Konten dari Pengguna

Ksatria dan Pertanyaan Kebenaran

Alit Teja Kepakisan
Penulis dan Mahasiswa Universitas Terbuka
1 Oktober 2025 17:34 WIB
·
waktu baca 14 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ksatria dan Pertanyaan Kebenaran
Apakah Ksatria yang memang melaksanakan kewajibannya itu bisa tanpa pamrih dan kebenaran itu adalah landasan di dalam perang? Lalu, apa tanggung jawab sang pemegang senjata?
Alit Teja Kepakisan
Tulisan dari Alit Teja Kepakisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lukisan bergaya Kamasan dari Bali, menggambarkan adegan saat Supraba berpura-pura bercengkerama dengan Niwatakawaca demi mencari tahu kelemahannya, sementara Arjuna mengintip di sisi kanan. Sumber : https://www.wikiwand.com/id/articles/Kakawin_Arjunawiwaha
zoom-in-whitePerbesar
Lukisan bergaya Kamasan dari Bali, menggambarkan adegan saat Supraba berpura-pura bercengkerama dengan Niwatakawaca demi mencari tahu kelemahannya, sementara Arjuna mengintip di sisi kanan. Sumber : https://www.wikiwand.com/id/articles/Kakawin_Arjunawiwaha
Beberapa hari terakhir, beranda Youtube saya selalu saja lewat sesuatu yang barangkali sudah sekian tahun saya lewatkan yaitu soal Mahabharata. Mungkin ada relevannya, sebab di kumparan (khususnya beberapa bulan terakhir), saya sering menulis soal militer dan tentu saja kisah Mahabharata atau lebih spesifiknya Bharatayuda, itu memang sedikit banyaknya soal militer.
Namun, saya tidaklah bisa membahas atau mengupas Mahabharata dari sisi literasi. Sebab, pengetahuan saya akan Mahabharata selain juga tontonan di televisi sepuluh tahun silam mungkin, adalah pewayangan yang sedikit saya lumayan mengikuti meski tidak terlalu fasih. Tentu, bagaimanapun, kebudayaan yang mungkin berbicara soal pembagian kasta itu adalah kebudayaan India. Yang mungkin lebih spesifik lagi adalah Hindu.
Namun, saya karena seorang yang belajar sosiologi, tampaknya saya mungkin tidak akan berbicara kesana. Namun, kata "ksatria" kembali terdengar gaungnya lewat seorang politisi bernama Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul, yang dalam beberapa kesempatan selalu mengatakan apa yang disebut sebagai "anggon-anggone ksatria" atau kaitannya dengan gagasan sebagai seorang "Korea" yang melenting itu.
Namun, karena saya belajar sosiologi dan tentunya sebagai ilmu yang lahir dari rahim filsafat dan dikembangkan salah satunya oleh Marx, kita bisa menganalisa dengan pijakan kelas, mengapa kelas bernama "ksatria" ini berbeda sekali dari kelas lainnya.
Sang Pemegang Senjata
Petrus Josephus Zoetmulder dalam karyanya berjudul Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Kelayang Pandang, yang cukup fenomenal (menurut saya), itu salah satu bagian yang menarik adalah soal Arjunawiwāha. Kisah Arjunawiwāha ini bermula ketika Niwatakawaca (raksasa, daitya) yang akan melakukan menyerang surga yaitu kerajaan Indra. Namun, Niwatakawaca adalah raksasa yang tidak dapat dikalahkan baik oleh dewa maupun raksasa, maka pilihan jatuh kepada seorang manusia.
Arjuna, sebagai seorang ksatria dan konteks terjadinya peristiwa ini adalah ketika masa pengasingan ke dalam hutan dan kemudian memilih untuk bertapa di Gunung Indrakila. Karena dewa dan raksasa tidak mampu untuk mengalahkan Niwatakawaca namun manusia, maka pilihan itu jatuh kepada Arjuna.
