Konten dari Pengguna
Sang Penakluk
31 Agustus 2021 13:22 WIB
·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Sang Penakluk
Terlalu banyak kenikmatan yang sudah kita raih dari Sang Maha Pemberi Rezeki dan Sang Maha Pemberi Kecukupan.Tapi kerap kali manusia lalai. #userstoryProf. Dr. Ok Saidin SH M. Hum H
Tulisan dari Prof. Dr. Ok Saidin SH M. Hum H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiba-tiba seorang Pimpinan Lanun menodongkan pistol ke leher kanannya. Anehnya yang berkeringat dan gemetar justru Sang Lanun, bukannya nakhoda kapal. "Engkau ketahuilah Edham, Hamba tak takut akan kematian," ucap nakhoda kapal. "Kehidupanku diawali dari detik terakhir hembusan nafasku. Karena aku percaya akan ada kehidupan setelah kematian. Sedangkan Engkau Edham, kehidupanmu dimulai hari ini, dan berakhir pada hari kematianmu, karena Engkau tak percaya akan ada kehidupan setelah kematian. Kau boleh menatap mataku sebelum peluru panas itu engkau lepaskan. Mata yang Engkau tatap ini adalah mata titipan Sang Khalik. Mata Sang Khalik jauh lebih tajam dari mata ini dan mata-Nya akan melihat semua perbuatanmu. Dalam bayangan mataku akan terekam semua peristiwa yang Engkau lakukan hari ini. Suatu hari kelak mataku dan matamu akan berbicara, di saat mulut kita berdua terkunci. Tetapi hendaklah Engkau ingat Edham, mata Sang Khalik akan mengawasi semua langkah dalam hidupmu, hingga hari kematian menjemputmu. Ketahuilah Edham, saat kematian datang menjemputmu, saat itu pula perhitungan akan dimulai. Engkau boleh menghitung harta jarahanmu dan mengumumkan kepada dunia, bahwa Engkau adalah pimpinan lanun terbesar penguasa Samudera Atlantik Utara. Tapi akan datang suatu masa di mana mulutmu terkunci, semua tangan, kaki, telinga dan matamu akan bicara. Semua anggota tubuhmu akan berbicara tentang apa yang Engkau lakukan pada masa lalu, hari ini dan masa hadapan. Tentang penderitaan anak-anak yatim yang yang orangtuanya Engkau renggut dari kehidupan, tentang wanita-wanita yang menjadi korban kebuasan hawa nafsumu, tentang ribuan anak-anak muda belia yang menjadi korban dan tak punya masa depan atas perbuatanmu yang memperdagangkan barang-barang haram yang hari ini juga mengalir di dalam darahmu. Akan datang suatu masa di mana perilakumu sebagai lanun dan makelar barang-barang haram, akan berakhir. Kemasyhuran namamu di jagad ini akan dicatat dalam catatan kelam sejarah hidupmu yang akan Engkau wariskan pada anak keturunanmu," demikian Sang Nakhoda dengan gagah berucap. Tubuh Ethan menggigil, gerahamnya merapat, keringatnya mengalir deras. Di tengah kemarahannya, jari telunjuknya bergerak menarik pelatuk pistol. "Dor!" Terdengar bunyi letusan suara peluru yang lembut menembus leher samping kanan Sang Nakhoda. Hanya satu peluru yang ia muntahkan. Sang Nakhoda jatuh terjerembab berlumuran darah. Dengan menyebut nama Sang Khalik dan bersalawat menyebut nama Kekasih-Nya, jantung Sang Nakhoda berhenti berdetak. Anggota Lanun melemparkan jenazahnya di perairan Samudera Atlantik Utara. Posisi Nakhoda digantikan oleh anak buah Sang Lanun dan 138 jam kemudian kapal merapat di pinggiran pantai Punta del Este, Uruguay.
