Konten dari Pengguna
Generasi Cemas, Orang Tua Harus Waspada
29 Juli 2025 12:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Generasi Cemas, Orang Tua Harus Waspada
Kita hidup di zaman generasi Cemas, yang bergerak cepat, terlalu cepat malah. Anak-anak kini hidup dalam tekanan prestasi, ekspektasi, dan validasi. ODJIE SAMROJI
Tulisan dari ODJIE SAMROJI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik senyum anak-anak zaman sekarang, tersembunyi sebuah realita yang tak bisa diabaikan: mereka tumbuh dalam tekanan. Mereka disebut generasi paling terhubung, namun juga generasi paling cemas. Di era ketika semua bisa dicari dalam sekali klik, kenapa justru rasa tenang makin langka? Apakah ini hanya persoalan pribadi atau sudah menjadi fenomena sosial yang lebih luas?
Kita hidup di zaman yang bergerak cepat, terlalu cepat malah. Anak-anak kini hidup dalam tekanan prestasi, ekspektasi, dan validasi. Bukan hanya dari lingkungan sekolah, tapi juga dari layar kecil yang terus mereka genggam. Media sosial yang awalnya dibuat untuk “berteman” justru sering jadi ladang perbandingan dan sumber kecemasan. Semua orang terlihat bahagia, sukses, glowing, dan produktif. Padahal itu hanya highlight, bukan kehidupan nyata. Tapi otak remaja tak selalu bisa membedakan mana ilusi, mana kenyataan.
Banyak orangtua yang merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya: sekolah terbaik, bimbel terbaik, bahkan les musik atau bahasa asing. Tapi sering lupa, apakah mereka juga memberikan rasa aman dan ruang bicara yang dibutuhkan anak? Anak yang tumbuh dengan fasilitas belum tentu tumbuh dengan perasaan dicintai dan diterima. Mereka takut gagal karena tak ingin mengecewakan. Mereka takut jujur karena takut tak dimengerti. Dan mereka akhirnya memilih diam, menyimpan sendiri beban di dada.
Cemas pada anak bukan soal sepele. Ia bisa berdampak panjang: sulit tidur, sulit fokus, menarik diri dari lingkungan, hingga gangguan fisik seperti sakit perut, pusing, atau muntah-muntah yang tak jelas sebab medisnya. Banyak kasus anak terlihat “baik-baik saja”, tapi sebenarnya sedang berjuang keras secara mental. Ironisnya, banyak orangtua justru menyangka itu hanya “drama” anak zaman sekarang. Padahal, bisa jadi itu adalah jeritan sunyi yang terlalu lama dipendam.
Sebagai orangtua, kita gak bisa lagi hanya jadi penyedia kebutuhan. Kita harus jadi pendengar. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami. Kita harus mengubah pola komunikasi yang kaku menjadi dialog yang terbuka. Mulailah dengan pertanyaan-pertanyaan ringan tapi tulus: “Kamu lagi ngerasa apa hari ini?”, “Ada yang bikin kamu gak nyaman di sekolah?”, atau sekadar “Kalau kamu capek, boleh cerita ya.” Jangan remehkan kekuatan kalimat-kalimat sederhana itu. Karena bagi anak, didengar adalah bentuk cinta yang nyata.
Pendidikan karakter dan kesehatan mental anak tidak cukup hanya dititipkan pada sekolah atau guru BP. Rumah harus menjadi tempat paling aman untuk gagal, untuk menangis, untuk jujur. Bukan tempat yang penuh tuntutan nilai atau perbandingan dengan anak tetangga. Orangtua semestinya menjadi teman pertama, bukan hakim pertama. Karena sebelum anak belajar menghadapi dunia, mereka harus merasa aman di rumah sendiri.
Lalu, bagaimana solusi nyatanya?
Pertama, orangtua harus mau belajar ulang. Zaman sudah berubah, pendekatan juga harus ikut berubah. Ikuti seminar parenting, baca buku psikologi anak, atau sekadar ngobrol dengan sesama orangtua. Jangan gengsi mengakui bahwa kita kadang juga bingung, karena justru dari situ kita bisa saling belajar.
Kedua, batasi ekspektasi yang berlebihan. Anak bukan proyek prestasi. Mereka bukan robot pengumpul piala atau nilai rapor. Biarkan mereka tumbuh sesuai minat, temani prosesnya, bukan paksakan hasilnya. Kita semua pasti ingin anak sukses, tapi sukses tanpa bahagia itu kosong.
Ketiga, sediakan waktu khusus tanpa gadget untuk ngobrol atau bermain. Bukan soal lamanya, tapi kualitasnya. Waktu bersama adalah investasi emosi. Dan dari sanalah anak belajar bahwa mereka tak sendiri dalam menghadapi hidup.
Keempat, jangan ragu mencari bantuan profesional bila dibutuhkan. Konselor, psikolog, atau guru BK bisa jadi teman kolaborasi. Bukan karena anak kita “bermasalah”, tapi karena kita ingin mendampingi mereka dengan lebih tepat.
Terakhir, mari kita bangun budaya keluarga yang terbuka dan ramah pada perasaan. Jangan hanya bertanya “Kamu udah makan?” tapi juga, “Kamu bahagia hari ini?” Anak yang terbiasa memproses emosinya sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan saat dewasa.
Generasi cemas bukanlah hasil dari satu sebab tunggal. Tapi kita semua bisa menjadi bagian dari solusinya. Dengan empati, keterbukaan, dan kesediaan untuk berubah, kita bisa bantu anak-anak tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara mental. Karena di dunia yang makin bising ini, rumah dan kasih sayang orangtua adalah pelindung terakhir yang mereka punya.