Arjuna pun melakukan tapa-brata, menyadari bahwa ia melakukan yoga itu bukan untuk kebahagiaan dan kekuasaan, untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kewajiban dirinya sebagai ksatria dan juga membantu kakaknya yaitu Yudhistira (sering disebut dalam wayang sebagai Puntadewa) kembali merebut kerajaan demi kesejahteraan seluruh dunia. Dewa Indra yang menguji apa tujuan Arjuna melakukan tapa-brata itu dengan cara menyamar seorang tua yang bijak.
Setelah mendengar tujuan itu, maka Dewa Indra yakin bahwa Dewa Siwa akan memberikan sebuah panugrahan kepada Arjuna. Ia turun dalam wujud sebagai sosok suku yang terasing bernama suku Kirata dan itu dikarenakan para raksasa telah mengutus seorang raksasa bernama Muka yang berwujud babi hutan untuk mengacaukan sehingga Arjuna keluar dari pertapaan.
Diceritakan bahwa babi hutan itu tewas dan kemudian perdebatan terjadi antara orang Kirata dan Arjuna sendiri mengenai siapa yang akan menuntut binatang itu. Lalu, akhirnya Arjuna yang nyaris kalah, kemudian orang Kirata itu berubah wujud menjadi Dewa Siwa yang menampakkan diri dalam wujud Ardanariswara dan kemudian diberikan sebuah panah bernama Pasupati.
Setelah menghadapi Niwatakawaca dengan cara mengetahui kelemahan Niwatakawaca dan memenangkan pertarungan dengan menembakkan panah ke mulut Niwatakawaca, kemudian kalah. Penghargaan diberikan kepada Arjuna dan kemudian ia menikmati hasil dari sikap "ksatria" itu dengan bersemayam bagaikan seorang raja di atas takhta Indra. Setelah itu, pernikahan dilakukan dengan upacara sebanyak tujuh kali dengan tujuh bidadari. Namun, dalam tafsir saya, seorang ksatria yang memang jago bertempur tidak nyaman menjadi seorang raja. Lantas, ia meminta Dewa Indra untuk diantar ke Bumi oleh Matali dengan kereta.
Inilah sekelumit kisah Arjunawiwāha. Sebuah kisah yang akan saya tarik ke dalam pembahasan "Sang Pemegang Senjata" ini. Namun, yang menarik adalah bahwa Zoetmulder memberikan catatan bahwa kisah ini terjadi dalam konteks Wanaparwa. Dan, saya ingin mengutip ada hal penting yang barangkali penting untuk dilihat mengapa kalau kita menganalisis kelas, ini menarik sekali yaitu bahwa :
Yang ingin saya kutip adalah soal "meletakkan senjatanya" dengan konteks ketika ia sudah keluar dari kewajibannya. Barangkali, pernah ada yang mendengar kisah Julius Caesar ketika ia menyebrangi Sungai Rubicon dan tindakan itu dikenal melanggar dengan menyebrangi dan membawa pasukan adalah tindakan yang mengajak perang. Dan, dalam konteks hari ini, mengapa ksatria itu selaku pemegang senjata, itu memang hidupnya dalam tanda petik sedikit banyaknya dikungkung hanya bisa menaati sebuah kewajiban saja?
Saya membuka bagian ini dengan kisah Arjunawiwāha bukan tanpa sebuah alasan. Sebab, kisah ksatria yang memang paling sangat "kastaistik" adalah ya Bharatayuda. Namun, karena memang bisa dikatakan bahwa baik Bharatayuda atau Mahabharata secara keseluruhan adalah alur cerita, bukan sebuah diskursus mengenai sebuah teori, kita bisa melacak diskusi yang memang bisa kita lihat sebagai alasan rasional mengapa kelas ini sangat beda dan khusus dari kelas lainnya.
Keadilan Prajurit
Diskusi yang cukup melelahkan itu terekam dengan pertanyaan pertama yaitu "apa itu keadilan" yang dibuka oleh Sokrates kepada Kephalos oleh Sokrates dalam karya Platon yang kita sebut sebagai The Republic atau sering juga Politeia.
