Konten dari Pengguna

Janji

Prof. Dr. Ok Saidin SH M. Hum H
Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
28 September 2021 14:24 WIB
Β·
waktu baca 15 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Janji
Menempati janji itu adalah sifat Sang Khalik yang harus dicontoh manusia. #userstory OK. Saidin
Prof. Dr. Ok Saidin SH M. Hum H
Tulisan dari Prof. Dr. Ok Saidin SH M. Hum H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pria muslim sedang beribadah. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pria muslim sedang beribadah. Foto: Shutter Stock
OK. Saidin
Senja itu Bahlul duduk di sebuah cafe di Bosphorus Strait. Sambil minum Chai, ia membaca buku dongeng anak-anak. Dalam dongeng itu dikisahkan seekor Rusa betina dengan dua ekor anaknya yang masih bayi berjalan melintasi padang rumput. Di padang rumput itu ada sebatang pohon rindang. Induk Rusa itu meninggalkan kedua anaknya di bawah pohon itu lalu ia mencari tempat yang terdapat rerumputan yang hijau. Kelak setelah itu ia bermaksud untuk membawa anak-anaknya sambil mengajarinya mencari makan dan hidup mandiri. Setelah menemui padang rumput yang hijau induk Rusa ingin kembali melihat anak-anaknya. Tapi di perjalanan ia terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh si Pemburu. Melihat ada Rusa yang terperangkap, si Pemburu datang menghampiri Rusa itu.
Diluar dugaan si Pemburu Rusa itu berkata, "Beri aku kesempatan untuk memberi tahu anak-anakku, besok pagi-pagi aku akan ke sini lagi untuk menyerahkan diri".
Si Pemburu terkejut melihat Rusa bisa berbicara. Seketika ia berpikir akan membawa Rusa itu dan akan menghadiahkannya kepada raja, dengan harapan dia akan disayangi dan mendapat hadiah dari raja. Tapi kemudian si Pemburu berubah pikiran, pasti ini bukan Rusa sembarangan. Rusa ini mungkin titisan Dewa atau ruh orang-orang suci. Dalam pikiran yang galau, akhirnya ia melepaskan Rusa itu.
Rusa itu kemudian berlari menemui anaknya di bawah pohon yang rindang itu. Ia menceritakan semua peristiwa dan janjinya kepada si Pemburu. Mereka semuanya menangis. Anak Rusa kemudian bertanya,
"Mengapa ibu harus kembali, memenuhi janji ibu. Bukankah kita bisa lari dan bersembunyi dari si Pemburu itu?"
"Begini anak-anakku," kata induk Rusa itu. "Hidup kita ini adalah janji dan janji itu harus dibungkus dengan kebenaran. Kalian pun harus tahu akan makna janji dan kebenaran.
Kedua hal ini adalah bekal yang harus kalian jaga dalam kehidupan kalian. Kalau bekal ini kalian laksanakan ketika kalian sudah besar nanti, kalian akan kuat menghadapi semua cobaan dan rintangan. Kalian akan banyak mendapatkan sahabat. Hari ini kalian jangan bersedih. Hidup ini terlalu singkat, jangan kalian warnai kehidupan kalian dengan pengkhianatan, kebohongan dan ingkar janji. Nanti kalian akan kehilangan banyak sahabat dan hidup kalian tak akan pernah tenang. Jika hari ini ibu harus memenuhi janji ini demi masa depan kalian. Ibu hendak mengajarkan bagaimana pentingnya menepati janji, sekalipun ibu harus mengorbankan diri ibu. Ibu tak mau mewariskan kepada kalian, bahwa kalian dilahirkan dari orang tua seorang penipu, pembohong dan ingkar janji. Karena itu akan berakibat pada masa depan kalian nanti. Hanya untuk kelangsungan hidup kita, kita tak boleh kehilangan integritas, kita harus memenuhi janji-janji kita". Sambil terisak kedua anak Rusa itu memeluk ibunya, karena itulah hari terakhir kebersamaan mereka.
