Konten dari Pengguna
Berdakwah Menyeru Kebaikan Tak Harus Menunggu Jadi Ustaz
9 September 2021 8:49 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Berdakwah Menyeru Kebaikan Tak Harus Menunggu Jadi Ustaz
Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular. #userstory Suzan LesmanaSuzan Lesmana
Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Islam adalah agama dakwah. Islam harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Dan saya menyakini bahwa setiap Muslim adalah da'i dan tak harus menunggu menjadi seorang ustaz untuk menyeru kebaikan. Namun dasar ilmu berdakwah dan penunjangnya juga wajib dipelajari terus menerus dengan mengaji tak kenal henti kepada guru ngaji karena menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi muslim dari buaian hingga maut memisahkan.
Makna dakwah sendiri secara etimologis atau bahasa, berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’watan, artinya mengajak, menyeru, memanggil. Sedangkan orang yang melakukan seruan atau ajakan disebut da’i, sedangkan yang diseru disebut sebagai mad’u.
Sementara secara terminologi menurut Quraish Shihab (1994), dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik dan lebih sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.
Ustadz Bahiyul Khuli dalam bukunya 'Tadzkiratud Du’a' mendefinisikan dakwah sebagai suatu komunikasi yang ditimbulkan dari interaksi antarindividu maupun kelompok manusia yang bertujuan memindahkan umat dari suatu situasi yang negatif ke situasi yang positif (dalam al Firdaus, 2013).
Dalam Al-Qur’an sendiri, kata mengajak disebut sebanyak 46 kali, 39 kali mengajak kepada Islam dan kebaikan, 7 kali mengajak menjaga dari api neraka dan kejahatan, dalam bentuk fi’il (pekerjaan) lebih dari 100 kali. Jadi berdakwah menjadi kewajiban kita untuk menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran semampu kita.
Perintah Berdakwah
Perintah dakwah sendiri sudah disebutkan dalam Q.S. Ali Imran: 104, yang artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Di ayat lain perintah berdakwah, Allah SWT sebut kembali dalam QS. Fussilat: 33, yang artinya: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”
Perintah senada kita temukan pula di QS. An-Nahl: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”
Atas dasar itulah aktivitas berdakwah telah saya jalani hingga kini meski sudah tak sesering sebelum 2019 akibat pandemi. Namun demikian, saya melanjutkan dakwah melalui tulisan di media on line dan beberapa artikel yang tayang telah saya bukukan berjudul '40 Kultum di Media ala Humas' yang diterbitkan oleh Penerbit The Journalish Yogyakarta. Alhamdulillah gratis tanpa biaya penerbitan karena saya berhasil menyabet juara 3 Puisi Islami yang diselenggarakan penerbit.
Bahan-bahan tulisan saya berasal dari Al-Quran, hadits Nabi Muhammad, dan kitab-kitab salafunasshalih, catatan ngaji dengan para guru agama sejak saya di Jakarta hingga Cibinong, transkrip ceramah pribadi yang diunggah di kanal YouTube saya maupun kultum di beberapa majelis ilmu. Bahasa yang saya gunakan dalam menyampaikan pesan dakwah cenderung lebih populer, bahasa keseharian khususnya masyarakat Betawi plus pantun tematik setiap topik.
Awal Mula Berdakwah
Aktivitas dakwah mengisi kultum atau bahkan ceramah hingga 1 jam lamanya sebenarnya baru saya mulai pada tahun 2010 saat tetiba diminta mengisi ceramah internal menyambut Ramadhan di Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mendadak, Kepala Biro saat itu, Ibu Dr. Neni Sintawardhani meminta saya memberikan tausiah dadakan kepada seluruh sivitas BOK. Untunglah sejak menikah pada tahun 2007, saya aktif mengikuti pengajian Ustadz Ahmad Khan pimpinan Majelis Hayyun fii Qulubina SAW yang tinggal di belakang rumah saya di Cipinang Bali, Jakarta Timur dan juga ngaji bersama beliau di Majelis Taklim Habib Abdul Qodir dan Habib Salim Assegaf di Masjid Al Hawi Condet, Jakarta Timur.
Semenjak itu hingga kini, saya sering mendapat kepercayaan mengisi ceramah baik di LIPI kantor saya maupun di beberapa tempat lainnya di seputar Jakarta dan Bogor. Beberapa video ceramah yang sempat direkam panitia, saya unggah di kanal Youtube saya mulai tahun 2017. Video ceramah saya pertama kali saya unggah di kanal Youtube saya yang berjudul Ceramah Isteri Sholehah oleh Aa' Ucan pada 24 Maret 2017. Tak semua momen dakwah diunggah, tergantung ada tidaknya bahan rekaman ceramah. Maklumlah da’i pemula.
Aktivitas Dakwah saat Ini
Tahun 2010 saya hijrah ke Cibinong karena mutasi kerja. Di tempat baru ini, saya pun dipercaya menjadi Ketua Majelis Taklim RT. Otomatis aktivitas di luar rutinitas kantor tak jauh dari dakwah. Begitu pun saat menjadi panitia-panitia kegiatan ke-Islaman seperti panitia Ramadhan, selain mengisi kultum Tarawih dan Subuh, tak sekali dua kali menggantikan da’i yang berhalangan hadir. Bismillah semua saya jalani dengan ikhlas dan lillahi ta’ala. Selain itu saya menemukan kembali Orang Tua Ruh alias Guru Ngaji yakni KH. Hasbiallah Hasyim yang sekarang adalah Pimpinan Ponpes Al Arba’in, Kedung Jiwa.
Saat ini, sebagai salah seorang pengurus masjid Arroyyan di perumahan, saya diamanahi memegang bidang Peribadatan dan Dakwah Islam sejak 2018. Otomatis selain menangani peribadatan mulai dari rutinitas salat 5 waktu hingga penyembelihan hewan qurban pada Iduladha menjadi tanggung jawab saya. Selain itu, kegiatan dakwah berupa taklim dan tabligh pada perhelatan Peringatan Hari Besar Islam juga menjadi tugas saya.
Khusus bidang dakwah, kadang kala pengisi taklim berhalangan hadir karena suatu sebab, entah sakit atau ada jadwal lain. Konsekuensinya saya pun bertanggung jawab mencari penggantinya. Jika pemberitahuan jauh hari maka saya pun punya waktu mencari penggantinya. Namun jika terlalu mefet atau malah tanpa pemberitahuan, mau tak mau akhirnya saya yang menggantikan. Alhamdulillah ilmu dari ngaji dengan para Ustadz, Kyai dan Habaib sangat berguna pada saat-saat dadakan tersebut.
Dari sekelumit cerita saya di atas, saya berpesan kepada para pembaca yang budiman, teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular. Apa pun bidang yang Saudara tekuni, tak hanya bidang dakwah. Insya Allah semua yang baik berbalas kebaikan pula. Tak harus di dunia, bisa jadi nanti di akherat kelak kita mendapatkan kemudahan dan balasan dari Allah SWT. Wallahu a’lam.
***
Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN

