Konten dari Pengguna
Sophie, Filsafat, dan Sophia Latjuba
22 Juli 2025 9:16 WIB
·
waktu baca 9 menit
Kiriman Pengguna
Sophie, Filsafat, dan Sophia Latjuba
Apakah filsafat itu penting, apalagi jurusannya? Ya, pertanyaan demikian sudah filsafat. Philos dan Sophia, dan jangan isi Sophia Latjuba ya. Itu cinta kebijaksanaanAlit Teja Kepakisan
Tulisan dari Alit Teja Kepakisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nitijin (Netizen) kita beradu argumen soal apakah filsafat masih penting atau jurusan filsafat itu penting? Ha, saya sendiri bingung mau kubu pro-kontra, sebab, esensi nitijin adalah menang. Bukan demi filsafat itu sendiri, toh?
Padahal, filsafat sendiri definisi normatip versi perkenalan adalah Pilus, eh, Philos maksudnya, dan Sophia. Artinya apa? Cinta kebijaksanaan. Bukan cinta Sophia Latjuba, ya.
Jangan ditafsirkan begitu.
Tapi, ada Sophia yang lain yakni Sophie Gaarder, bocah kecil yang diajak merenung di tengah hingar bingar Perang Dingin (notabene juga perang filsafat Kaumunis, haha) abad ke-20, yang ditanya :
“Siapakah kamu?”
Mungkin, dari sekian buku filsafat untuk menangkap inti filsafat itu apa, sebenarnya ya hanya dari sebuah surat yang bisa dibilang sederhana dengan pertanyaan filosofis bahkan kalau kini amat receh. Bahwa filsafat itu (awalnya) gak serumit apa yang dibilang Rocky Gerung di tayangan Indonesia Lawyers Club, kok.
Dari sekian argumen filsafat Rocky Gerung, yang keluar hanya 30%, sisanya logika politik yang notabene ilmu logika, mungkin pake silogisme Aristoteles, sebab Rocky Gerung akan menyadari bahwa lawan bicaranya bahkan tidak akan menghabisi buku yang ia endorse dari seorang filsuf Bertrand Russell yakni A History of Western Philosophy.
Sehingga, Rocky Gerung tidak perlu mengeluarkan senjata seperti Edmund Husserl, Heidegger, Alain Badiou, Althusser, Rancière, yang udah gak bisa diragukan lagi.
Bagi yang belajar filsafat awal-awal, kalo emang bener bukan karena FOMO, apalagi cuma mau cari quote buat di Instagram atau Bio, sebenarnya akan ngeri sekaligus nagih. Ya kayak si Sophie itu, ketika membaca surat yang satu, lalu ke surat yang lain, isinya memang menantang dan yang dibaca keluar dari jalur pelajaran di sekolah.
Singkat kata, akhirnya Sophie si wanita kecil itu, akhirnya mampu melewati Plato hingga Marx, beruntungnya si Sophie tidak mengkliping atau menuliskan quote nya di dinding kamar atau di halaman belakang buku tulis dengan tulisan :
Ya, bayangin aja kayak Sophie Gaarder tadi, coba di novelnya dibaca yaitu judulnya Dunia Sophie (jangan baca yang bajakan). Ya emang tebal sih, tapi dijamin logic nya gak susah untuk dicerna. Gampang, dijamin 100%.
Tapi, filsafat itu ketika diperdebatkan sembari membenarkan argumen kita, ya memang gak relevan. Sebab, si Hume, Kant dan Hegel hidup di alam yang tidak ada gadget bahkan Chat GPT.
Namun, esensi sejarah filsafat kan bantah berbantahan, ya kan? Coba tuh lihat aja, dari tiap filsuf. Aristoteles saja bisa gak setuju dengan gurunya, Platon. Tapi kok dia mengeluarkan karya yang lebih dahsyat dari The Republic? Karena itu tadi, dia cinta dan mencari kebijaksanaan.
Bukan dia memang dasarnya bijak, bukan.
Maka, filsafat di era sekarang ini gunanya apa? Apakah masih relevan bertanya seperti Sokrates yang argumennya akan ia bantah terus sampai aporíā?
Ya, gak begitu sih. Sebab, di era seperti sekarang ini kan tidak semua orang mampu berpikir secara dialektis. Jangankan orang dewasa, anak-anak saja memanfaatkan AI bukan untuk mencari kebijaksanaan, melainkan jawaban dari pertanyaan yang rumit dari gurunya, ya kan. Tinggal foto atau ketik manual pertanyaannya, muncul, salin dan cari nilai. Salah atau benar tidak terpikirkan.
Nah, disanalah yang membedakan filsafat dengan lainnya.