Pagi-pagi sekali induk Rusa itu berlari menemui sang Pemburu. Anak-anaknya sekuat tenaga berlari mengikuti ibunya. Kisah dramatis itu disaksikan oleh si Pemburu. Akhirnya Rusa itu tiba di hadapan si Pemburu itu. Akan tetapi, kini si Pemburu justru berlutut di hadapan Rusa itu. Sambil merapatkan dan mengangkat kedua telapak tangannya Pemburu itu berkata, "Aku mendapatkan pelajaran yang berharga tentang menepati janji. Engkau pasti bukan Rusa biasa. Engkau pastilah Rusa jelmaan ruh-ruh suci penjaga hutan ini. Aku berhutang kepadamu. Pergilah mencari makan dan ajarkan anak-anakmu tentang bagaimana pentingnya menepati janji, cara hidup jujur dan benar".
Setelah membaca buku dongeng itu, sore harinya Bahlul menemui Gurunya Syekh Soramettin. Bahlul menanyakan tentang arti sebuah janji.
Syekh Sora memulai kuliahnya, "Menepati janji itu seperti air sungai yang mengalir dari puncak gunung dan bukit melintasi lereng-lereng dan lembah. Ia tak pernah berhenti sebelum ia sampai ke laut, tempat yang dijanjikan. Tahukah Engkau Sungai Firat, Bahlul? Sungai itu dalam Bahasa Sumeria disebut dengan Sungai Efrat. Sungai ini hulunya di Kawasan Timur Turki. Sungai ini adalah sungai yang banyak disebutkan dalam sejarah. Sungai ini juga sungai yang terpanjang di Asia Barat.Sungai ini mengalir melintasi Suriah dan Irak sampai akhirnya bersatu dengan Sungai Tigris dan menjadi Sungai Syatrul Arab yang bermuara di Teluk Persia. Wilayah tepian sungai yang diapit oleh kedua sungai ini menjadi wilayah yang subur. Sejarah menyebut kawasan itu sebagai Mesopotamia.
Sungai itu adalah air yang setia mengalir di muka perut bumi, Bahlul. Air yang bergerak dari dataran tinggi menuju dataran rendah. Semua negeri dan kota yang dilaluinya, menumbuhkan banyak kehidupan. Lihatlah kota Birecik, Raqqah, Dairuz Zur, Mayadin, Haditsah, Ramadi, Habbaniyah, Fallujah, Kufah, Smawah, dan Nashriyah tumbuh menjadi kota-kota yang indah dan mewarnai banyak kehidupan.
Hampir semua kota-kota besar di dunia dilintasi oleh sungai, Bahlul. Begitulah perumpamaan orang-orang yang memenuhi janjinya. Janji air yang akan terus mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Air tak pernah mengingkari janjinya. Dengan kebesaran Sang Khalik sumber air itu tak pernah kering. Air pun selalu mengatasi rintangan yang menghalanginya untuk memenuhi janjinya. Kayu-kayu dan batu-batu yang menghalanginya akan tersingkir dan menyingkir ketika ia hendak lalu. Jangan takut untuk memenuhi janji, singkirkan halangan dan rintangan. Sebab janji itu akan berjalan sesuai kodratnya seperti air sungai. Keberkahan akan pemenuhan janjinya akan dinikmati oleh lingkungan yang ada di sekitarnya. Begitu juga jika Engkau saksikan di belahan bumi yang lain, mengalir Sungai Gangga dan sungai Jamuna yang menyuburkan tempat-tempat yang ada di sekitarnya dan umat Hindu mensucikan kedua sungai itu. Sungai yang oleh mereka diyakininya sebagai pemberi berkah kehidupan.
Orang-orang yang memenuhi janjinya hidupnya akan berkah, Bahlul. Itulah orang yang bermanfaat bagi manusia lain. Kehadirannya menjadi penerang di malam yang gelap gulita dan menjadi penyejuk di kala panas terik. Khairunnas 'anfa'uhum linnas. Orang yang terbaik itu adalah orang yang bermanfaat bagi manusia lain. Siapakah manusia yang bermanfaat itu Bahlul? Dia lah manusia yang menepati janjinya. Menempati janji itu adalah sifat Sang Khalik yang harus dicontoh manusia. Sang Khalik selalu menepati janjiNya. Tahukah Engkau Bahlul, mengapa Kekasih Sang Khalik sebelum masa kenabiannya mendapat gelar Al-Amin? Di samping karena kejujurannya, Kekasih Sang Khalik juga tak pernah ingkar janji. Semua pelanggan yang berhubungan dagang dengannya merasa nyaman karena tak ada satu pun janji yang ia langgar.
