Konten Media Partner

5 Orang di Kota Yogya Meninggal Akibat Leptospirosis sejak Januari 2025

1 Juli 2025 10:59 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
5 Orang di Kota Yogya Meninggal Akibat Leptospirosis sejak Januari 2025
Sebanyak 18 kasus leptospirosis terjadi di Kota Yogya sejak Januari sampai akhir Juni 2025 dengan total kematian mencapai 5 kasus. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Ilustrasi tikus penyebab leptospirosis. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tikus penyebab leptospirosis. Foto: Pixabay
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat sebanyak 18 kasus leptospirosis terjadi di wilayah Kota Yogyakarta sejak Januari hingga akhir Juni 2025. Dari jumlah tersebut, 5 orang meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, mengatakan sebagian besar kematian disebabkan oleh keterlambatan pasien dalam mengakses layanan kesehatan.
β€œMemang saat awal terinfeksi gejalanya tidak terlalu spesifik. Mirip-mirip dengan gejala infeksi bakteri atau virus lainnya, sehingga seringkali masyarakat atau pasien terlambat mengakses layanan kesehatan,” ujar Lana, Senin (30/6) kemarin.
Lana menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira. Gejala awal yang muncul pada pasien antara lain demam, nyeri kepala, nyeri otot (khususnya di daerah betis dan paha), mata kuning, merah dan iritasi, serta diare.
Selain leptospirosis, Pemkot Yogyakarta juga mewaspadai potensi penyebaran Hantavirus yang ditularkan melalui kontak dengan kotoran, urin, dan air liur tikus yang terinfeksi Orthohantavirus, termasuk melalui inhalasi partikel aerosol dari ekskresi tikus.
β€œKami sudah membuat surat edaran untuk kewaspadaan Leptospirosis. Saat ini on proses (penandatanganan),” kata Lana.
β€œSE itu juga untuk menindaklanjuti Surat dari Gubernur DIY terkait kewaspadaan Kejadian Luar Biasa Leptospirosis dan Hantavirus,” lanjutnya.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Hantavirus sendiri dapat menyebabkan sindrom seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Gejala awal antara lain demam tinggi hingga 39 derajat Celsius, bintik perdarahan pada wajah, sakit kepala, nyeri pada bola mata, rasa lelah, nyeri otot, sesak napas, dan detak jantung cepat.
Lana menyebutkan bahwa langkah pencegahan sedang diperkuat, termasuk edukasi masyarakat melalui pola hidup bersih dan sehat (PHBS), deteksi dini, dan peningkatan kapasitas layanan kesehatan.
β€œJika mengalami gejala-gejala tersebut kami harap masyarakat segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama,” ujar Lana.
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga meminta puskesmas dan rumah sakit meningkatkan kemampuan petugas dalam deteksi dan penanganan leptospirosis maupun Hantavirus. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengoptimalan fasilitas penunjang seperti Rapid Diagnostic Test (RDT).
Selain itu, dinas-dinas terkait diminta ikut serta dalam upaya pengendalian, seperti Dinas Lingkungan Hidup yang diminta meningkatkan pengelolaan sampah agar tidak menjadi sumber makanan bagi tikus.
Langkah-langkah pencegahan lainnya yang dapat dilakukan masyarakat antara lain menyimpan makanan dan minuman dengan baik, memberantas tikus di rumah, mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di tempat berair, menggunakan alas kaki, serta mengelola limbah rumah tangga dengan benar.
Trending Now