosoroh, bahwa buku bukan hanya akan jadi konsumsi mereka yang cinta buku, melainkan juga semua kalangan. Untuk mencapai Indonesia Emas di 2045, masa kita harus bakar apalagi takut sama buku?
Apalagi ada berita di kumparanHITS bahwa Peringati 100 Tahun Kelahiran Pramoedya Ananta Toer, Gerakan #SeAbadPram Dirilis, sudah ada gerakannya dan sekarang persoalannya bagaimana saya yang mengalami kanpas (kantong pas-pasan) ini bisa menjangkau cara berpikir secara utuh yang terkandung di dalam karyanya atau kumpulan esai seperti Hoakiau di Indonesia? Demi buku original, lho, bukan bajakan tentunya.
Maka, sebenarnya terasa aneh sekali, kita sering di cap minat baca rendah tapi kenapa buku begitu susah di hadapan hamba kanpas ini? Ditambah, ada tindakan dari aparat-aparat yang menyita buku. Padahal, apakah demo ricuh di Bandung mau menegakkan sosialisme? Sebab, di salah satu berita kumparan, ada buku Oscar Wilde yaitu Jiwa Manusia di Bawah Sosialisme?
Salah diagnosa, berdampak pada tindak lanjut. Jelas, tidak ada demo di Indonesia yang minta segera diterapkan gagasan John Rawls atau misalnya terapkan Karl Marx, kan? Apalagi bicara Marx, boro-boro keburu ditodong pakai TAP MPRS 25/1966. Dan, dituduh jadi keturunan PKI itu bikin sedih. Bikin sedih orang tua, maksudnya. Bukan kita.
Namun, kenapa tindakan seperti ini masih saja ada? Nyatanya, saya mencoba jalan-jalan secara virtual di marketplace, dan menemukan sebuah buku terbitan Marjin Kiri, lalu penulisnya adalah Fernando Báez yang judulnya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. Dalam hati, penghancuran buku? Ah, ada-ada aja, dalam hati saya. Tapi, karena judulnya cukup nyeleneh, akhirnya saya checkout. Ah, begitu baca pengantar dan pendahuluan lalu ke daftar isi, nyatanya bukan hal yang baru.
Bahwa, benda mati ini begitu menyeramkan dalam sejarah dan kini saya koleksi di kamar kecil ini. Namun, saya tidak membenarkan. Sekali lagi, saya tidak mengatakan itu hal yang normal. Namun, nyatanya terjadi di dalam sejarah bahkan dalam catatan Báez, itu sudah terjadi di masa Sumeria hingga peristiwa yang ia saksikan langsung adalah ketika Iraq di invasi oleh Amerika pada 2003.
Ya, begitulah catatan Báez. Yang menurut saya ini buku yang mengulas tentang perusakan buku itu sendiri. Jadi, apakah Báez mengatakan bahwa itu lumrah? Layaknya peran Umar Kayam saat memerankan Soekarno pada film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI yang mengatakan "lumrah" begitu enteng?
Menurut saya tidak. Tujuan menuliskan hal itu juga ingin menjelaskan bahwa apakah sungguh kita rasional dan menggunakan akal sehat memperlakukan benda mati, sekali lagi hanya sebuah benda mati yang tidak akan diresapi begitu dalam?
Sebagai pembaca dua kronik dari Muhidin M. Dahlan, saya membaca karyanya yang lain yaitu berupaya menandingi sebuah otobiografi, menurut saya. Yaitu karya Muhidin M. Dahlan berjudul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, yang secara ukuran ketebalan mau menandingi Prahara Budaya : Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI dkk.
Ya, naas menimpa Muhidin M. Dahlan, dia harus berhadapan dengan dua penegak hukum di eksekutif dan tentunya di yudikatif yaitu MK. Bisa dibaca dalam berita HMI Ajukan Uji Materi UU Pencekalan Buku. Bahkan, menurut cerita yang ia tuturkan, sempat bahkan menjadi buku terlarang.
Bayangkan ya, kita melakukan reformasi dengan segenap perjuangan di 1998 untuk mencapai sebuah republik yang benar-benar publik, bukan lagi dikuasai oleh kekuasaan yang berpuluh-puluh tahun dan kita berhasil memukul mundur kekuasaan itu, malah kita bisa bilang ada buku yang terlarang.
Lepas dulu dari sebuah buku Báez, bahwa memang apa sih yang membuat orang alergi akan gagasan? Barangkali, tepat atau tidak, saya akan menggunakan perumpamaan yang sederhana, berangkat dari pertanyaan seorang yang bukunya fenomenal yaitu Yuval Noah Harari.