Pernahkah Engkau mendengar nama Thalhah bin Abdullah bin Utsman Bin Kaab bin Said? Dia adalah orang yang sangat beruntung, karena dia adalah pemuda Quraisy satu dari sepuluh orang yang pertama masuk Islam. Ia memiliki keahlian dalam berdagang. Meski tergolong muda tapi capaiannya dalam berbisnis melampaui para pedagang senior. Mengapa ia sukses Bahlul? Karena ia tak pernah ingkar janji. Menepati janji adalah kunci suksesnya. Tidak pernah menipu dan selalu berbuat jujur. Suatu hari Thalhah berhasil menjual tanahnya dengan harga tinggi, hingga hartanya melimpah memenuhi rumahnya.
Thalhah bukannya gembira, tapi ia menangis. Ia mengatakan, "Sungguh jika seseorang dibebani bermalam dengan harta sebanyak ini, pastilah dia tak tahu apa yang akan ia perbuat dan itu akan mengganggu ketentraman ibadahnya". Malam itu juga Thalhah memanggil para sahabatnya untuk membagi-bagikan harta itu kepada penduduk Madinah. Sampai fajar tiba hartanya belum juga habis dibagi-bagikan. Selesai salat subuh dilanjutkan lagi hingga menjelang siang, hingga tinggal satu dirham.
Tahukah Engkau Bahlul, mengapa Thalhah menghabiskan hartanya dengan cara itu? Itu karena ia berjanji di dalam hatinya akan membagikan harta dari penjualan tanahnya itu, jika suatu hari kelak tanah itu laku terjual. Begitulah ia memenuhi janjinya, memenuhi janji kepada dirinya sendiri. Sehingga Assaib bin Zaid mengatakan, "Aku berkawan dengan Thalhah dalam setiap perjalanan maupun di pemukiman, aku melihat tak ada orang yang sedermawan Thalhah. Ia membagikan uang, pakaian dan makanan kepada siapa saja.
Ingatkah Engkau Bahlul, kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam, ia berjanji kepada Sang Khalik akan menyembelih seribu untanya jika itu perintah-Nya. "Jangankan seribu unta, jika seandainya Sang Khalik meminta aku untuk menyembelih anakku, itu pun akan aku lakukan," kata Ibrahim Alalihissalam. Kata-kata itu bukan hanya menyangkut kesetiaannya kepada Sang Khalik, tetapi lebih dari itu, itu janji Ibrahim Alaihissalam. Sebagai manusia pilihan, Ibrahim Alaihissalam tak pernah mengingkari janjinya. Itulah sebabnya ketika Sang Khalik menguji janjinya dengan meminta ia menyembelih putranya Ismail Alaihissalam, ia pun memenuhinya. Begitulah hakikat pemenuhan janji, Bahlul.
Jadi jangan bermain-main dengan janji. Janji itu ada yang datang dari diri kita sendiri. Itu namanya nazar, Bahlul. Hukumnya wajib untuk dipenuhi. Ada janji yang datang dari diri kita sendiri untuk mengalihkan hak kita untuk kepentingan orang lain namanya hibah atau wasiat. Ada janji untuk kepentingan orang lain perorangan atau untuk kepentingan orang banyak yang diucapkan di depan orang lain atau orang banyak.
Semua janji disaksikan oleh Malaikat dan Sang Khalik. Jangan Engkau mengira kalau Engkau membuat janji sendiri, sesungguhnya Engkau sendiri, Bahlul. Engkau bertiga, yang duanya lagi Malaikat dan Sang Khalik. Janganlah Engkau mengira kalau Engkau berjanji berdua, sesungguhnya Engkau berdua. Engkau berempat Bahlul. Yang duanya lagi adalah Malaikat dan Sang Khalik. Jangan juga Engkau mengira kalau Engkau berlima berjanji, jangan Engkau kira Engkau berlima, tetapi bertujuh Bahlul, yang duanya lagi Malaikat dan Sang Khalik. Malaikat dan Sang Khalik akan senang ikut bergabung dengan orang yang sedang membuat perjanjian. Tetapi apabila salah satu di antara kalian ada yang mengingkari janji itu, maka malaikat dan Sang Khalik adalah pihak yang pertama keluar dari ikatan perjanjian itu.
