Konten dari Pengguna

Belajar Langsung dari Laut dan Menghidupkan Ilmu dalam Satu Hari Bersama Nelayan

NURANI KHOERUNNISA
Penulis berprofesi sebagai dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Bidang keilmuan yang diminati adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan, manajemen perikanan tangkap, dan ekosistem perairan.
24 Oktober 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Belajar Langsung dari Laut dan Menghidupkan Ilmu dalam Satu Hari Bersama Nelayan
Kegiatan “Satu Hari Bersama Nelayan” di Pantai Timur Pangandaran mengajak mahasiswa belajar langsung operasi penangkapan ikan, berdiskusi, dan memahami praktik perikanan berkelanjutan.
NURANI KHOERUNNISA
Tulisan dari NURANI KHOERUNNISA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aktivitas persiapan penangkapan ikan, mahasiswa bersama nelayan (Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas persiapan penangkapan ikan, mahasiswa bersama nelayan (Dokumentasi pribadi)
Tidak ada ruang kelas yang lebih luas dari laut, dan tidak ada guru yang lebih berpengalaman daripada nelayan. Inilah yang dialami oleh para mahasiswa dalam kegiatan “Satu Hari Bersama Nelayan”, sebuah aktivitas pembelajaran langsung di lapangan yang membawa mahasiswa untuk turun ke laut, berdiskusi, dan ikut serta dalam operasi penangkapan ikan bersama para nelayan di Pantai Timur Pangandaran.
Suasana pagi di tepi pantai menjadi saksi awal perjumpaan antara teori dan realita. Mahasiswa berdiskusi langsung dengan nelayan mengenai alat tangkap jaring arad, alat yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan di perairan dangkal, sekitar kurang dari 10 mil dari garis pantai. Dalam perbincangan hangat, nelayan berbagi pengalaman tentang cara pengoperasian jaring. Mulanya kapal diarahkan ke tengah laut, jaring diturunkan hingga melingkari kapal, kemudian perlahan ditarik kembali hingga ikan-ikan tertangkap.
Hasil tangkapan nelayan jaring arad didominasi oleh ikan dasar seperti udang dan ikan dawa. Para nelayan juga menjelaskan bahwa hasil tangkapan berfluktuasi mengikuti musim. Musim kemarau adalah masa panen, sementara musim hujan menjadi waktu penuh tantangan akibat angin kencang dan badai.
Salah satu pelajaran penting dari kegiatan ini adalah tentang penanganan hasil tangkapan. Nelayan menuturkan bagaimana mereka menjaga kualitas ikan dengan memberikan es segera setelah ditangkap agar tetap segar. “Kalau ikan layur untuk ekspor, harus benar-benar bersih dan tidak rusak, karena sedikit saja cacat bisa menurunkan harga,” ujar salah satu nelayan.
Menanggapi hal tersebut, akademisi yang turut hadir menegaskan prinsip penting dalam rantai pascapanen ikan, yaitu 3C: Clean, Cold, dan Careful. Ikan harus bersih, terjaga rantai dinginnya, dan ditangani secara hati-hati. Prinsip sederhana ini menjadi kunci agar kualitas ikan tetap tinggi dan nilai jualnya terjaga.
Setelah diskusi selama satu jam, mahasiswa berkesempatan mengikuti trip penangkapan ikan secara langsung. Dari situ, mereka tidak hanya menyaksikan bagaimana jaring diturunkan dan diangkat, tetapi juga merasakan langsung kerja keras, ketelitian, dan kebersamaan para nelayan di atas kapal.
Lebih dari sekadar kegiatan praktik, “Satu Hari Bersama Nelayan” menjadi wadah pembelajaran yang membuka mata mahasiswa akan realitas kehidupan pesisir. Mereka belajar tentang teknologi penangkapan, manajemen hasil tangkapan, hingga kearifan lokal nelayan dalam membaca cuaca dan arus laut.
Kegiatan seperti ini memiliki nilai edukatif yang besar yaitu:
Di tengah ombak dan teriknya matahari, mahasiswa menemukan makna sejati dari belajar. Bukan hanya memahami konsep, tetapi mengalami dan merasakan langsung kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari sistem perikanan itu sendiri.
Karena pada akhirnya, laut bukan hanya sumber daya. Ia adalah ruang belajar, sumber inspirasi, dan cermin kehidupan.
Trending Now