Konten dari Pengguna

Geosite sebagai Media Edukasi Bencana di Geopark Batur Bali

oka agastya
Earthscientist & researcher #SainsAsyikFGMI
22 September 2025 14:22 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Geosite sebagai Media Edukasi Bencana di Geopark Batur Bali
Kekuatan utama pendekatan geosite sebagai media edukasi terletak pada storytelling.
oka agastya
Tulisan dari oka agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kegiatan geowisata di kawasan aliran lava Gunung Batur tahun 1963 atau dikenal sebagai Black Lava (Photo oleh Dewa Ode)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan geowisata di kawasan aliran lava Gunung Batur tahun 1963 atau dikenal sebagai Black Lava (Photo oleh Dewa Ode)
Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa ada lebih dari 20 geosite yang tersebar di Geopark Batur, mulai dari kaldera raksasa, kubah lava, cinder cone, hingga situs desa purba yang terkubur letusan. Masing-masing geosite memiliki nilai ilmiah, estetika, sekaligus catatan bencana masa lalu. Melalui analisis geoheritage, Agastya dkk. (2024) menekankan bahwa hampir seluruh geosite berhubungan dengan ancaman letusan gunung api, disertai risiko gempa dan longsoran. Dengan kata lain, setiap titik wisata sebenarnya juga adalah titik pembelajaran tentang bahaya alam. Jika dimanfaatkan secara tepat, keberadaan geosite ini bukan hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga medium edukasi bencana yang nyata (Agastya, 2023).
Salah satu contoh konkret adalah gagasan geotrail โ€œTraces of Mount Batur Eruption and Civilization of the Ancient Batur Villageโ€ yang dikembangkan oleh Agastya (2023). Geotrail ini menyusun jalur edukatif sepanjang kurang lebih delapan kilometer, menghubungkan berbagai geosite penting seperti museum geopark, lokasi lava tahun 1926 dan 1963, situs Desa Batur Kuno, hingga Pura Prapen dan Bukit Payang. Jalur ini memungkinkan wisatawan menyusuri kisah letusan Batur secara kronologisโ€”melihat bagaimana lava menghancurkan permukiman, bagaimana masyarakat beradaptasi, dan bagaimana alam perlahan pulih. Pendekatan seperti ini menegaskan bahwa edukasi tidak harus berbentuk kelas atau buku, melainkan bisa diwujudkan melalui pengalaman langsung di lapangan.
Kekuatan utama pendekatan geosite sebagai media edukasi terletak pada storytelling. Alih-alih hanya menjelaskan data geologi yang kaku, pemandu dapat menghidupkan kisah bencana melalui narasi yang menyentuh sisi emosional. Misalnya, saat wisatawan berdiri di atas aliran lava 1963, pemandu bisa menceritakan bagaimana desa purba hilang dalam semalam, bagaimana warga harus meninggalkan rumah, dan bagaimana kehidupan baru dibangun kembali di pinggir kaldera. Cerita semacam ini membuat pengetahuan bencana lebih membekas dibanding sekadar angka atau peta risiko. Menurut Agastya (2024), keterlibatan emosional adalah kunci agar wisatawan maupun masyarakat lokal memahami pentingnya kesiapsiagaan.
Selain untuk wisatawan, geosite juga berperan besar dalam membangun kapasitas masyarakat lokal, khususnya para pemandu. Banyak pemandu di kawasan Batur selama ini hanya berfokus pada aspek hiburan wisata, seperti mengantar turis menyaksikan matahari terbit. Padahal, jika dibekali pengetahuan geologi dasar dan teknik komunikasi risiko, mereka bisa menjadi agen edukasi bencana yang efektif. Agastya (2023) menekankan bahwa pelatihan pemandu sangat penting agar mereka mampu menjelaskan fenomena geologi sekaligus menyampaikan pesan mitigasi. Dengan cara ini, wisata edukasi di geopark tidak hanya memberikan kesenangan sesaat, tetapi juga pengetahuan yang bermanfaat bagi keselamatan.
Pendekatan edukasi berbasis geosite ini sejalan dengan Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015โ€“2030, yang menekankan pentingnya pemahaman risiko dan pemberdayaan masyarakat lokal (UNISDR, 2015). Geopark, dengan tiga pilarnya (geo, bio, dan budaya), menyediakan wadah ideal untuk mewujudkan prinsip tersebut. Melalui geosite, wisatawan mendapat pengalaman belajar, sementara masyarakat lokal memperkuat identitas sekaligus kesiapsiagaan. Misalnya, keberadaan situs Pura Prapen yang selamat dari letusan bisa dijadikan simbol ketahanan budaya di tengah bencana, yang menegaskan bagaimana manusia Bali hidup berdampingan dengan gunung berapi.
Namun, tentu saja implementasi pariwisata edukatif ini tidak lepas dari tantangan. Wisata konvensional yang berfokus pada hiburan instan masih mendominasi. Banyak turis hanya ingin berfoto di puncak tanpa mendengar cerita geologi atau bencana. Selain itu, beberapa geosite belum dilengkapi fasilitas informasi, jalur evakuasi, atau papan peringatan. Kapasitas pemandu juga masih terbatas. Semua ini membuat wisata edukasi bencana harus bersaing ketat dengan pariwisata massal yang lebih mudah dipasarkan. Sebagaimana dicatat Agastya (2025), perlu sinergi antara pemerintah daerah, pengelola geopark, dan lembaga kebencanaan agar geosite benar-benar berfungsi sebagai media edukasi yang aman dan menarik.
Meskipun demikian, peluang untuk mengembangkan wisata berbasis edukasi bencana di Geopark Batur tetap besar. Tren global menunjukkan peningkatan minat terhadap pariwisata berkelanjutan dan edukatif. Wisatawan kini mencari pengalaman yang lebih bermakna, bukan sekadar foto. Dalam konteks ini, Geopark Batur bisa menawarkan kombinasi unik: panorama alam spektakuler, kisah bencana yang sarat makna, serta pembelajaran tentang mitigasi risiko. Dengan kemasan yang tepat, wisata edukasi bencana tidak hanya mengurangi kerentanan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi dan budaya bagi masyarakat lokal.
Akhirnya, pemanfaatan geosite sebagai media edukasi bencana di Geopark Batur adalah langkah strategis yang menghubungkan pariwisata, ilmu pengetahuan, dan kesiapsiagaan. Seperti ditekankan Agastya (2023; 2024), kunci keberhasilan ada pada kemampuan mengubah bebatuan, lava, dan kaldera menjadi kisah hidup yang bisa dirasakan wisatawan dan dipahami masyarakat. Jika pendekatan ini konsisten diterapkan, Geopark Batur tidak hanya akan dikenal sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai ruang belajar kebencanaan yang mampu membangun budaya kesiapsiagaan. Dengan demikian, keindahan dan risiko berpadu menjadi pengalaman utuh yang memberi manfaat jangka panjang.
Referensi
Agastya, I.B.O. (2023). Traces of Mount Batur Eruption and Civilization of the Ancient Batur Village Geotrail as Media Learning for Disaster Risk Reduction in Geopark Batur. ResearchGate.
Agastya, I.B.O., dkk. (2024). Model Media Learning for Disaster Risk Reduction in the Batur UNESCO Global Geopark. Academia.edu.
Agastya, I.B.O. (2025). Artikel dan publikasi terkait geopark dan mitigasi bencana di Academia.edu.
UNISDR (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015โ€“2030.
Trending Now