Konten dari Pengguna
Mahasiswa Gaya Elite, Ekonomi Sulit
15 Agustus 2022 13:16 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Mahasiswa Gaya Elite, Ekonomi Sulit
Kondisi mahasiswa masa kini yang memiliki gaya elite dengan ekonomi sulit akibat terlalu iri atau FOMO dari eksisnya publikasi kehidupan di media sosial. #userstoryPrince Clinton Damanik
Tulisan dari Prince Clinton Damanik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak dahulu pola hidup hedonisme memang sudah ada di dunia serta sudah barang tentu hal tersebut akan terjadi pula di kalangan anak masa kini terkhusus mahasiswa. Gaya hidup mewah biasanya ditampilkan oleh kalangan elite sebut saja jika di daerah para anak pejabat, anak pengusaha, atau jika di tingkat nasional lebih pada artis dan juga public figure yang tentu memang harus menopang penampilan dan gaya hidup yang elite agar dapat eksis dalam circle pertemanan mereka.
Hal tersebut sebenarnya lumrah-lumrah saja, apalagi kita adalah negara yang menjunjung tinggi demokrasi dengan elemen pentingnya adalah kebebasan ekspresi. Namun, itu semua seolah semakin runyam sejak kemunculan era digital yang di mana semua kehidupan pribadi orang lain sudah terbiasa untuk diumbarkan dalam media sosial, sehingga memunculkan rasa iri pada kalangan muda terutama mahasiswa bahkan menjurus kepada istilah FOMO (Fear of Missing Out).
Fenomena di kalangan mahasiswa
Fenomena FOMO tersebut menyasar pada semua kalangan dan semua lapisan masyarakat, semua orang saat ini memiliki telepon genggam yang memiliki akses ke semua platform media sosial mana pun yang menyebabkan rasa ingin tahu setiap orang itu meningkat sehingga ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan seseorang, sedang di mana, bahkan menginginkan kondisi yang sedang dilakukan oleh orang tersebut. Seperti seorang public figure baru saja makan di kafe yang baru saja buka lalu membuat story di IG-nya, tentu selang beberapa menit kemudian akan banyak orang yang berbondong-bondong untuk hadir ke tempat tersebut, bahkan ketika sosok public figure tersebut juga sudah pulang, tetap saja kafe tersebut akan tetap ramai karena banyaknya masyarakat yang tidak mau tertinggal, jangan sampai teman-temannya sudah berkunjung ke sana tetapi dia sendiri belum.
Begitu pula jika terdapat seorang teman di media sosialnya yang baru saja berkunjung ke suatu tempat wisata sudah barang tentu temannya ada juga yang ingin berkunjung ke sana pula, ketika melihat orang lain ada yang baru saja dugem di klub malam dan terlihat keren, keesokannya banyak pula yang ingin ikut serta merasakannya.
Kondisi tersebut berkembang pesat di kalangan muda terkhusus mahasiswa yang memang sehari-harinya tentu akrab dengan media sosial. Mahasiswa yang berasal dari ekonomi atas atau menengah ke atas tentu ini bukan sebuah masalah, juga bagi kalangan menengah ini belum menjadi masalah, karena setidaknya mereka masih bisa memenuhi kebutuhan utamanya dahulu lalu berusaha untuk mengejar apa yang sedang tren di kalangan muda saat ini agar tak ketinggalan. Masalah sebenarnya akan mulai tampak pada mahasiswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, serta kalangan bawah.
Gaya Elite, Ekonomi Sulit
Terlalu mudahnya publikasi kehidupan di era digital ini akhirnya memunculkan masalah baru yaitu banyak mahasiswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah berusaha untuk menghalalkan segala cara agar menampilkan gaya hidup elite di media sosialnya masing-masing, walau pada kenyataannya ekonominya sulit. Mulai dari setiap hari nongkrong di kafe dengan meminum kopi kekinian, harus memiliki gadget kelas tinggi, atau harus setiap bulannya nge-mall untuk selfie dengan tas belanja bermerek ‘tuk menopang eksistensi dalam dunia maya.
Kemudian yang menjadi sorotan yaitu semakin banyak mahasiswa gaya elite dengan ekonomi sulit ini mulai menekan orang tua nya dengan berbagai alasan agar diberikan uang. Mulai dari meminta uang buku, uang praktik, bahkan uang-uang lainnya yang sebenarnya tidak pernah diperlukan oleh mahasiswa tersebut. Biasanya, mereka yang dari keluarga menengah ke bawah ini cenderung mudah untuk menuruti permintaan anaknya sehingga rela untuk mengutang kesana kemari untuk memenuhi tuntutan anaknya tersebut.
Masalah akhirnya semakin muncul ketika orang tua sudah tak mampu memenuhi kebutuhan mahasiswa tersebut yang berujung timbulnya solusi alternatif untuk menopang gaya hidup elite tersebut, salah satunya melalui pinjaman online atau biasa disebut pinjol mulai dari legal maupun illegal semuanya dilakukan. Akhirnya, tak jarang mahasiswa pria yang terlilit utang dari pinjol jatuh ke dalam dunia kriminalitas seperti pencurian ataupun pembegalan, sedangkan mahasiswi banyak yang berakhir masuk ke dalam dunia malam menjadi perempuan panggilan.
Dari tahun ke tahun masalah ini seolah abai dan tabu untuk dibahas oleh berbagai pihak pendidikan terutama universitas karena Pendidikan kita yang masih enggan untuk memberikan pemahaman terhadap ranah sensitif terutama pengelolaan keuangan dan gaya hidup yang lebih sederhana. Kita terlalu banyak mengkonsumsi berbagai hiruk pikuk hedonisme di media sosial dan tenggelam di dalamnya hingga lupa bahwa itu semua belum tentu nyata.
Besar harapan pada mahasiswa saat ini untuk sadar tujuan sebenarnya berkuliah bukan untuk terlihat keren dan elite dalam masyarakat, bukan pula untuk membuat bangga orang tua dengan embel-embel kuliah di kota besar, melainkan bertujuan untuk benar-benar menjadi sosok manusia yang memiliki ilmu dan berguna bagi dirinya sendiri serta orang di sekelilingnya bahkan bangsa dan negaranya, sehingga dapat mewujudkan mimpi dari Soe Hok Gie ini.
Prince Clinton Damanik, Guru Honor Swasta dan mahasiswa Pascasarjana UNY