Nama Edham memang sudah terkenal di kota ini. Hampir setiap hari ada saja pemberitaan tentang kejahatan yang dilakukan oleh anak buahnya. Edham adalah pimpinan bajak laut yang kemudian mengembangkan diversifikasi garapannya menjadi agen narkoba dan penyeludupan senjata. Ia dibesarkan dari keluarga yang kurang beruntung. Ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan pesawat udara saat keduanya terbang ke Buenos Aires. Edham kecil dibesarkan oleh neneknya yang berdarah Afrika dengan kehidupan yang pas-pasan di lingkungan pemukiman yang relatif kumuh di Montevideo. Moyangnya sebenarnya berasal dari keluarga muslim yang taat dari kota Cape Town, Afrika Selatan. Tapi takdir mengantarkannya ke negeri bekas jajahan Spanyol yang merdeka pada 25 Agustus 1825 dalam peperangan Las Piedras, karena orang tuanya harus menikahi ibunya gadis Amerika Latin. Tidak sempat menyelesaikan studinya di Punta del Este, ia ikut bekerja pada perusahaan pelayaran, setelah neneknya wafat. Di sinilah kehidupan baru Edham dimulai. Ia melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. Suatu hari kapal yang ia tumpangi disandera oleh bajak laut. Edham bersembunyi di ruang mesin. Setelah negosiasi selesai, Edham justru bukan ikut kembali ke kapalnya, tapi justru ia ikut bergabung dengan gerombolan bajak laut. Babak kedua kehidupan Edham dimulai. Ia belajar cara menggunakan senjata api. Talentanya untuk "berlaga" sudah terlatih pada saat ia hidup di jalanan ketika ia tinggal di rumah neneknya di Montevideo. Uruguay memang negeri yang nyaman untuk pelarian para buronan. Bukan karena pemerintahnya memberi perlindungan terhadap para buronan tapi karena tak banyak orang yang tahu bahwa negeri ini menjadi pilihan para pelarian. Buronan selama 23 tahun, Rocco Morabito pentolan mafia Italia justru dibekuk di negeri ini. Montevideo telah banyak membentuk karakter Edham. Di kota inilah Edham belajar secara otodidak melawan kodratnya sebagai manusia yang dilahirkan hanif, tapi karena keras nya kehidupan di kota ini, Edham tumbuh menjadi remaja yang kejam tanpa belas kasihan. Jika dahulu Edham meninggalkan kota ini sebagai pesuruh para mafia, kini ia kembali sebagai pimpinan para mafia. Kalau dahulu ia tinggal di rumah yang kumuh di Montevideo, kini ia tinggal di perumahan mewah di pinggiran pantai di Punta del Este. Tak ada yang tak kenal Edham C'istador. Ujung namanya itu adalah singkatan dari Conquistador yang dalam Bahasa Spanyol berarti penakluk. Orang mengenalnya sebagai Edham Sang Penakluk. Ia telah menaklukkan Samudera Atlantik Utara. Hampir semua bajak laut berguru kepadanya dan kini sebagian besar menjalankan aktivitasnya di bawah kendali Edham.
Tapi kali ini langkahnya kaki Edham gemetar, tubuhnya kembali berkeringat, bukan karena panasnya hembusan angin laut di pinggiran Pantai Punta del Este, tapi mengenang peristiwa 138 jam yang lalu ketika ia memuntahkan peluru dari senjata kesayangannya Glock 45 GAP. Masih terekam di benaknya saat mata Sang Nakhoda menatapnya pada waktu ia memuntahan peluruhnya. Padahal selama ini bayangan seperti itu tak pernah hadir dalam benaknya, termasuk ketika ia menghabisi satu keluarga yang memberi informasi tentang keberadaannya kepada gembong buronan mafia Italia. Ya, ada yang tidak bisa dipungkirinya sebagai manusia. Manusia tidak hanya terbuat dari susunan daging dan tulang, tapi di dalamnya ada jiwa, ruh yang ditiupkan Sang Khalik. Jiwa itu akan mengisi ruang hatinya. Seperti hard disk ia merekam dan menyimpan semua peristiwa dan kejadian. Rekaman itu itu lah kini hadir dalam benaknya. Membuat Edham berkeringat dan langkahnya gontai, ketika memasuki rumah mewahnya yang asri dengan view nan indah di kawasan pantai Punta del Este. Tapi keindahan itu tak membuat hati Edham tenteram. Kucuran keringatnya semakin deras dan jantungnya berdetak kencang, ketika ia membuka saluran televisi, yang penuh dengan berita kejadian 138 jam yang lalu. Sebuah kapal barang khusus yang membawa pesanan senjata Pemerintah Turki dari Jerman, dibajak dan nakhodanya dilemparkan ke laut sebelum kapal itu berbalik arah yang semula dijadwalkan akan melintasi Laut Marmara membelah Selat Bosporus. Media cetak juga penuh dengan pemberitaan dan hampir semua pemberitaan mengarah pada kejahatan Edham Sang Penakluk.