Kenapa lebih menyeramkan mengajarkan teori Darwin daripada seorang teori Einstein? Namun, sebelum itu, saya akan semacam memberikan gambaran, seberapa sih barangkali "dosis" radikal teori baik Einstein maupun Darwin. Kesimpulannya, satu saja, keduanya sama - sama radikal di dalam paradigma. Namun, mengapa lebih mengerikan secara luas teori Darwin daripada Einstein?
Einstein, hanya semacam antitesis (barangkali memudahkan saja) terhadap Newton, yang barangkali merupakan terobosan daripada Pencerahan. Pada intinya, Newton adalah produk pencerahan di bidang sains yang kemudian kita kenal misalnya Hukum Newton atau gravitasi. Nah, Darwin, menentang siapa? Kepercayaan.
Inilah yang menjadi masalah, kenapa Charles Darwin lebih ditakuti bukan Einstein sebab bertentangan dengan keyakinan. Namun, bukan berarti keyakinan itu irasional. Nyatanya, sebelum sains menjadi sebuah raja baru setelah muncul pencerahan, yang menjadi motor adalah berbagai jenis kepercayaan yang ada di dunia. Artinya, itu rasional juga bagi manusia bahkan ada yang bertahan hingga saat ini.
Namun, tentu saja, ketika pendiri bangsa kita sepakat memilih republik, sebenarnya filosofi daripada republik itu bukan sekedar anti terhadap kerajaan. Seperti dalam buku - buku catatan tata negara, yakni Saldi Isra atau misalnya Robertus Robet yang menulis Republikanisme: Filsafat Politik untuk Indonesia, bahwa kita memilih republik semata karena lawannya adalah kerajaan.
Namun, ruang publik adalah ruang yang dalam tanda petik memisahkan ranah privat dari ranah publik. Dan, publik sebagai sebuah entitas yang berbeda merupakan ruang diskursus untuk mencapai common good. Maka, sebenarnya inilah filosofi yang barangkali deep dari republik, mungkin jarang diajari karena sejarahnya memang tanpa rumusan yang memadai.
Pada sejarahnya, kita kembali ke buku, mungkin saya berasumsi karena saya bukan sejarawan yang meneliti langsung, bahwa buku itu memang bukanlah konsumsi yang seperti saat ini yaitu ada di marketplace atau katakanlah toko buku yang sudah menjamur tidak hanya di mall. Sehingga, buku memang akan sangat menyeramkan apabila ditulis untuk mencemari pikiran elit.
Ini saya berasumsi, bahwa sebagaimana mungkin fase sejarah kita yaitu ada yang disebut masa pemburu-pengumpul, masa pertanian, masa revolusi industri dan kini mungkin 4.0 bahkan 5.0 (mungkin terlalu menyederhanakan , namun supaya mudah untuk dibayangkan) bahwa kita memiliki segala kepercayaan di masa pertanian bukan pemburu pengumpul.
Dan, itu yang menjelaskan bahwa kenapa buku hanya menjadi konsumsi elit. Bahkan, kalau kita mencermati film atau bahkan karya dari Umberto Eco yang berjudul The Name of the Rose, khusus untuk film-nya, di akhir video terlihat bahwa si penyidik (atau penyelidik) kasus itu, yaitu William of Baskerville, ketika perpustakaan terbakar di akhir cerita ia malah menyelamatkan beberapa buku. Dan, ia menyelamatkan buku. Kalau kita, mungkin memikirkan ada benda apa yang mungkin bisa jadi jualan, dia menyelamatkan buku.
Nah, bahkan asumsi saya kemudian menjadi sebuah bukti barangkali, ketika James Robinson dan Daron Acemoglu menulis di dalam bukunya berjudul Why Nations Fail, bahwa penemuan mesin cetak itu sangat berdampak sekali kepada apapun yaitu penemuan dari Johannes Gutenberg di abad ke-15. Ya, itulah yang berdampak, dan terjadi dalam tanda petik "hilirisasi gagasan" bukan "hilirisasi nikel".
Hilirisasi gagasan itu bukan hanya sekedar guyon dari saya, melainkan sebuah fakta. Bahkan, di Indonesia sendiri juga terjadi hal demikian, mengapa selain Politik Etis (pasca Tanam Paksa) pada abad ke-19, yang berpengaruh terhadap "hilirisasi gagasan" adalah pers (media). Banyak dari kita kurang menyoroti bahwa sebagian besar di BPUPKI itu adalah seorang jurnalis.
Sebut saja, Soekarno, Hatta, Iwa Kusumasumantri, Yamin dan banyak lainnya di BPUPKI. Tidak hanya berhenti sampai disana, ada seperti Syahrir, Natsir, Amir Sjarifuddin, Haji Agus Salim dan banyak intinya pendiri bangsa ini adalah bagian dari jurnalis. Maka, tidak salah seorang Rocky Gerung mengatakan bahwa pendiri bangsa Indonesia adalah sekaligus guru.