Sebelum itu, mungkin kita harus bisa melihat bahwa ada tingkatan jiwa dalam pengertian Platonisian. Tingkatan itu ada tiga antara lain logistikon, thymos dan ephitumia. Supaya kita tidak terlalu "njelimet" dengan istilah Yunani, sederhananya ada tiga jiwa yang mewakili tiga tubuh yaitu kepala, dada dan perut (termasuk perut ke bawah).
Mungkin kita sederhanakan, meski akan mendekati tepat, yaitu bahwa tiga jiwa ini adalah representasi daripada sebuah polis (kini kita bisa sebut sebagai sebuah negara). Yang mana kepala mewakili pemimpin, dada mewakili prajurit dan perut (termasuk perut ke bawah) itu adalah kaum pedagang.
Namun, semua itu adalah berupa Dikaiosynê (keadilan) yang dalam wacana panjang nun berbelit-belit ala Sokrates menjelaskan mengapa kaum seperti tentara (atau dalam dialog sering disebut kaum penjaga) itu bahkan hidupnya cukup "ngenes" misalnya makan diatur, tidak boleh memiliki harta berlimpah, dan lain sebagainya? Platon, lewat sang juru bicara menjelaskan panjang mengapa itu terjadi.
Saya akan kutipkan salah satu sela Adeimantus kepada Sokrates dalam Buku IV The Republic :
"Apa jawabanmu, wahai Sokrates, jika ada orang yang mengatakan bahwa engkau membuat kehidupan para peenjaga negara ini menyedihkan, dan bahwa mereka juga tidak bahagia karena kesalahan mereka sendiri? Maksudku, bukankah kenyataannya negara ini milik mereka, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari negaranya, sementara orang lain bisa memiliki lahanl membangun rumah-rumah besar dan indah dengan segala perlengkapannya, bisa memberikan pengorbanan kepada para dewa atas nama pribadi, dan bisa menyambut tamu mereka sendiri. Selain itu, seperti engkau katakan tadi, orang lain juga bisa memiliki emas dan perak dan semua yang biasa dimiliki orang-orang kaya, sedangkan para tentara kita menyedihkan, keadaannya tidak lebih baik dari tentara bayaran yang tinggal di benteng dalam kota, yang setiap saat harus ssiap siaga menjaga keamanan."
Sengaja saya mengutip panjang sela Adeimantus, karena itu adalah gambaran dari wacana Sokrates mengenai negara ideal yang mencoba memberikan desain bagaimana kaum penjaga itu di bagian sebelumnya yang dibuka mengenai pendidikan apa yang harus dimiliki seperti pendidikan musik (sastra), gimnastik dan kemudian filsafat. Tentara, memiliki kedudukan yang khusus seperti yang dikatakan oleh Sokrates. Namun, semua kedudukan sebenarnya sudah digambarkan oleh Sokrates.
Bahwa, Sokrates mengatakan semua warga negara itu tercipta seperti sebuah komposisi yang kelak menentukan tugas mereka. Sebagaimana tergambarkan di dalam Buku II, yaitu Dewa membentuk komposisi yang berbeda. Antara lain komposisi emas adalah mereka yang memiliki kemampuan memimpin, komposisi perak yang menjadi pembantu para memimpin dan sisanya komponen kuningan dan besi akan menjadi petani dan tukang.
Dan, itu semua tidak boleh tercampur bahkan komposisi emas tidak boleh merasa iba kepada komposisi kuningan atau besi. "Karena, orang bijak berkata bahwa ketika orang dengan komposisi kuningan dan besi diberi kepercayaan untuk memikul tugas menjaga negara maka negara akan hancur". Meski konteks pembicaraan ini sebenarnya bisa dikatakan sebuah alegori, namun kita sudah mendapatkan gambaran bagaimana selain jiwa, ada alegori yang diselipkan selain hanya Alegori Gua yang terkenal itu.
Supaya mudah memahami jiwa ini, saya berikan sebuah gambaran sederhana bahwa warga yang kemudian memiliki tugas sebagai pemimpin, tentara dan kaum pedagang itu tidak bisa mencampuri satu sama lain. Artinya, seorang pemimpin tidak bisa menjadi pedagang (tidak bisa jadi Pengpeng, penguasa-pengusaha seperti di dalam kisah dunia antah-berantah itu) atau tentara pun sebaliknya juga tidak bisa menjadi demikian.
