Konten dari Pengguna
Self-Branding di Kalangan Remaja: Antara Eksistensi dan Kecemasan
5 Juni 2025 10:31 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Self-Branding di Kalangan Remaja: Antara Eksistensi dan Kecemasan
Di zaman digital saat ini, media sosial tidak lagi sekadar digunakan untuk membagikan momen pribadi, tetapi telah berubah menjadi sarana pembentukan citra diri. Nia Arniati
Tulisan dari Nia Arniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman digital saat ini, media sosial tidak lagi sekadar digunakan untuk membagikan momen pribadi, tetapi telah berubah menjadi sarana pembentukan citra diri. Di tengah derasnya arus konten visual yang memukau serta cerita-cerita sukses anak muda, remaja menghadapi tantangan baru: keharusan untuk selalu terlihat lebih baik dari sebelumnya. Salah satu bentuk tekanan ini terlihat dari tren ‘glow up challenge’yang sempat ramai di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.
Meski tren ini tampak memberi dorongan positif untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, di balik tagar #glowup dan video transformasi penampilan, gaya hidup, maupun tubuh, tersembunyi anggapan bahwa kondisi diri sebelumnya dianggap tidak cukup layak. Akibatnya, banyak remaja merasa tidak percaya diri, merasa kurang, bahkan terdorong untuk mengubah identitas dan penampilan hanya demi penerimaan di media sosial.
Fenomena ini mencerminkan praktik self-branding yang kini banyak dilakukan oleh kalangan muda. Mereka berusaha membangun citra ideal secara daring—kulit mulus, tubuh proporsional, gaya hidup produktif, serta deretan prestasi yang membanggakan. Tampilan Instagram harus tertata rapi, deskripsi harus menarik, dan video TikTok pun dituntut untuk relatable atau estetis.
Namun, pertanyaan penting muncul: benarkah semua yang ditampilkan itu merupakan cerminan jujur dari diri mereka, atau hanyalah hasil konstruksi sosial yang tidak tampak secara langsung?
Menurut laporan dari American Psychological Association (APA), remaja merupakan kelompok paling rentan terhadap efek negatif media sosial. Ketika eksistensi pribadi mereka ditakar lewat jumlah likes, followers, atau views, yang terbentuk bukan hanya profil digital, tetapi juga kecemasan yang terus-menerus menghantui.
Tak sedikit remaja merasa tertinggal karena melihat teman-temannya sudah memiliki personal branding yang menarik. Mereka yang belum ‘glow up’, belum viral, atau feed-nya tidak estetis sering merasa tidak relevan. Padahal, tidak semua orang memiliki sumber daya yang sama untuk memenuhi standar kecantikan, gaya hidup, atau tren terkini.
Sayangnya, banyak orang dewasa kurang menyadari tekanan ini. Media sosial sering dianggap sebagai hiburan semata, padahal bagi remaja, media sosial menjadi fondasi penting dalam membentuk identitas sosial mereka. Sebenarnya, praktik self-branding tidak selalu berdampak negatif. Ia bisa menjadi sarana untuk mengenal diri dan membangun jaringan. Namun jika dilakukan karena merasa minder, iri, atau terpaksa mengikuti tren, maka yang muncul bukan lagi keaslian diri, melainkan identitas semu yang lahir dari tekanan sosial.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian remaja menilai nilai dirinya hanya dari respons yang didapat di media sosial: berapa banyak yang menyukai, mengomentari, atau membagikan unggahan mereka. Hal ini bisa melemahkan rasa percaya diri dan menumpulkan kemampuan mereka untuk mengenali nilai diri dari dalam.
Dalam hal ini, peran keluarga, pendidik, dan lingkungan sangat penting. Mereka perlu membantu remaja memahami bahwa tidak ada keharusan untuk selalu tampil sempurna. Literasi media sebaiknya tidak hanya diajarkan sebagai materi pelajaran, tetapi juga dibudayakan sebagai cara berpikir kritis terhadap konten digital—baik yang dikonsumsi maupun yang dibagikan. Remaja perlu disadarkan bahwa media sosial hanyalah alat, bukan penentu harga diri. Glow up sejati bukan semata-mata perubahan fisik, tetapi juga pertumbuhan mental, emosional, dan sosial yang sehat.