Marx sendiri, yang filsuf sekaligus ilmuwan, pemikir yang artinya gak sebatas pada Das Kapital atau Manifesto Komunis, banyak hal yang juga dibicarakan oleh Marx, bahwa ia memiliki tujuan mulia untuk “mencapai masyarakat tanpa kelas”, namun ia menyematkan kritik bahwa :
Karl Marx dalam Tesis-Tesis tentang Feuerbach, sendiri sudah bilang hal itu. Sehingga, Marx membedakan dirinya antara Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah, ya kan?
Maka, filsafat pentingnya apa sekali lagi pertanyaannya? Kalau saya, tergantung Anda. Mau jadi tukang roti? Jawabannya tidak akan ada dalam filsafat. Tapi, kalau jadi akademisi khususnya di bidang Matematika misalnya, maka harus tahu π asalnya bagaimana?
Sebab, filsafat itu adalah mempelajari sejarah kenapa itu bisa terjadi. Ilmu seperti Matematika sendiri kan juga ada filsafatnya, bukan sekedar rumus, kalau Anda pelajari. Dari sejak jaman filsafat Yunani Kuno.
Nah untuk tahu kenapa nilai dari π adalah 3,14159, bukan mencari nilai filosofisnya apa. Tidak ada filosofi kopi disana, atau filosofi teh bahkan filosofi meja. Tidak. Tapi argumen logisnya itu apa, itu yang dicari. Dan, untuk mencapai kesana memerlukan filsafat dan pertanyaannya pasti seperti yang sudah diajarkan yakni 5W dan 1H.
Rumusnya hanya itu. Coba sekarang Anda pelajari sejarah demokrasi, itu juga memerlukan filsafat. Apa Anda pernah bertanya, mengapa kita pakai demokrasi? Apa karena Amerika Serikat pakai demokrasi dan negaranya maju lalu kita pakai, sedangkan China memakai otoriter tidak pernah difilsafatkan juga? Nah, disitu peran filsafat.
Pisau yang membedah, dan laboratoriumnya adalah pikiran. Bukan dapur seperti tukang roti, yang memang tidak akan mempelajari filsafat. Kecuali, buka toko roti, kue atau kafe yang cozy dengan musik jazz dan quote dari para filsuf baru perlu itu.
Maka, definisi filsafat ibu dari segala ilmu, sebenarnya ibu disitu bukan definisinya Ibu seperti Sophia Latjuba, bukan, tapi ibunya adalah ya pertanyaan. Ya, berkembangnya ilmu karena ada pertanyaan, gitu kan?
Maka, filsafat yang disebut “Mati” oleh Hawking adalah barangkali tidak ada perkembangan selain silat lidah, ya tidak seperti pada masa Pencerahan, yang memang melahirkan banyak jenis segala ilmu. Sebenarnya, selama kita bertanya terhadap yang sudah kita anggap mapan seperti matematika tadi, sebenarnya kita sudah berfilsafat. Bahkan, bertanya filsafat itu apa, ya sudah filsafat juga. Paradoks kan?
Filsafat yang melahirkan ilmu seperti sosiologi, biologi, fisika, matematika dan ilmu lainnya, memang jarang ditaruh sebagai perkenalan hakikat lahirnya ilmu itu sendiri. Belum apa-apa, dalam sosiologi misalnya sudah diajarkan sosiologi konflik, padahal belum mengerti kenapa sosiologi itu lahir, saat lahirnya ilmu itu konteksnya apa dan dalam masa kini sosiologi kan sudah menjadi ilmu yang otonom dan ya bermain statistik untuk lebih ilmiah atau analisa perilaku politik, misalnya.
Jadi, kalau ada yang bilang si Ibu bernama filsafat tidak relevan, sebenarnya salah kaprah. Ibu yang bernama filsafat tidak pernah mati, melainkan hanya tidak terlihat, bahkan jangan - jangan si anak yang tidak sadar? Perkembangan ilmu kan pasti memerlukan pertanyaan baru dan pertanyaan itulah yang menggerakkan sejarah filsafat. Supaya Marx membantah Hegel, bukan ujug-ujug Marx maunya materialisme kan, bukan roh (geist)? Disitulah letak dialektika.
Termasuk dalam diri kita sendiri, yakni “Siapa kamu?” adalah pertanyaan yang memang membuat kita bertanya terhadap status kita hari ini yang barangkali sudah mapan dan lebih maju dari sebelumnya, membuat kita merenung. Dan itulah yang dilakukan Sokrates, namun ia tidak bertanya ke dirinya sendiri, melainkan ke orang lain.
Sokrates, cerewet kepada Glaukon, Polemarkos, Adeimantus, Kritias, Xarmides dan semua orang yang ada di era itu intinya (Yunani Kuno), adalah pertanyaan yang barangkali mengesalkan, namun Sokrates melakukan itu ke orang lain, bukan ke dirinya sendiri.