Sebab, ketiga jiwa itu memiliki nafsu atau semacam tujuan bahwa kepala itu harus menjadikan rasionalitas sebagai acuan, tidak lagi makanan dan minuman atau kebanggaan seperti tentara. Lalu, kaum tentara juga hanya memiliki sebuah kebanggaan dan keberanian sebagaimana yang juga digambarkan oleh Platon dalam karyanya Lakhes. Dan, kaum pedagang juga hanya menjadi pedagang, karena mereka adalah representasi daripada perut (dan perut ke bawah).
Maka, kalau kita simpulkan bahwa kehidupan kaum penjaga/tentara dalam perspektif Platonisian adalah hanya kebanggaan. Thymos. Itulah kira-kira yang bisa kita dapatkan. Memang, tidak bisa dijelaskan, kenapa jiwa dada (Thymos) ini hanya maunya kebanggaan dan memiliki sebuah keberanian yang mana siap menjaga negara. Dan, bahkan seperti yang digambarkan Adeimantus, mereka hidupnya seperti digambarkan oleh Sokrates terlalu "menyedihkan"?
Ya, memang itulah konsekuensinya. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana misalnya keberanian itu berkorelasi dengan kebenaran? Ini muncul di benak saya ketika misalnya membayangkan kenapa Bharatayuda terjadi dengan corak perang sesama Dinasti Kuru dan kemudian bahkan ada yang mengatakan bahwa itu perang sesungguhnya tidak suci sama sekali.
Namun, apakah itu benar? Bahwa sebenarnya tidak ada dharma (kebenaran) yang menyertainya?
Apakah Tanpa Mengharapkan Pamrih?
A. Sudiarja dalam tulisannya di Majalah Basis berjudul Kebebasan, Moral dan Kebahagiaan, yang kebetulan mengkaji soal Bhagavadgītā, dalam halnya akan saya petik sedikit banyaknya. Sebab, ulasan yang penuh akan istilah Hindu (atau istilah India), cukup padat sehingga saya akan mengambil esensinya.
Berawal dari sebuah keraguan akan Arjuna saat Bharatayuda. Krisna, sebagai kusir sekaligus penasihat Arjuna dan kemudian sebagaimana dikutip di dalam tulisan A. Sudiarja bahwa Krisna memberikan pemahaman agar tidak ragu dan tidak bimbang di dalam peperangan. Sebab, Purusa atau jati diri tidaklah berubah. Sebab, yang menggerakkan Arjuna apa yang disebut sebagai sebuah istilah rajas (energi/nafsu).
Meski disini akan ada penjelasan mengenai Triguna yaitu Brahmana yang digerakkan oleh sattva, Ksatria adalah rajas dan kemudian Waisya dan Sudra adalah tamas. Kodrat mereka ini sudah menentukan apa yang akan menjadi tugas atau kewajiban mereka. Keberanian tinggi, bersemangat, tahan uji, terampil dan tidak kabur dari peperangan terbuka adalah sikap Ksatria.
Dalam satu kisah ketika Arjuna ingin membunuh Jayadrata yang disebabkan kematian Abimanyu (putra Arjuna), ia berjanji apabila di hari itu ia tidak bisa membunuh Jayadrata maka ia akan membakar dirinya sendiri. Namun, dalam beberapa cerita yang saya baca, bahwa ketika hari itu terasa cepat senja, Krisna dengan Cakra Sudarsana membuka tipu itu dan kemudian setelah Jayadrata yang girang karena mengetahui Arjuna akan membakar diri keluar dari barak namun akhirnya ketika matahari ternyata belum terbenam akhirnya tidak ragu Arjuna menggunakan kemampuan memanahnya dan panah itu membawa kepala Jayadrata kepada pangkuan ayahnya Raja Wridhakshatra dan lenyap bersama.
Ia berpegang kepada janji, meski kemenangan di pihaknya, namun ia tidak ragu untuk mau membakar dirinya apabila ia gagal membunuh Jayadrata di hari itu. Namun, di lain hal, saya akan mengutip kisah dari pihak Kurawa dan sekaligus lawan panah Arjuna sendiri yaitu Karna.