Berita itu sampai juga ke telinga Bahlul. Nakhoda yang dikabarkan hilang itu adalah sahabat lama Bahlul ketika ia belajar di sekolah pimpinan Husyin Korkut di Provinsi Kayseri. Husyin Korkut adalah pimpinan asosiasi alumni para khatib di Turki. Di situlah Bahlul dan Sang Nakhoda menghabiskan waktu selama 3 tahun menuntut ilmu agama, sebelum Sang Nakhoda melanjutkan studi di Denizcilik Fakultesi-Fakultas Maritim-Istanbul Technical University. Fakultas ini termasuk Fakultas tertua di Turki yang didirikan pada 5 Desember 1884 di Heybeliada, Istanbul. Yang pada awal pendiriannya bernama Leyli Tuccar Kaptan Mektebi yang kalau diterjemahkan, Makhtab Asrama Angkatan Laut Pedagang, yang merupakan bagian dari Akademi Angkatan Laut Otteman yang dimaksudkan untuk memperkuat sipil navigasi dan pelayaran di Ottoman Empire yang pernah berkuasa selama lebih dari 600 tahun dengan bentangan wilayah mulai dari Hongaria hingga bagian Utara Somalia di sebelah Selatan dan dari Aljazair di sebelah Barat hingga Irak di sebelah Timur. Pengaruhnya pun sampai ke Asia, Kesultanan Iskandar Muda di Aceh dan Kesultanan Asahan di Sumatera Utara, wilayah Indonesia.
Dalam kesedihannya yang dalam karena ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh sahabatnya ia menghadap Syekh Soramettin.
Sahabat lama pergi berlayar,
Menjalankan amanah perintah negeri,
Hati hamba sangatlah gusar,
Sahabat pergi tak kembali.
Bahlul mengadukan peristiwa Bajak Laut yang menimpa kapal khusus pengangkutan barang yang dinakhodai sahabatnya yang dikabarkan turut terbunuh dalam tragedi itu. Sudah lebih dari sepekan ini peristiwa itu terus menghiasi berita di halaman-halaman media cetak dan media elektronik. Syekh Sora juga mendengar kabar dan kejadian itu.
"Bahlul, Engkau tak boleh larut dalam kesedihan yang dalam," Syekh Sora memulai percakapannya. "Kesedihanmu itu jauh lebih besar dari nikmat dan kegembiraan yang disediakan oleh Sang Maha Pemberi Kesejahteraan. Dialah Sang Khalik yang Maha Menundukkan dan Maha Menaklukkan segala sesuatu. Dia juga Sang Maha Pemberi Karunia dan Maha Pembuka Rahmat. Terlalu banyak kenikmatan yang sudah kita raih dari Sang Maha Pemberi Rezeki dan Sang Maha Pemberi Kecukupan.Tapi kerap kali manusia lalai. Terlalu banyak nikmat Sang Khalik yang manusia dustakan, dan kalimat sindiran itu diulang Sang Khalik sebanyak 31 kali dalam wahyunya.