Dari percakapan yang kemudian hanya berakhir tanpa akhir alias aporíā , jadilah karya yang kemudian Anda baca hingga kini. Misalnya Lakhes, The Republic, Xarmides, dan karya Platon lainnya. Hanya saja, di masa seperti ini, bagaimana kita bisa aporíā kalau di dunia serba cepat dan instan ini harus mengambil keputusan?
Barangkali, disitulah kritik seorang Ferry Irwandi kepada jurusan Filsafat. Lantas apa gitu, lho? Kebetulan Ferry Irwandi ini kan ya bisa dibilang paham ekonomi dan pasti dia mengandaikan produktivitas apa yang bisa dilakukan, gitu kan? Supaya ada nilai tambah produktivitas demi Indonesia Emas itu bisa didapatkan sekaligus dicapai, kan?
Ya emang sih. Filsafat selain jadi penulis buku, atau menulis di kolom, atau misalnya jurnal bahkan menjadi pengajar filsafat sebagai pengantar bahkan pendalaman, ya memang tidak banyak. Sebab itu tadi, dia laboratoriumnya adalah pikiran, bukan benda produktivitas barang. Newton bertanya kenapa apel jatuh, maka jadi ilmu itu dan pendalaman, ya kan?
Filsafat Alain Badiou, Heidegger, Sartre, Marx, Laclau, dan lainnya itu memang bisa dibilang ya bisa didiskusikan sesama pendalaman filsafat saja, yang mencoba mengkritisi argumen atau tesis mereka dengan menawarkan yang baru. Kedokteran sudah tidak perlu itu, apalagi tukang roti yang kita sebutkan tadi.
Karena itu, jurusan filsafat, yang mengerti pembicaraan mereka terhadap detail teknis teks-teks seperti itu ya memang hanya orkit aja, kita gak mungkin paham kecuali rajin membaca dan rela membongkar uang di dompet untuk beli buku si filsuf langsung, primer, bukan hanya catatan kaki semata.
Karena itu, apakah Ferry Irwandi benar? Biarkanlah kita cari kebijaksanaan itu, sebab tujuannya bijak kan? Ini bukan perang akan mempermalukan toh? Memelihara filsafat adalah dengan cinta kebijaksanaan bukan dengan perang yang menurut Stephen Kotkin bahwa :
Dan, perang apakah yang menghasilkan bijak terutama pola pikirnya seperti nitijin eh netizen kita yang kayaknya gak semua tuh belajar filsafat bener-bener baca catatan kaki gitu? Ha, bijak macam apa.
Ibu dari segala ilmu yakni filsafat yang intinya adalah pertanyaan atau bertanya itu akan selalu kita gunakan dalam segala hal dan apabila tidak digunakan dengan baik, ya lempeng - lempeng aja. Padahal, segudang pertanyaan ada di dalam benak kita, ya kan.
Tapi, perdebatan ini tidak mengobati inti yang saya katakan pada tulisan sebelumnya dalam soal sejarah yang ditulis ulang, yakni apakah budaya baca kita sudah bertumbuh? Jangan berdebat fakultas deh, budaya baca bagaimana? Mau ngerti filsafat, alokasi waktu untuk baca filsafat emang lebih dominan daripada baca status atau buat cuitan?
Ya analogi yang mudah adalah syarat berpikir kritis, ya harus berpikir kan? Nah, ngerti filsafat ini bener-bener sudah mendalami belum? Atau tahu slogannya aja dulu, soal pemikirannya yang detail , belakangan? Membaca Nietzsche misalnya, itu hanya fokus kepada ejekannya kepada Sokrates dalam buku Senjakala Berhala, ya kan? Yang lain misalnya soal kritiknya kepada Filsuf-filsuf Jerman tidak, kan begitu.
Coba berdebatnya disitu, sembari bagaimana menyadarkan budaya baca? Mau mengerti filsafat, bahkan ilmu yang akan dicapai, kalau budaya baca gak ada? Nah, itulah yang dipikirkan dengan baik.
Ada pertanyaan yang penting, khususnya tulisan ini. Maka, kenapa saya menyebut Sophia Latjuba?
Ya sebenarnya tidak ada kaitan sih. Hanya kemiripan kata "Sophia” (σοφία), dan kemiripan itu adalah cara yang tepat untuk menutup tulisan ini dengan pertanyaan di cover majalah yang ada Sophia Latjuba yakni pertanyaan sepele ala Sokrates yakni “Anda Tipe Pencemburu?” apakah cemburu buta adalah bagian kebijaksanaan? Ini pertanyaan filsafat untuk para pencemburu buta.
Kalo pasangan udah bener-bener jalannya terus kita resein, gimana ya? Nah, itu pertanyaan filsafat yang relevan untuk kita. Sebab, kita-kita ini, rasanya hanya cukup kenalan dengan dinamika filsafat, meski tidak mendalami. Nah, karena itu, yang mudah saja, apakah kita tipe pencemburu atau tanya ke pasangan kita, hehehe.
Sekian.

