Konten dari Pengguna
IoT dan Plastik yang Bereinkarnasi dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
8 Desember 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
IoT dan Plastik yang Bereinkarnasi dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
IoT dan plastik yang bereinkarnasi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Dengan gotong royong, kita dapat mewujudkan lingkungan yang terjaga dan plastik tidak lagi menjadi sebuah masalah. #userstoryNisrina Chairunnisa
Tulisan dari Nisrina Chairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia masih dihantui oleh tumpukan sampah plastik yang semakin hari, semakin menjulang seperti gunung. Bukan hanya merusak pemandangan dan menimbulkan bau tak sedap, melainkan juga menjadi ancaman bagi kesehatan manusia serta masa depan lingkungan.
Di setiap sudut tempat—mulai dari ramainya pusat kota hingga desa yang tenang—pasti selalu ada jejak plastik. Mirisnya, sebagian besar sampah plastik berasal dari aktivitas sehari-hari yang kita anggap sepele, seperti kemasan makanan, kantong belanja, hingga botol minuman sekali pakai yang tidak dapat terurai ratusan tahun.
Pada tahun 2025, perkiraan timbulan sampah plastik di Indonesia mencapai 9,9 juta ton per tahun. Angka tersebut tentunya mencerminkan pada realita bahwa produksi sampah plastik ini bertumbuh lebih cepat dari pada kemampuan kita untuk mengelolanya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang terancam, melainkan juga berpotensi meningkatnya paparan mikroplastik pada manusia, rusaknya ekosistem laut, hingga kerugian ekonomi karena kesempatan daur ulang yang terbuang secara percuma. Jika dikaitkan dengan Indonesia Emas 2045, kondisi ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat Indonesia.
Upaya Sudah Dilakukan, tapi Mengapa Sampah Tetap Menumpuk?
Banyak upaya yang telah dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, seperti program bersih-bersih lingkungan, hingga himbauan kepada masyarakat untuk mengurangi konsumsi plastik. Namun, upaya tersebut masih belum efektif dan belum mampu memberikan perubahan yang besar.
Program bersih-bersih—yang dilakukan oleh organisasi peduli lingkungan atau masyarakat melalui gotong royong—memang membantu, tetapi hanya menjadi solusi sesaat karena sampah akan kembali menumpuk beberapa hari kemudian.
Sementara ajakan untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai belum sepenuhnya diterapkan oleh masyarakat. Perilaku tersebut sulit diubah tanpa adanya sistem yang memudahkan dan memberikan keuntungan langsung bagi masyarakat.
Akibatnya, masalah sampah masih saja terus berada di lingkaran yang sama: dibersihkan, menumpuk lagi, lalu dibersihkan lagi. Tidak ada solusi yang benar-benar sampai ke akar permasalahan, sehingga masalah ini terus berulang dari tahun ke tahun.
Kondisi inilah yang menjadi alasan kuat bahwa kita memerlukan pendekatan baru yang bukan hanya mengurangi sampah, melainkan juga cara kita memperlakukannya. Sampah plastik harus kita perlakukan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali, bukan hanya sebagai limbah yang harus dibuang.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sistem yang mampu menjamin setiap sampah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat tidak terbuang percuma, tetapi dimanfaatkan kembali dan menemukan “kehidupan keduanya”. Pada titik inilah, teknologi hadir sebagai peran yang membuka jalan.
Reinkarnasi Plastik dengan Peran IoT
Internet of Things (IoT) hadir sebagai peran penting dalam mencari jalan keluar terkait persoalan sampah plastik. Melalui sistem sensor dan perangkat otomatis, IoT memberikan jalan bagi plastik untuk kembali menjadi produk baru dengan sebuah proses yang dapat disebut “reinkarnasi plastik”.