Bajak Laut yang Engkau ceritakan sebagai Sang Penakluk lupa akan dirinya. Ia lupa Laut Atlantik Utara yang setiap hari ia lintasi telah menempatkan dirinya seperti setetes air di samudera luas itu. Sangat kecil diri manusia dibandingkan dengan kebesaran Sang Khalik. Keperkasaan Sang Pemimpin Bajak laut tak bisa mengimbangi Sang Maha Perkasa pencipta bumi dan langit dengan segala isinya. Penaklukan sang bajak laut di perairan Samudera Atlantik Utara, tak bisa mengimbangi Sang Maha Penakluk sesungguhnya. Kekuasaan manusia hanya segelintir saja jika dibandingkan dengan kekuasaan Sang Maha Kuasa. Kekuasaan manusia seperti serpihan debu di Gurun Sahara, dan kekuasaan itu akan berakhir tepat pada waktunya. Ketahuilah Bahlul, Sang Maha Megah yang Memiliki Kebesaran, tak pernah tidur. Dialah yang senantiasa terjaga dan Maha Mendengar. Tak ada satu pun lembaran daun kayu dan buah yang gugur dari tangkainya tanpa sepengetahuan dan seizin-Nya. Dialah Sang Maha Hidup yang kekal dan dia juga Sang Maha Menundukkan dan Maha Menaklukkan yang akan memberi kelapangan dalam hidup manusia, tetapi Dia juga yang Maha Menyempitkan. Sang Khalik akan menjatuhkan pilihannya kepada siapa yang ia kehendaki menjalankan amanahnya.
Oleh karena itu Bahlul, jika kita diberi kenikmatan untuk hidup, maka pergunakanlah amanah itu dengan baik Bahlul. Hendaklah Engkau mengingat Sang Khalik dalam setiap detik. Dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring. Dalam keadaan senang atau susah. Dalam keadan berkuasa atau menjadi rakyat jelata. Jika Engkau sebagai pedagang, timbanglah barang daganganmu dengan jujur. Jangan Engkau menipu timbangan, itu kejahatan yang amat keji. Jika Engkau sebagai hakim, kakimu setengah di neraka Bahlul, karena peganglah palu dengan adil. Jika Engkau sebagai penguasa, hindari berbuat kezaliman, hendaklah Engkau menjadi penguasa yang adil. Karena keadilan itu akan mendekatkanmu kepada ketakwaan. Taqwa inilah puncak dari prestasi kehidupan manusia. Kita diciptakan, beragam-ragam Bahlul. Beragam suku, beragam bangsa, laki-laki dan perempuan. Ada yang diberi harta yang melimpah, ada yang miskin papa. Ada yang diberi kekuasaan, ada yang yang ditakdirkan menjadi miskin papa. Ada yang diberi kecerdasan dan pengetahuan yang melimpah, tapi ada juga yang diberi pengetahuan terbatas. Itu cara Sang Khalik menguji kita. Sang Khalik memerintahkan kita agar saling berta'aruf, saling berinteraksi, saling kenal mengenal untuk mencapai kebaikan dengan keimanan. Engkau dikatakan belum beriman jika Engkau belum diuji. Hasil ujian itu lah yang akan menghasilkan nilai, apakah Engkau lulus dengan predikat taqwa. Sesungguhnya dari sekian banyak manusia yang berbeda-beda tadi, yang paling mulia adalah orang yang paling taqwa di antara semua manusia. Itulah yang harus Engkau kejar Bahlul. Engkau do'akan sahabatmu, Nakhoda yang telah lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Engkau doakan juga Edham untuk kembali kepada keyakinan nenek moyangnya, agar Sang Khalik membukakan pintu hatinya dan bertobat sebelum mulutnya terkunci dan semua anggota tubuhnya akan mengungkapkan semua perbuatannya," demikian Syekh Sora menutup perbincangannya dengan Bahlul.
Senja merah tampak memantul di atas kubah masjid yang berbatasan dengan dinding kamar Syekh Soramettin. Bahlul bergegas hendak pulang. Seraya mencium kedua punggung tangan Syekh Sora, Bahlul kemudian mendekapkan kedua telapak tangannya di dadanya lalu membungkukkan diri, Ia kemudian bergegas melangkah pulang. Kesedihan karena ditinggal sahabatnya berangsur-angsur berubah menjadi doa yang tulus, tidak hanya untuk sahabatnya tapi juga untuk Edham Sang Penakluk. Satu bulan setelah kejadian itu, Edham diberitakan telah berpulang menghadap Sang Khalik dalam kesendiriannya di rumah mewahnya di Punta del Este.