Malaikat dan Sang Khalik, akan membiarkan orang yang ingkar janji itu terombang ambing, seperti sabut yang terapung di tengah lautan, dipukul ombak ke sana ke mari. Berapa banyak orang yang kaya raya, orang yang berkedudukan tinggi, orang yang terpandang, orang yang memiliki kekuasaan, tetapi karena ia tidak memenuhi janjinya, akhir hidupnya merana dan sengsara. Hati-hati, Bahlul dengan janji.
Janji itu tidak hanya sekedar hutang yang kalau tidak Engkau penuhi arwahmu di saat Engkau wafat, tak pernah sampai kepada Sang Khalik sebelum Engkau memenuhinya, tapi janji itu adalah ikatan yang di dalamnya bersisi harapan. Berapa banyak orang yang berharap dari janji-janjimu. Sebegitulah lilitan terhadap arwahmu yang akan menuju Sang Khalik, jika Engkau tidak memenuhinya.
Harapan-harapan itu tidak hanya untuk orang yang menerima janji itu Bahlul, tapi juga harapan keluarga dan kaum kerabat orang yang engkau janjikan itu. Semua mereka menanti janji itu. Jika harapan itu tak terpenuhi, berapa banyak orang yang teraniaya dengan janji-janji itu. Ingatlah Bahlul, akan doa orang teraniaya, yang menurut janji Sang Khalik akan begitu cepat dijawab-Nya. Jika janji itu berupa uang, mungkin bisa dipenuhi oleh ahli warismu. Tetapi jika janji itu berupa pemenuhan yang tak bisa diteruskan oleh ahli warismu, maka selamanya itu akan menghalangi arwahmu untuk sampai kepada Sang Khalik.
Di banyak negeri Bahlul, banyak sekali para pemimpin yang ketika ia belum duduk memberi janji-janji. Tapi ketika ia sudah memegang jabatan ia lupa akan janjinya. Semua janji itu tercatat dan kelak akan ditagih oleh Sang Khalik, Bahlul. Orang menyebutnya "janji politik" yang seoalah-olah jika tidak dipenuhi menjadi halal. Tidak begitu, Balul. Orang Barat medasari pemenuhan janji pada asas "Pancta sunt servanda" janji harus ditepati.
Terbentuknya Negara juga karena ada janji, Bahlul. Pernahkah Engkau membaca buku "Du Contract Social" buah karya Jean Jacques Rousseau? Rousseau meyakinkan pendiriannya bahwa, jika negara hendak mengurus rakyat, maka sesama rakyat harus membuat perjanjian. Ke mana rakyat akan dibawa? Apa yang dikehendaki rakyat? Bagaimana cara merumuskan kehendak rakyat? Siapa yang akan melaksanakan kehendak itu? Bagaimana cara mengawasi apakah kehendak rakyat itu memang dijalankan? Siapa yang akan menghukum dan seperti apa hukumannya jika kehendak rakyat itu tidak dijalankan? Semuanya dirumuskan dalam janji-janji yang dituangkan dalam keputusan bersama. Pengingkaran terhadap janji-janji itu akan dikenakan hukuman, Bahlul. Orang yang mengingkari janji dikelompokkan ke dalam orang yang tidak dapat dipercaya.
Sang Khalik memasukkan salah satu ciri orang munafik adalah ingkar janji. Tahukan Engkau di mana tempat orang munafik? Tempatnya di kerak neraka, Bahlul. Orang yang sudah terbiasa ingkar janji, akan selalu menutupi janjinya dengan janji yang baru. Kemudian janji yang baru itu akan ia ingkari lagi. Begitulah janji akan ditutupi pemenuhannya dengan janji yang baru. Jika itu sudah mendarah daging, maka itu akan sulit untuk dihilangkan. Orang yang sudah terbiasa ingkar janji ia akan melihat itu sebagai persoalan yang biasa dan lumrah.
Oleh karena itu Engkau harus hati-hati Bahlul, lebih baik Engkau bersahabat dengan orang yang dungu daripada bersahabat dengan orang yang munafik. Orang dungu masih bisa diajari, Bahlul. Tapi orang munafik, ia selalu bertindak seperti orang pandai dan alim, sehingga ia tak perlu lagi berguru. Engkau harus menghindari bersahabat dengan orang munafik. Sebab jika Engkau terus bersamanya Engkau akan terbiasa dan ikut membela sifat-sifat kemunafikannya. Lambat laun Engkau pun akan terbiasa menjadi orang yang ingkar janji.