Peran IoT dimulai dari tahap pemilahan hingga proses daur ulang. Dengan menggunakan fasilitas daur ulang yang modern yang dilengkapi dengan sensor optik dan kamera berbasis kecerdasan buatan, pemilahan plastik berdasarkan jenis, warna, hingga tingkat kebersihannya dapat berlangsung dengan akurat dan cepat. Hasilnya, bahan plastik yang akan masuk ke proses produksi memiliki kualitas yang lebih bagus, sehingga layak didaur ulang.
Kemudian berlanjut dalam mengawal proses pencucian, penghancuran, hingga peleburan. Mesin berbasis IoT mampu mengatur suhu dan tekanan secara otomatis, sehingga hasil plastik yang didaur ulang memenuhi standar industri.
Bukan hanya sekadar konsep, di Indonesia sudah membuktikan bahwa daur ulang plastik bisa benar-benar memberikan manfaat. Salah satunya Rebricks, sebuah inisiatif yang memanfaatkan limbah plastik sekali pakai untuk diproses menjadi bahan bangunan seperti paving block, hollow block, dan material kontruksi lainnya.
Selain itu, beberapa daerah di Indonesia juga mulai menerapkan bank sampah berbasis digital di mana masyarakat menabung sampah plastik dan sistem IoT mencatat jenis, berat, serta nilai tukarnya secara otomatis. Dengan sistem ini, plastik tidak hanya dikumpulkan untuk dibuang, tetapi mendapatkan nilai ekonomi, sehingga mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Melihat potensi tersebut, sudah seharusnya dukungan terhadap inovasi daur ulang diperluas, baik dari masyarakat, pelaku industri, hingga pemerintah. Dengan memaksimalkan teknologi seperti IoT, proses pengolahan plastik bisa menjadi lebih cepat, efisien, dan bernilai secara ekonomi.
Jika praktik daur ulang berbasis IoT ini terus diperluas, Indonesia bukan hanya mampu mengurangi tumpukan sampah plastik, melainkan juga membangun ekonomi sirkular yang menguntungkan bagi lingkungan dan masyarakat.
Daur ulang bukan lagi sekadar mengolah limbah, melainkan langkah nyata menuju masa depan berkelanjutan di mana plastik menjadi peluang, bukan ancaman. Dengan dukungan teknologi dan kesadaran bersama, upaya ini dapat ikut mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yaitu bangsa yang bersih, mandiri, dan ramah lingkungan.
Ketika Inovasi Bertemu dengan Realita Lapangan
Meskipun pemanfaatan IoT dalam daur ulang limbah plastik sekali pakai menawarkan peluang besar, tapi realitanya masih menghadapi berbagai rintangan. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur teknologi karena fasilitas daur ulang berbasis IoT masih belum tersebar secara merata di Indonesia.
Selain itu, biaya investasi untuk mesin masih cukup tinggi, sehingga membuat pelaku UMKM daur ulang dan industri lokal sulit untuk mengadopsinya secara mandiri tanpa dukungan pemerintah maupun swasta.
Di sisi lain, tantangan terbesar justru datang dari masyarakat itu sendiri. Budaya memilah sampah masih sangat rendah, sehingga limbah plastik yang masuk ke fasilitas daur ulang, masih dalam kondisi kotor dan tercampur dengan sampah lain. Akibatnya, proses pemilahan sampah tetap memakan waktu. Kurangnya edukasi dan inisiatif masyarakat membuat proses ini belum berjalan optimal.
Pada akhirnya, keberhasilan daur ulang plastik berbasis IoT tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologinya, tetapi juga pada kesatuan dan kekuatan kita sebagai bangsa. Jika pemerintah memperluas fasilitas, industri berinvestasi, dan masyarakat mulai bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan, peralihan menuju sistem daur ulang berbasis IoT akan bergerak lebih cepat.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mandiri dalam mengelola limbah, bahkan menjadi contoh bagi negara lain di Asia. Dengan semangat gotong royong dan visi Indonesia Emas 2045, kita dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik di mana lingkungan tetap terjaga, ekonomi sirkular berjalan, dan plastik tidak lagi menjadi masalah, melainkan bukti kemajuan bangsa.

