Konten dari Pengguna
Perjuangan Mahasiswa: Dari Jalanan ke Twitter
13 Mei 2025 14:08 WIB
Β·
waktu baca 1 menit
Kiriman Pengguna
Perjuangan Mahasiswa: Dari Jalanan ke Twitter
"Mahasiswa kini lebih lantang di Twitter ketimbang di jalan. Apakah perjuangan digital cukup kuat untuk membawa perubahan?"OCTAVIA A GULTOM
Tulisan dari OCTAVIA A GULTOM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Octavia Angelina

"Aku masih ingat demo besar 2019. Ribuan mahasiswa memenuhi jalanan di depan DPR. Teriakan tuntutan menggema. Tapi kini, lima tahun berlalu, suaraku hanya bergema lewat retweet dan utas panjang di Twitter."
Gerakan mahasiswa mengalami transformasi. Jika dulu demonstrasi identik dengan aksi turun ke jalan, sekarang banyak aspirasi mahasiswa disuarakan lewat media sosial. Platform seperti Twitter, Instagram, hingga TikTok menjadi panggung baru perjuangan.
Apakah ini kemajuan? Atau justru kemunduran?
Di satu sisi, digitalisasi memudahkan penyebaran informasi. Satu utas bisa menjangkau ratusan ribu orang. Petisi online bisa diklik siapa saja. Tapi di sisi lain, semangat kolektif terasa melemah. Tanpa tatap muka, tanpa orasi di bawah matahari, perjuangan kadang terasa... hampa.
Banyak mahasiswa hari ini lebih vokal di ruang digital, tapi enggan turun langsung. Mungkin karena represi aparat. Mungkin karena trauma. Atau mungkin, karena zaman memang telah berubah.
Namun, apakah perubahan medium berarti perjuangan ikut kehilangan maknanya?
Jawabannya ada pada kita: generasi yang mewarisi semangat idealisme, tapi hidup di era yang serba praktis.