Janji itu bukan barang permainan Bahlul. Mempermainkan janji itu bukan seni dalam bergaul. Janji itu bukan juga seni dalam memimpin. Janji itu integritas, Bahlul. Apakah orang itu dapat dipercaya atau tidak. Orang yang tak memenuhi janjinya adalah orang yang dalam hidupnya penuh dengan masalah, penuh dengan tipu muslihat. Jika Engkau menemukan orang seperti itu, cepat-cepatlah Engkau menghindar Bahlul. Engkau tak akan pernah mendapat ketentraman batin dalam kehidupanmu. Engkau pun tak kan pernah mendapat ridha dari Sang Khalik.
Pernahkah Engkau mendengar kisah seorang pembunuh yang menepati janjinya, Bahlul? Suatu hari di kota Makkah datanglah dua orang anak muda yang membawa seseorang dengan kondisi terikat ke hadapan Umar bin Khattab Radhiallahu Anha. Dua orang anak muda ini menyampaikan kepada Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anha bahwa orang ini telah membunuh ayahnya. Orang yang dituduh membunuh ini meminta kepada Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anha untuk menjelaskan duduk peristiwanya. Tapi kedua anak muda ini menolak, tapi akhirnya Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anha, memberi waktu agar si Tertuduh menyampaikan alasannya.
"Begini awalnya ya Amirul Mukminin," kata si Tertuduh. "Sebelum aku tiba di tempat ini, aku menempuh perjalanan jauh menaiki unta sampai ke tempat ini untuk menemui saudaraku. Di perjalanan aku tertidur. Aku lupa mengikat tali untaku. Ketika aku terbangun aku melihat untaku masuk ke kebun milik orang tua kedua pemuda ini dan memakan tanam-tanaman di kebun itu. Ayah kedua pemuda ini melemparkan batu ke arah unta yang aku miliki. Sebahagian batu itu tepat mengenai kepalanya, lalu unta itu mati. Aku pun membalas dengan melempar batu ke arah ayah kedua pemuda ini dan tepat mengenai kepalanya, lalu ia meninggal dunia. Perbuatan itu bukan aku sengaja ya Amirul Mukminin. Aku tak mengira bahwa lembaran baruku akan membuat ia meninggal dunia. Aku hanya kesal, tega-teganya ia membunuh unta milikku yang hanya memakan tanamannya, yang menurutku bisa aku ganti”.
Amirul Mukminin kemudian memutuskan, "Kalau begitu jatuhkan qisas terhadap orang ini,"
Si Tertuduh menerima keputusan Amirul Mukminin. "Jatuhkanlah qisas terhadapku, aku ridho atas ketentuan keputusan ini, tapi izinkan aku menunaikan janjiku. Ada amanah yang harus aku sampaikan. Sebelum ayahku meninggal ada harta yang harus aku sampaikan kepada adikku. Aku menyimpannya di tempat yang tidak diketahui adikku. Karena itu izinkan aku selama tiga hari untuk menemui adikku. Setelah itu Engkau boleh menjatuhkan hukuman kepadaku pada saat aku kembali ke sini," begitu permintaan si Tertuduh kepada Amirul Mukminin.
Amirul Mukminin terdiam, lalu menanyakan, "Siapa yang memberi jaminan atas dirimu?" Si Tertuduh terdiam. Dia adalah orang asing yang tak punya keluarga di tempat itu. Lalu di balik keramaian terdengar suara, "Jadikan aku sebagai penjaminnya ya Amirul Mukminin". Umar bin Khattab Radhiallahu Anha, mengenali suara itu adalah suara Salman Al Farisi Radhiallahu Anha. "Salman?" kata Amirul Mukminin. Umar bin Khattab Radhiallahu Anha seolah-olah hendak mengingatkan agar Salman Al Farisi Radhiallahu Anha mengurungkan niatnya. "Demi Allah Engkau belum mengenalnya, Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini. Batalkan kesedihanmu," kata Umar bin Khattab Radhiyallahu Anha.