Media adalah sarana yang menyebarkan gagasan mereka itu, baik itu mengenai ketidakadilan seperti Hatta di Daulat Ra'jat atau Soekarno di Fikiran Ra'jat. Maka, jejak pemikiran pendiri bangsa ini ada di koran. Ya, harus diakui. Bukan di arsip negara yang diterbitkan oleh misalnya Departemen Penerangan (dulu sebutan untuk Kementerian Komunikasi dan Informasi).
Gagasan seperti Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme atau tulisan Soekarno yang bak orang berpidato menghadapi kolonialisme berapi-api atau misalnya Hatta yang bisa barangkali kita sebut sebagai gunung berapi, yang tidak berisik namun sekalinya meletus dalam tulisan yang padat, panjang dan memang benar seperti kata Jusuf Kalla yang pernah menjadi asisten Bung Hatta atau Muhidin M. Dahlan, saking padatnya dengan sejarah, filosofi dan kemudian referensi itu memang bikin mengantuk.
Namun, perbedaan gaya itu tidak membedakan semangat untuk merdeka. Itulah mereka yang lahir dari pers. Mereka mengalami yang namanya hilirisasi. Coba kita bayangkan, sebelum pers menjadi wahana intelektual dan diskursus publik oleh para pendiri bangsa kita, dimana yang namanya karya tulis itu muncul? Mungkin tidak semua, tetapi sebagian besar ya di Keraton, melalui para Pujangga.
Sebut saja, misalnya Yasadipura atau Ranggawarsita, bahkan lebih jauh mundur lagi yaitu Nāgarakṛtâgama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa Majapahit, ditemukan misalnya baru sekian ratus tahun setelah Majapahit runtuh dan ditemukan di Lombok oleh J.L.A Brandes. Bahkan, beberapa juga ditulis langsung oleh pemimpin pada masa itu misalnya Mangkunegara IV dengan serat atau karya-karya lainnya. Namun, garis besarnya karya mereka adalah karya yang tumbuh dari tembok Keraton.
Mesin cetak, merobohkan itu semua. Dari puisi ke prosa seperti Soekarno yang selalu meletakkan tanda seru dan Hatta yang tenang namun meletus seperti gunung berapi yang sekali aktif membuat guncang kolonial. Manifestasi saat itu memang hanya melalui cetak pers, koran atau bahkan majalah.
Kini, kita memiliki semua itu bahkan yang digital. Dan, kalau saya menyebutkan "hilirisasi gagasan" terjadi pada masa mesin cetak, maka sebenarnya hilirisasi itu bisa kita rasakan dan kadang kita sampai lelah mau menulis apa untuk saat ini.
Artinya, sebagai penutup, saya mau mengatakan bahwa mengapa buku ini begitu kita takuti? Apa yang rasional untuk kita takuti dari buku? Kembali ke soal buku yang disita. Pertanyaan saya, mengapa kita justru kesannya masih mengalami kemunduran? Meski, harus diakui, sekalipun di masa Soekarno (lebih tepatnya Demokrasi Terpimpin) terjadi penyitaan akan buku, namun semua tahu bahwa siapa yang sebenarnya melakukan hal itu.
Kita tidak mesti menyalahkan pemimpin politik. Saya yang percaya bahwa buku itu adalah sesuatu yang sangat indah maknanya. Bahkan, seperti Prabowo sendiri menuliskan yang namanya Paradoks Indonesia, sebagai sebuah filsafat atau pandangan daripada Prabowo Subianto yang kini sebagai Presiden Republik Indonesia. Tentu, buku Prabowo Subianto adalah buku yang bukan sekedar formalitas. Coba, Anda perhatikan, khususnya yang cetakan tahun 2017.
Presiden kita pembaca sekaligus penulis buku, lalu, mengapa kita alergi akan gagasan? Ketika kita menuliskan sesuatu dan melempar itu baik dalam bentuk buku, pamflet atau tulisan di kumparan, maka kita menjadikan itu sebagai diskursus yang bukan mengerikan bagaikan hantu yang gentayangan bagaikan arwah tidak tenang. Maka, apakah hantu itu bernama Buku? Tidak.
Bahkan, kalau kita pakai kisah Laut Bercerita, Biru Laut tidak menganggap buku itu adalah Hantu. Namun, ia bersama Kinan dan temannya rela mencari Rumah Hantu di Seyegan untuk membaca buku supaya tidak diburu. Jadi, siapa hantu sebenarnya? Biarlah waktu yang akan menjawab, sekian.
Selamat membaca buku.