Karna, bisa dikatakan sebagai Panglima terakhir dari Kurawa setelah Bhisma dan Drona telah meninggal, Karna bisa dikatakan adalah orang yang sangat Ksatria. Entah, mungkin bukan hanya saya yang barangkali sedikit terharu melihat Karna akan mati dipanah oleh sang lawan sekaligus merupakan keluarganya sendiri yaitu Arjuna. Apa bukti paling nyata bahwa ia adalah seorang Ksatria?
Ketika perang terjadi di malam hari, pasca kematian Abimanyu, Bima yang memiliki istri bernama Hidimbi dan memiliki putra bernama Gatotkaca kemudian dipanggil. Sebagai raksasa (memang keturunan raksasa), sulit dikalahkan. Apalagi, bisa dibayangkan bahwa saat itu perang terjadi malam hari dan pihak Kurawa yakin sekali bahwa ini sulit dikalahkan. Dan, kita harus mengetahui kisah bahwa Karna sudah tidak memiliki kesaktian berupa tameng besi di tubuhnya yang merupakan panugrahan dari Dewa Surya, yang kemudian diberikan kepada Dewa Indra yang menyamar sebagai rsi .
Namun, setelah anting-anting dan baju besi itu diambil dengan melukai tubuhnya, ia dibekali sebuah senjata panah yang hanya bisa digunakan sekali bernama Vasavi Shakti, adalah bekal terakhir seorang Karna. Sebenarnya, itu bisa digunakan untuk membunuh Arjuna, sang lawan sejati. Namun, di hari itu, demi Kurawa yang ia bela, ia lakukan itu dengan membunuh Gatotkaca.
Namun, kaitannya soal pamrih adalah hal yang menarik bahwa pembelaan Karna akan dirinya di pihak Kurawa karena dirinya diangkat derajatnya oleh Duryodana yang kita kenal sebagai Raja Angga. Dan, mesti kita tahu pula bahwa Karna adalah putra yang bissa dibilang sebagai anak Kunti (Ibu dari Pandawa) yang dibuang agar tidak menjadi "aib", kemudian dipungut kusir. Ini yang membuat ia selalu bersikap Ksatria meskipun ia tidak diakui untuk mendapatkan kehormatan/kebanggaan.
Bahkan, dalam beberapa catatan, Karna meski ahli, namun Drona tidak pernah mengakui karena ia tidak memiliki silsilah yang jelas. Atas dasar itulah pengabdiannya pada Kurawa kemudian menjadi sesuatu yang imperatif kategoris (kita menggunakan istilah moral dalam Immanuel Kant). Meski kemudian dikisahkan sebelum mati oleh Arjuna, ia diberi wejangan oleh Krisna, nyatanya ia tetap saja tidak berpindah dan bahkan mengetahui bahwa lawannya Pandawa adalah saudaranya sendiri.
Ia tetap mati ketika mengangkat roda kusir yang mana saat itu Raja Madra (paman dari Nakula) yang menjadi kusir Karna. Meski, kisah Raja Madra ini menurut saya sebenarnya entah anekdot atau tidak, bahwa ia dijebak oleh Kurawa atau salah masuk tenda dan kemudian dia menjadi pembela dan harus mati di tangan Yudhistira. Ini disebabkan bukan karena pamrih, melainkan karena ia telah bersumpah.
Pada intinya, sekalipun memang dalam dua cerita baik Arjuna maupun Karna kita tidak menemukan pamrih yang berarti, namun apakah mereka memang bisa dikatakan sudah menemukan etika Kantian yaitu Imperatif Kategoris yang secara mudah bahwa etika itu lakukan sesuatu yang memang sebuah kewajiban tanpa memikirkan konsekuensi? Saya akan tetap berfokus kepada persoalan Ksatria ini. Mengapa? Karena apabila akan dalam membahas ini, ada kaitan bahwa kisah Mahabharata yang sebenarnya terdiri dari susunan beberapa Parwa (seperti Adiparwa, Dronaparwa, dan lain sebagainya) adalah berkaitan dengan Awatara, yaitu perwujudan Dewa Wisnu ke dunia untuk menghadapi ketidakadilan, yang mana dalam hal ini adalah Kurawa.
