Konten dari Pengguna
Konsep Pertanian Sirkular
24 Juni 2025 12:50 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Konsep Pertanian Sirkular
pertanian sirkular sebagai alternatif perbaikan kualitas lingkungan dari sektor pertanianOkta Prastowo Raharjo
Tulisan dari Okta Prastowo Raharjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertumbuhan kuantitas produksi pangan pada puluhan tahun terakhir telah menimbulkan dampak bagi kondisi lingkungan. Separuh dari lahan layak huni di dunia saat ini telah dijadikan lahan pertanian. Hal ini menyebabkan pertumbuhan produksi pertanian yang sangat cepat, hilangnya sepertiga hutan selama satu abad terakhir, dan seperlima dari hutan yang tersisa terdeforestasi dalam kurun waktu tahun 1990 hingga 2015. Dampak langsung dari deforestasi ini adalah hilangnya keanakeragaman hayati. Selain itu, pertanian juga telah menggunakan 70 persen dari total penggunaan air tawar dunia. Praktek ekstraksi air tanah dan air permukaan yang berlebihan untuk pertanian dilakukan di seluruh dunia.
Pertumbuhan produksi pertanian yang cepat juga menimbullkan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintetis secara intensif dan berlebihan sehingga mengakibatkan rusaknya kualitas lahan untuk bercocok tanam. Lebih dari seperempat dari jumlah tanah di dunia telah terdegradasi kualitasnya akibat praktik pemupukan dan pengendalian hama pada sektor pertanian yang mengandalkan bahan sintetis. Belum lagi penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan mencemari air karena limpasannya.
Perubahan tata guna lahan dan pertanian juga bertanggung jawab pada sekitar 31 persen dari total emisi gas rumah kaca global. Tanpa adanya perubahan pada praktik pertanian pertanian saat ini maka emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian akan menjadi dua kali lipatnya pada tahun 2050. Salah satu konsep budidaya pertanian yang dapat dikembangkan untuk mengurangi dampak negatif bagi lingkungan adalah menerapkan konsep pertanian sirkular.
Pertanian sirkular memusatkan perhatiannya pada meminimalkan penggunaan input eksternal (seperti pupuk anorganik dan pestisida sintetis), menjaga daur hara dan regenerasi tanah, dan meminimalkan dampak lingkungan. Jika pertanian sirkular ini diterapkan secara luas, maka pertanian sirkular dapat mengurangi kebutuhan sumber daya dan tapak ekologis pertanian. Pertanian sirkular juga bisa mengurangi penggunaan pupuk anorganik, mengurangi penggunaan lahan, mengurangi limbah kimia yang pada akhirnya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca. Pertanian sirkular sangat mendorong penggunaan kotoran hewan dan limbah organik sebagai pupuk dan penggunaan air buangan untuk irigasi.
Sebenarnya, pertanian sirkular bukanlah konsep baru karena konsep ini diparktekkan oleh nenek moyang kita sebelum mengenal industrialisasi. Namun pertanian sirkular lambat laun tergusur oleh pertanian modern yang menekankan pada produksi yang massif, skala yang luas, monokultur, dan berfokus pada peningkatan laba secara ekonomi. Pertanian sirkular mendorong petani kecil, praktek budidaya organik, agroforestri, menghasilkan produk yang beragam dan bernutrisi, pengembangan ekonomi serta keamanan pangan lokal.
Pada pertanian sirkular, semua tahapan dalam usaha pertanian mulai dari menanam, memanen, mengemas, memproses, mengangkut, memasarkan, mengkonsumsi dan membuang sisa pangan dirancang untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Keterpaduan tani-ternak dan budidaya organik, agroforestri dan daur ulang air irigasi adalah elemen kunci pada model pertanian sirkular untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, penggunaan sumberdaya alam secara efisien, serta pengurangan penggunaan input yang signifikan.
Jenis-jenis praktek pertanian sirkular adalah sebagai berikut.
a. Budidaya tani campuran
Pertanian sirkular sangat terhubung dengan konsep Bertani campuran antara tanaman dan ternak dan menghindari praktek pertanian monokultur. Memadukan pertanian peternakan dapat menawarkan lebih banyak kesempatan untuk diversifikasi produk serta mengurangi ketergantungan pada input eksternal. Penggunaan kotoran hewan sebagai pupuk, menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan, atau mengkombinasi tanaman pangan yang berbeda-beda dengan legume dapat meningkatkan hasil panen.
b. Pertanian organik
Pertanian organik merupakan elemen kunci dari pertanian sirkular karena benar-benar berusaha mengurangi penggunaan dan ketergantungan pada pupuk anorganik dan pestisida sintesis dan plastik. Pertanian organik juga lebih menyerap tenaga kerja sehingga membuka peluang kerja dan pengembangan sumber daya manusia di pedesaan.
c. Agroforestri
Agroforestri atau menanam pohon bersamaan dengan tanaman pertanian atau hijauan ternak juga salah praktek kunci dalam pertanian sirkular. Menanam pohon dapat menjaga keanekaragaman hayati pada bentang alam pertanian sekaligus menambah kesuburan tanah hasil dari pembusukan dari dedaunan. Hal ini juga bisa mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintetis.

