Konten Media Partner

740.000 Warga DIY Sudah Cek Kesehatan Gratis, 4.000-an Berisiko Depresi

15 Desember 2025 18:29 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
740.000 Warga DIY Sudah Cek Kesehatan Gratis, 4.000-an Berisiko Depresi
Sekitar 740.000 warga DIY telah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sekitar 4.000 orang menunjukkan gejala depresi. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Ilus trasi cek kesehatan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilus trasi cek kesehatan. Foto: Pixabay
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menjangkau sekitar 20 persen dari total penduduk, yakni 740.000 dari sekitar 3,7 juta jiwa. Selain itu, ada sekiar 142.000 penduduk yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, menyebut bahwa Dari 142.790 warga yang menjalani skrining gejala depresi, sebanyak 2,83 persen atau 4.034 orang menunjukkan kemungkinan gejala depresi.
Sedangkan dari 142.788 orang yang memeriksakan gejala kecemasan, terdapat 2,37 persen atau 3.381 orang yang menunjukkan kemungkinan gejala kecemasan.
β€œDan sekitar 2,3 persen juga berisiko mempunyai gangguan kecemasan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, kepada Pandangan Jogja, pekan kemarin.
Menurut Anung, depresi dan kecemasan dapat menjadi pintu masuk sebelum seseorang mengalami gangguan jiwa yang lebih berat apabila tidak tertangani dengan baik. Oleh karena itu, hasil CKG dimanfaatkan sebagai dasar intervensi awal.
β€œKecemasan, depresi, itu kan sebagai pintu masuk apabila tidak tertangani dengan baik, itu mungkin saja dia bisa menjadi penyakit-penyakit yang lebih berat,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Ia mengakui masih terdapat kendala di masyarakat, terutama stigma terhadap gangguan jiwa. Dalam sejumlah kasus, keluarga memilih menyembunyikan anggota keluarga yang mengalami masalah kejiwaan.
Meski demikian, Dinkes DIY memastikan fasilitas pelayanan kesehatan siap memberikan penanganan menyeluruh bagi warga yang datang dan terdeteksi memiliki potensi gangguan jiwa.
β€œOrang yang kemudian dengan potensi gangguan jiwa kemudian sudah datang ke fasilitas pelayanan kesehatan, itu yang kemudian kami tangani secara paripurna,” jelasnya.
Lebih lanjut, Anung menegaskan bahwa depresi dan kecemasan bukan satu-satunya penyebab gangguan jiwa berat seperti skizofrenia dan psikosis akut. Keduanya merupakan salah satu faktor risiko dari berbagai faktor lain yang saling berkaitan.
Faktor risiko tersebut, lanjut dia, dapat berasal dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari kondisi ekonomi, pendidikan, hingga lingkungan sosial. Pemerintah memotret berbagai risiko tersebut untuk menentukan bentuk intervensi yang tepat.
β€œAda faktor risiko ekonomi bisa jadi, faktor risiko pendidikan bisa jadi, faktor risiko pergaulan bisa jadi. Jadi faktor risikonya banyak,” katanya.
Anung menambahkan, sasaran utama skrining kesehatan jiwa dalam program CKG adalah kelompok usia di atas 15 tahun. Pada rentang usia tersebut, individu dinilai mulai terpapar berbagai tekanan sosial dan lingkungan.
Trending Now