"Pengenalanku padanya tidak berbeda dengan pengenalanmu, ya Amirul Mukminin. Aku percaya kepadanya sebagaimana Engkau mempercayainya," kata si Tertuduh. Akhirnya Umar bin Khattab Radhiyallahu Anha, mengizinkan si Tertuduh untuk pergi ke rumah adiknya selama tiga hari.
Waktu sudah memasuki hari ketiga. Si Tertuduh belum juga datang. Sampai siang hari orang yang ditunggu belum juga tiba. Kedua pemuda ini mulai gelisah, jangan-jangan si Tertuduh melarikan diri. Kini taruhannya adalah nyawa Salman Al Farisi Radhiallahu Anha. Salah seorang dari pemuda itu mengatakan, jika tidak datang juga, maka Salman Al Farisi akan menggantikannya.
Kini waktu tunggu sudah hampir habis. Salman memenuhi janjinya. Ia melangkah dengan tenang dan tawakal menuju ke tempat eksekusi, tempat qisas. Ketika hukuman hendak dijatuhkan, terdengar suara dari kejauhan dan tampak sesosok bayangan di balik kabut debu, berlari, terjatuh, lalu bangkit lagi, berlari dan akhirnya merangkak, terengah-engah dan jatuh tersungkur ke pangkuan Umar bin Khattab Radhiallahu Anha.
"Maafkan aku, aku terlabat memenuhi janjiku. Aku berterima kasih kepada Salman Al Farisi yang telah menjaminku. Sehingga aku dapat menunaikan janjiku untuk adikku". Umar bin Khattab Radhiallahu Anha sempat marah atas keterlambatannya. Tapi si Tertuduh mengatakan, "Urusan kaumku memakan waktu yang lama. Setelah selesai urusanku, kupacu tungganganku tanpa henti, hingga ia sekarat di gurun pasir ini. Hingga akhirnya kutinggalkan tungganganku dan aku berlari ke tempat ini.
Umar bin Khattab Radhiallahu Anha kemudian bertanya kepada orang ini, "Mengapa Engkau bersusah payah datang ke tempat ini, padahal Engkau memiliki kesempatan yang banyak untuk lari dari hukuman ini?"
Orang ini kemudian menjawab, "Supaya jangan sampai ada orang yang mengatakan di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi orang yang menepati janjinya," kata si Tertuduh sambil tersenyum.
Lalu Umar mendekati Salman Al Farisi Radhiallahu Anha, "Mengapa Engkau mau menjamin orang yang tidak Engkau kenal?" Salman Al Farisi menjawab, "Agar jangan sampai ada orang yang mengatakan bahwa di kalangan Muslimin tak ada lagi saling rasa percaya dan sanggup menanggung beban saudaranya".
Kedua pemuda yang ayahnya terbunuh itu, terharu mendengar jawaban si Tertuduh dan Salman Al Farisi, akhirnya kedua pemuda itu menyampaikan kepada Umar bin Khattab Radhiallahu Anha, bahwa mereka memaafkan pembunuh orang tuanya dan meminta Amirul Mukminin membatalkan hukuman qisas terhadapnya". Mendengar permintaan itu Umar bin Khattab r.a, balik bertanya.
"Mengapa kalian memaafkan orang ini?" Kedua pemuda itu menjawab, "Agar jangan sampai ada orang yang berkata bahwa di kalangan kaum Muslimin talk ada lagi orang yang saling memaafkan dan saling berkasih sayang".
Begitulah, Bahlul, kisahnya. Ada banyak nasihat di dalamnya. Pertama bagaimana si Tertuduh berupaya untuk memenuhi janjinya menyampaikan harta amanah titipan orang tuanya untuk adiknya. Kedua, bagaimana ia kemudian memenuhi kepatuhannya untuk menepati janjinya pada Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu Anha. Ketiga bagaimana Salman Al Farisi memenuhi janjinya untuk melangkah ke tempat qisas. Engkau pun jika ingin hidup terhormat, penuhilah janji-janjimu Bahlul," begitu Syekh Soramettin mengakhiri pencerahannya.
Matahari tampak memerah di atas Kota Istanbul. Di senja yang tampak masih terang benderang itu, Bahlul mengulurkan tangannya seraya memeluk Syekh Sora, guru yang paling ia cintai dan hormati. Bahlul mengucapkan salam dan Syekh Sora membalasnya. Sambil menundukkan kepalanya, Bahlul bergegas pulang menuju rumahnya.
Trending Now