Namun, apakah kaum Ksatria ini memang senyatanya bertindak memang murni (semurni-murninya) bisa untuk bertindak semata untuk kehormatan?
Soal Kebenaran
Francis Fukuyama, dalam Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, kebetulan juga mengutip hal yang sama yaitu soal percakapan Adeimantus dan Sokrates. Fukuyama, mengatakan bahwa ilmu ekonomi modern soal "utilitas" itu tidak mempengaruhi jiwa bernama Thymos ini.
Sebab, hanya jiwa ini yang tidak hanya berpikir kalkulasi soal makan, minum bahkan Lamborghini. Tidak. Namun juga adalah bahwa soal kehormatan yang kemudian bahwa Fukuyama berpendapat jika politik identitas atau kebencian yang timbul khususnya di era demokrasi masa kini adalah karena Thymos. Politik identitas itu berkaitan dengan Thymos.
Namun, bagaimana posisi kebenaran? Bahkan, Fukuyama secara ekstrem mengatakan bahwa Sokrates menempatkan posisi penjaga ini bahkan intinya hanya demi kehormatan untuk kebaikan bersama. Benar atau salah, barangkali hanya soal belakangan. Namun, ini adalah sebuah pertanyaan yang barangkali mendasar : apakah Kurawa yang merupakan Ksatria adalah tidak memiliki kebenaran?
Ini adalah pertanyaan yang terdengar konyol, namun perlu kita pertimbangkan. Bahwa, apakah perang yang terjadi di Kurukshetra, hanya sekedar murni bahwa Kurawa adalah adharma dan Pandawa adalah dharma? Lantas, apakah Sengkuni yang "intelek" namun licik sekaligus menjadi pembisik Duryodana dan lebih spesifik adalah Hastinapura, adalah hanya kepentingan keluarga tanpa sebuah embel-embel eskatologis seperti di pihak Pandawa?
Saya menafsirkan, yang membedakan antara Pandawa dan Kurawa adalah bukan kesucian melainkan kewajiban apa yang mendorong pihak kubu itu untuk melawan dan bertempur dengan membela mati-matian. Kalau kita berbicara dari sisi Kurawa, hanya sisi sang Panglima yaitu Bhisma, Drona, Karna dan terakhir adalah Salya (Raja Madra).
Mereka semua nyatanya tidak berkepentingan dalam hal kewajiban kodratnya sebagai sebuah seorang Ksatria yang memang "engkau harus bertempur" tanpa menggunakan alasan "Tapi, Karena" atau apapun. Tidak. Drona misalnya, karena Aswatama adalah teman baik Kurawa saja, kan? Lalu, Bhisma yang menyebabkan Krisna murka akibat dirinya yang yakin sakti dan sebagai pembela Hastinapura tanpa menggunakan kebenaran sebuah nilai di belakangnya.
Karna, sudah kita jelaskan sebelumnya dan Salya pun juga sekilas bahwa ia berjanji karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak terlalu besar. Namun, Pandawa pun apakah ia benar-benar murni berperang karena tanpa terjadi dipermalukannya Drupadi? Bahkan, Bhisma pun juga demikian. Apakah bijaknya seorang Bhisma (atau pertanyaan untuk Ksatria pula yang membela Kurawa), tidak mengetahui bahwa kekuasaan itu seperti orang gila, bahwa kalau kita yang waras membunuh orang gila, kita diancam hukuman. Tapi, orang gila yang membunuh orang waras, tidak diancam dengan hukuman.
Lalu, apa sebenarnya arti Ksatria ketika ia bertempur demi sebuah kekuasaan saja tanpa mempertimbangkan kewajiban yang sejati-jatinya lantas kebenaran kewajiban atau kebenaran yang sifatnya utilitass? Ini mengajak untuk berpikir, bukan untuk menggurui. Sekian.
Trending Now