Konten dari Pengguna

The Running Man: Ketahanan Individu dan Konstruksi Realitas

Nurrohman Efendi
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi di STIKOM Interstudi, Mantan Jurnalis TV, saya percaya: setiap narasi, suara, dan gambar punya pesan yang layak disampaikan dengan bijak.
19 November 2025 16:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
The Running Man: Ketahanan Individu dan Konstruksi Realitas
Film The Running Man menggambarkan Ketahanan Individu dan Konstruksi Realitas
Nurrohman Efendi
Tulisan dari Nurrohman Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: imdb.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: imdb.com
Adaptasi terbaru The Running Man (2025) karya Edgar Wright menawarkan pendekatan yang berbeda dari versi film tersebut tahun 1987. Jika versi lama menonjolkan aksi dan hiburan semata, versi baru ini kembali ke semangat novel Stephen King yang lebih gelap dan lebih dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Film ini menarik untuk dibaca dari perspektif komunikasi, terutama mengenai bagaimana media membentuk realitas, mengatur perhatian, dan memosisikan individu dalam tekanan.
Tokoh utama film, Ben Richards (Glen Powell), digambarkan sebagai seorang ayah yang berada dalam situasi ekonomi sulit. Ia kehilangan pekerjaan, memiliki tanggungan keluarga, dan harus menghadapi kondisi kesehatan anaknya yang membutuhkan biaya besar. Dalam keadaan terdesak, ia menerima tawaran mengikuti The Running Man, sebuah acara kompetisi yang mempertaruhkan nyawa peserta untuk tontonan publik.
Di salah satu momen krusial, film menggambarkan Richards seolah berbicara kepada dirinya sendiri: “Aku tidak berlari untuk jadi legenda. Aku berlari karena ada seseorang yang menungguku pulang”. Kalimat ini menggambarkan dengan jelas bagaimana film tersebut menempatkan motivasi keluarga sebagai inti ceritanya.
Media dan Konstruksi Realitas
Dari perspektif komunikasi, The Running Man menunjukkan bagaimana media dapat membentuk realitas tertentu tentang kehidupan seseorang. Arena permainan di film tersebut adalah ruang yang dibuat untuk memproduksi cerita yang dramatis tentang siapa yang kuat, siapa yang gagal, dan siapa yang layak ditonton.
Richards masuk ke dalam “realitas buatan” itu, di mana setiap langkahnya direkam, disebarkan, dan ditafsirkan sesuai kepentingan penyelenggara acara. Ini sejalan dengan konsep dasar dalam studi komunikasi massa, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membingkai realitas. Pilihan gambar, narasi, dan sudut pandang dapat membuat seseorang terlihat heroik, lemah, atau bahkan menjadi objek hiburan.
Tekanan Hidup dalam Kehidupan Nyata
Meskipun film ini berlatar masa depan distopia, tekanan hidup yang dialami Richards tidak jauh dari situasi banyak keluarga di kota besar seperti Jakarta. Tekanan ekonomi, kebutuhan rumah tangga, dan tuntutan pekerjaan dapat membuat seseorang mengalami situasi serupa, bukan dalam bentuk berburu nyawa, tetapi tekanan mental dan sosial yang membuat mereka harus mengambil keputusan sulit.
Seorang ayah di Jakarta yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring, misalnya, harus bekerja 10 - 12 jam di jalanan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, ayah yang bekerja di kantor menghadapi target kerja yang semakin tinggi dan waktu perjalanan yang menguras tenaga. Rata-rata mereka harus membuat keputusan cepat setiap hari, tanpa banyak ruang untuk salah.
Film ini tidak berbicara langsung tentang Jakarta, tetapi dinamika tekanan hidup yang diperlihatkan sangat dekat dengan kondisi urban modern, dimana banyak orang “berlari” setiap hari, bukan untuk menjadi hebat, tapi untuk mempertahankan kehidupan keluarga mereka.
Dinamika Penonton dan Tontonan
Dari sisi teori komunikasi, film ini juga menampilkan hubungan menarik antara peserta dan penonton. Dalam konteks acara The Running Man, penonton memegang peran penting dalam mempertahankan sistem tersebut. Semakin besar perhatian publik, semakin besar nilai acara itu. Ini selaras teori dasar komunikasi massa mengenai khalayak sebagai komoditas —perhatian penonton bernilai sangat tinggi dalam industri media.
Bedanya, film ini tidak mengajak kita menghakimi penonton. Sebaliknya, ia memperlihatkan bagaimana Richards tetap berusaha menjaga kemanusiaannya meskipun berada dalam sistem yang mengubah orang menjadi tontonan.
Pulang sebagai Pesan Komunikasi yang Sederhana
Dalam banyak film aksi, pesan utama berkisar pada kemenangan atau kekalahan. Tetapi The Running Man (2025) berbeda. Fokusnya bukan pada akhir permainan, melainkan pada motivasi Richards tentang keinginannya untuk pulang. Dalam komunikasi, pesan yang sederhana seperti ini sering kali sangat efektif. Ia mudah dipahami, mudah dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari, dan mengandung nilai emosional tanpa harus dilebih-lebihkan.
Motivasi pulang itulah yang menjadikan film ini relevan bagi banyak orang. Banyak ayah di Jakarta bekerja larut malam, menempuh kemacetan panjang, atau menjalani pekerjaan berat, bukan untuk menjadi juara, tetapi karena ada keluarga yang menunggu di rumah. Ini adalah pesan yang universal dan tidak membutuhkan teori rumit untuk dipahami.
Penutup
Dengan pendekatan yang lebih tenang dan karakter yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, The Running Man (2025) berhasil menghadirkan cerita aksi yang tetap memiliki kedalaman makna. Melalui perspektif komunikasi, film ini memperlihatkan bagaimana media dapat membangun realitas tertentu, bagaimana seseorang dipaksa mengambil keputusan di bawah tekanan, dan bagaimana motivasi keluarga tetap menjadi kekuatan yang membuat seseorang bertahan.
Trending Now