Konten dari Pengguna

Mahasiswa dan Krisis Sunyi: Saatnya Kampus Serius pada Kesehatan Mental

OSVALDO MANURUNG
Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya
13 November 2025 20:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mahasiswa dan Krisis Sunyi: Saatnya Kampus Serius pada Kesehatan Mental
Artikel ini menyoroti krisis kesehatan mental di kalangan mahasiswa akibat tekanan akademik dan sosial, serta pentingnya peran kampus dalam menciptakan lingkungan yang peduli dan suportif.
OSVALDO MANURUNG
Tulisan dari OSVALDO MANURUNG tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi mahasiswa khawatir. Foto: fizkes/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa khawatir. Foto: fizkes/Shutterstock

"Kamu lelah, tapi kamu harus berani."

Kutipan ini bukan sekadar candaan yang beredar di media sosial, melainkan cerminan nyata kehidupan mahasiswa masa kini. Di tengah tuntutan akademik, tekanan sosial, dan ekspektasi keluarga, banyak mahasiswa diam-diam berjuang melawan kecemasan, kelelahan, dan depresi.
Anehnya, masalah kesehatan mental seringkali terabaikan—padahal masalah tersebut penting sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang lebih baik, sebagaimana tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik.
Prevalensi penyakit mental di kalangan mahasiswa bukanlah hal baru, tetapi terus meningkat. Sebuah survei tahun 2024 terhadap 1.219 mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menemukan bahwa 21,9% berada dalam kelompok berisiko tinggi, 43,5% berada dalam kelompok berisiko rendah, dan 34,4% berada dalam kelompok berisiko rendah (SMCCU UNESA, 2024).
Ini berarti hampir semua mahasiswa pernah mengalami masalah kesehatan mental selama masa studi mereka. Di Bandung, studi serupa terhadap 736 mahasiswa baru menemukan bahwa 48,6% memiliki gejala penyakit mental, dan 5,3% mengaku memiliki pikiran untuk bunuh diri (IDN Times Jabar, 2024). Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi jelas menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan kita tidak cukup mendukung kesehatan mental mahasiswa.
Kesulitan ekonomi, beban akademik yang tinggi, dan melimpahnya informasi dari media sosial menyebabkan masalah kesepian di kalangan mahasiswa. Banyak yang merasa tertekan untuk terlihat produktif dan bahagia secara daring, meskipun mereka lelah di dunia nyata. Menurut studi Nurhayati & Wahyuni (2023) dalam Jurnal Psikologi Indonesia, stres akademik yang tidak terkelola dengan baik dapat menurunkan motivasi belajar, mengganggu pola tidur, dan meningkatkan risiko depresi. Lingkungan sekolah yang sangat kompetitif tanpa dukungan sosial memperburuk masalah ini, menciptakan lingkungan belajar yang sulit.
Tidak semua universitas memiliki kebijakan khusus untuk mengatasi masalah kesehatan mental mahasiswa. Banyak universitas masih memandang masalah ini sebagai masalah pribadi. Namun, mahasiswa dengan masalah kesehatan mental menunjukkan kinerja yang baik secara akademis dan sosial.
Beberapa universitas mulai mengambil tindakan. Misalnya, Institut Teknologi Bandung (ITB) kini menawarkan konseling dan tes psikologi rutin, dengan lebih dari 2.500 sesi per tahun untuk membantu mahasiswa dengan masalah kesehatan mental (Antara News, 2024).
Di Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia (UII) juga telah memelopori layanan konseling berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan mahasiswa mencari bantuan secara anonim (UII, 2024). Upaya tersebut menunjukkan bahwa institusi pendidikan memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif.
Tanggung jawab untuk menjaga kesehatan mental tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada universitas. Mahasiswa sendiri juga harus menyadari cara menjaga kesejahteraan mereka sendiri. Hal-hal sederhana seperti tidur yang cukup, makan teratur, berolahraga sedikit, membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial, dan terlibat dalam aktivitas yang mereka sukai dapat menjadi cara efektif untuk merawat diri sendiri.
Yang terpenting, mahasiswa harus cukup berani untuk mengungkapkan perasaan mereka. Terkadang, sekadar berbagi dengan teman yang pengertian sudah cukup untuk mengurangi stres. Dukungan sebaya seringkali sangat ampuh karena berasal dari empati dan pengalaman pribadi.
Guru dan staf sekolah perlu memiliki pengetahuan tentang kesehatan mental. Guru yang mengenali tanda-tanda kelelahan atau perubahan perilaku pada siswa dapat memberikan intervensi dini sebelum masalah menjadi lebih serius. Pelatihan singkat kesehatan mental bagi guru dan staf dapat menjadi cara yang hemat biaya dan efektif untuk mencegahnya. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga ruang aman bagi siswa untuk berkembang secara emosional dan sosial.
Perlunya mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesehatan mental. Kesehatan mental bukan lagi topik tabu atau tanda kelemahan, melainkan isu kemanusiaan yang perlu ditangani bersama. Siswa bukanlah robot pembelajaran yang dinilai dari IPK dan prestasi mereka, melainkan individu dengan sumber daya dan imajinasi terbatas.
Kesehatan mental harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan siswa yang komprehensif, bukan sekadar ritual yang dilaksanakan setiap Hari Kesehatan Mental Sedunia. Jika kesehatan mental terus diabaikan, generasi muda yang diharapkan menjadi penggerak pembangunan justru akan tumbuh dalam kondisi kelelahan dan mental yang labil.
Trending Now