Konten Media Partner
Cerita Abida, Anggota PSHT Jalan Kaki Jogja-Madiun Tunaikan Nazar Lulus Kuliah
20 Oktober 2025 16:25 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Cerita Abida, Anggota PSHT Jalan Kaki Jogja-Madiun Tunaikan Nazar Lulus Kuliah
Seorang anggota perguruan silat PSHT, Abida, menunaikan nazarnya jalan kaki dari Jogja ke Madiun sejauh hampir 200 kilometer setelah dinyatakan lulus kuliah dari UAD. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Siti Abidatul Hasanah, anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), menunaikan nazarnya dengan berjalan kaki sejauh hampir 200 kilometer dari Sleman, Yogyakarta, menuju Padepokan Agung PSHT di Madiun, Jawa Timur. Nazar itu ia jalankan setelah dinyatakan lulus kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Abida berangkat dari Padepokan PSHT Sleman pada 3 Oktober pukul 09.34 WIB dan tiba di Madiun pada 8 Oktober sekitar pukul 16.22 WIB.
“Saya sudah janji kepada Allah, orang tua, dan saudara-saudara semua. Kalau skripsi saya lulus, saya akan jalan kaki ke Padepokan Pusat PSHT Madiun. Janji itu utang, harus dilunasi,” ujarnya saat ditemui Pandangan Jogja, Sabtu (18/10).
Abida adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UAD angkatan 2019 dan juga mahasiswa aktif Farmasi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta angkatan 2020.
Berawal dari Tekanan Skripsi
Nazar itu muncul saat Abida hampir menyerah mengerjakan skripsinya. Bab penelitian macet, revisi tak kunjung selesai, hingga ia menangis dan berdoa.
“Skripsi saya sempat berhenti, saya bingung dan hampir nyerah. Waktu itu saya bilang dalam hati, ‘Kalau Allah mudahkan dan saya bisa lulus, saya akan jalan kaki dari Jogja ke Madiun.’ Di situlah nazar itu saya ucapkan,” ceritanya.
Sebulan setelah mengucap nazar, dosen pembimbing menyetujui skripsinya pada Februari 2025. Ia resmi diwisuda pada Mei, dan baru bisa menunaikan nazar tersebut pada Oktober setelah mendapat restu orang tua — dengan syarat harus ada pendamping minimal satu anggota PSHT.
Sebelum berangkat, ayahnya sempat melarang jika Abida pergi sendirian.
“Ayah bilang, ‘Kalau enggak ada saksi, kamu enggak usah berangkat. Bukan karena aku melarang nazarmu, tapi aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan’.”
Abida lalu menghubungi hampir 50 saudara PSHT, namun sebagian besar menolak.
“Ada yang bilang, ‘ngapain nazar nyiksa badan’, ada yang nyeletuk ‘turu wae enak’. Tapi saya tetap jalan karena ini janji,” katanya.
Akhirnya, satu anggota PSHT yang tidak ia kenal dekat bersedia menemani dan menjadi saksi perjalanannya memenuhi nazar. Setelah berbicara langsung dengan ayah Abida, restu pun diberikan.
Perjalanan 5 Hari: Luka, Godaan Menyerah, dan Tumpangan yang Ditolak
Selama lima hari, Abida menempuh rute Sleman–Klaten–Solo–Ngawi–Madiun mengikuti jalur bus antar-kota. Kakinya lecet, melepuh, bahkan sempat berdarah.
“Capek, pengin nangis, pengin pulang, pasti ada. Tapi saya ingat, nazar itu utang. Utang harus dibayar. Kalau saya bohong, Allah tahu, meskipun tidak ada manusia yang melihat,” ucapnya.
Warga yang ditemuinya beberapa kali menawarkan tumpangan.
“Mohon maaf, Bu. Saya jalan kaki karena sudah bernazar. Kalau saya naik motor, saya takut jadi orang munafik,” katanya kepada seorang ibu di sekitar Masjid Al-Aqsa, Klaten.
Tidur di Masjid, Swalayan, hingga Rumah Saudara Silat
Selama perjalanan, Abida beristirahat di masjid, teras swalayan, atau rumah pengurus PSHT di Solo, Sragen, hingga Ngawi.
“Kalau kaki berat banget, saya rebahan di masjid atau Indomaret yang ada kamar mandinya. Kalau masih kuat, jalan terus. Yang penting wudu enggak putus, salat enggak tinggal,” ungkapnya.
Perjalanan jauh bukan hal baru bagi Abida. Saat kuliah, ia setiap hari berjalan kaki dari kos ke kampus. Bahkan, ia sering jalan kaki dari kosnya ke Malioboro sejauh 7 kilometer.
“Jadi kaki saya memang sudah biasa jalan. Bedanya, kali ini bukan cuma jalan, tapi bawa janji, bawa doa,” katanya.
Bagi Abida, perjalanan ini bukan tentang popularitas, tetapi bentuk laku spiritual.
“Saya percaya ilmu tinemu soko laku. Kalau mau cari kemuliaan, ya harus bersusah payah. Wong enggak ada kemuliaan yang lahir dari tidur,” tuturnya.
