Konten Media Partner
Atasi Lonjakan Kebutuhan untuk MBG, Kementan Siapkan 323 Fasilitas Industri Ayam
25 November 2025 16:09 WIB
·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Atasi Lonjakan Kebutuhan untuk MBG, Kementan Siapkan 323 Fasilitas Industri Ayam
Kementan menyiapkan pembangunan 323 fasilitas industri ayam di 29 provinsi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan telur dan daging ayam untuk MBG. #publisherstory #pandanganjogja Pandangan Jogja

Kementerian Pertanian RI menyiapkan pembangunan 323 fasilitas industri ayam di 29 provinsi luar Jawa untuk memenuhi lonjakan kebutuhan protein program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini menjadi bagian dari investasi Rp20 triliun yang digelontorkan pemerintah melalui Danantara untuk memperkuat ekosistem unggas nasional, mulai dari pabrik pakan hingga hilirisasi.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Agung Suganda, menjelaskan bahwa secara nasional Indonesia berada pada posisi surplus produksi. Tahun 2024, produksi telur mencapai 6,2 juta ton dari kebutuhan 6,03 juta ton, sedangkan produksi daging ayam sebesar 4,03 juta ton menutup kebutuhan 3,72 juta ton.
Namun kebutuhan tambahan untuk program MBG, yakni 0,7 juta ton telur dan 1,1 juta ton daging ayam per tahun, menjadi tantangan baru dalam menjaga kestabilan pasokan. Karena itu, pemerintah menyiapkan fasilitas yang mencakup pabrik pakan, kandang modern, rumah pemotongan ayam (RPA), cold storage, serta pabrik vaksin.
“Karena itu kita membangun 323 fasilitas industri ayam di 29 provinsi luar Jawa. Mulai dari pabrik pakan, kandang modern, RPA, cold storage, sampai pabrik vaksin. Harapannya setiap pulau bisa mandiri dalam produksi protein,” ujar Agung dalam Sarasehan Peternakan Unggas bertema “Transformasi Peternakan Unggas Nasional: Optimalisasi Dana 20 Triliun Menuju Kemandirian Pangan” di Fakultas Peternakan UGM, Sabtu (22/11) kemarin.
Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosdiarso, menilai penguatan hulu dan hilir menjadi krusial agar peternak kecil tidak terus berada pada posisi tanpa daya tawar. Ia menyebut industri hulu masih dikuasai segelintir perusahaan, mulai dari pakan, DOC, hingga obat-obatan.
“Peternak selama ini tidak punya nilai tawar. Harga pakan ditentukan korporasi besar, harga DOC naik kami ikut, turun jarang. Obat-obatan pun sama,” terangnya.
Ia berharap penguatan kelembagaan peternak dan hilirisasi, termasuk produksi tepung telur, turut diprioritaskan agar kelebihan produksi dapat terserap dan ketergantungan impor dapat ditekan.
“Kalau kami bisa memproduksi tepung telur dengan teknologi yang lebih baik, impor bisa dinolkan. Ini bukan minta hibah, kami siap bertanggung jawab. Tapi perlu ada dorongan nyata,” ujarnya.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro, menegaskan bahwa forum sarasehan menjadi ruang penting untuk merumuskan rekomendasi yang memperkuat desain kebijakan ini.
“Kita berharap rekomendasi dari sini bisa memperkuat kebijakan, investasi, dan kelembagaan peternak,” ujarnya.
Pembangunan 323 fasilitas unggas ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan daging ayam dan telur bagi program MBG, sekaligus menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakat.
