Konten dari Pengguna

Panduan Film LSF: Menyemai Kesadaran, Bukan Sekadar Mengatur Layar

Nurrohman Efendi
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi di STIKOM Interstudi, Mantan Jurnalis TV, saya percaya: setiap narasi, suara, dan gambar punya pesan yang layak disampaikan dengan bijak.
14 Oktober 2025 19:19 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Panduan Film LSF: Menyemai Kesadaran, Bukan Sekadar Mengatur Layar
Melalui kampanye Panduan Film, LSF menanamkan kesadaran menonton bijak—sebuah langkah strategis membangun budaya literasi tontonan nasional.”
Nurrohman Efendi
Tulisan dari Nurrohman Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi akhir pekan menonton film atau serial Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi akhir pekan menonton film atau serial Foto: Shutterstock
“Di tengah derasnya arus tontonan digital, Lembaga Sensor Film (LSF) kini tak hanya menjadi pengatur isi film, melainkan komunikator publik. Melalui kampanye Panduan Film, LSF menanamkan kesadaran menonton bijak—sebuah langkah strategis membangun budaya literasi tontonan nasional.”
Di tengah derasnya arus tontonan digital, Lembaga Sensor Film (LSF) tidak lagi sekadar “menyensor”, tetapi juga menyapa publik melalui media sosial. Melalui kampanye Panduan Film di media social @lsf_ri di platform Instagram, TikTok, dan X serta Lembaga Sensor Film Republik Indonesia di Facebook, yang hadir sejak 2023, LSF mengajak masyarakat untuk lebih bijak memilih tontonan sesuai klasifikasi usia. Pesan yang dibawa sederhana, namun sangat relevan: tontonlah film sesuai usia.
Langkah ini menandai transformasi penting dalam dunia sensor film di Indonesia. Sensor kini tidak lagi semata-mata soal pemotongan adegan atau pelarangan, melainkan tentang literasi dan kesadaran publik. LSF berupaya mengedukasi masyarakat agar mampu menjadi filter pertama atas apa yang mereka tonton.
Ilustrasi menonton film atau serial Foto: Shutterstock

Dari Ruang Sensor ke Ruang Publik

Perubahan pendekatan ini mencerminkan kesadaran baru bahwa tugas sensor tak cukup dilakukan di ruang tertutup. Dengan mengedepankan edukasi publik, Panduan Film menjadi jembatan antara kebijakan dan kebiasaan. Kampanye digital ini mengubah cara komunikasi lembaga publik: dari top-down menjadi partisipatif, dari kaku menjadi interaktif. Panduan Film hadir dengan gaya visual ringan dan narasi yang ramah. Sapaan khas "Hai sahabat sensor mandiri!" dan tagar #MemilahMemilihTontonan dan #BudayaSensorMandiri terkesan ramah, tetapi tegas dalam mengedukasi penonton.
Pendekatan ini sejalan dengan teori komunikasi publik dari Hafied Cangara (2011) yang menekankan pentingnya peran lembaga negara dalam menciptakan pemahaman bersama, bukan sekadar menyampaikan aturan.
Dari sisi strategi, model komunikasi persuasi McGuire (1985) juga tampak di sini: pesan disampaikan dengan kredibilitas sumber (LSF), desain visual menarik, dan pemilihan kanal yang sesuai dengan audiens digital. Hasilnya, komunikasi terasa lebih humanis dan mudah diterima publik.
Ilustrasi menonton film di rumah. Foto: Shutterstock

Budaya Sensor Mandiri: Dari Regulasi ke Kesadaran Sosial

Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) yang digagas LSF adalah inti dari pendekatan baru ini. Gerakan ini menempatkan tanggung jawab menonton pada individu, bukan pada lembaga semata. Artinya, publik diajak untuk menjadi penyaring utama sebelum menonton, bukan sekadar penerima hasil sensor.
Konsep ini beririsan dengan teori literasi media dari W. James Potter (2016) yang menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengevaluasi pesan media secara kritis. Dengan memahami klasifikasi usia film, publik tidak hanya menonton, tetapi juga menilai, memilih, dan akhirnya mendidik diri sendiri.

Manfaat dan Tantangan

Keberadaan Panduan Film memberi manfaat nyata. Orang tua kini memiliki panduan praktis dalam memilih tontonan untuk anak. Remaja lebih sadar bahwa tidak semua konten layak diakses sembarangan. Bagi sineas, panduan ini menjadi pedoman etis agar karya tetap kreatif namun bertanggung jawab.
Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua audiens menindaklanjuti pesan edukatif menjadi perilaku nyata. Sebagian masih menganggap sensor sebagai pembatas kreativitas. Tantangan ini memperlihatkan pentingnya edukasi berkelanjutan agar sensor dipahami sebagai perlindungan, bukan larangan.
Ilustrasi menonton film di rumah. Foto: Kemenparekraf

Menjaga Layar, Merawat Nalar

Panduan Film adalah simbol pergeseran paradigma dalam praktik sensor di Indonesia—dari regulasi menuju kesadaran, dari lembaga menuju publik. Sensor kini menjadi bagian dari literasi budaya: membantu masyarakat menonton dengan cerdas dan bertanggung jawab.
Seperti halnya film yang baik, langkah LSF juga memiliki dua lapisan: pesan di layar dan makna di baliknya. Dan makna terbesarnya adalah ini: menjaga film bukan untuk menutup layar, melainkan untuk merawat nalar bangsa. Karena menonton adalah hak setiap orang, tapi bijak menonton adalah tanda kedewasaan budaya.
“Menjaga layar, merawat nalar—karena literasi tontonan adalah wujud cinta pada bangsa.”
Trending Now