Konten Media Partner
Cuma 2,8% Orang Indonesia yang Gosok Giginya Benar, Padahal Suka Konsumsi Gula
12 September 2023 18:28 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Cuma 2,8% Orang Indonesia yang Gosok Giginya Benar, Padahal Suka Konsumsi Gula
Jumlah orang Indonesia yang telah menggosok gigi dengan benar baru sekitar 2,8 persen, padahal konsumsi gula di Indonesia sangat tinggi. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Kesadaran merawat gigi orang Indonesia dinilai masih sangat rendah. Bahkan, hanya 2,8 persen orang Indonesia yang telah menggosok gigi dengan benar.
Hal itu disampaikan oleh Head of Profesional Marketing Personal Care Unilever Indonesia, drg. Ratu Mirah Afifah, dalam peringatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di UGM, Selasa (12/9).
“Hanya 2,8 persen masyarakat yang telah menggosok gigi dengan benar dan dilakukan setidaknya dua kali sehari di waktu sebelum tidur dan sesudah sarapan,” kata Ratu Mirah Afifah.
Hal ini mengakibatkan tingginya masalah gigi dan mulut yang terjadi di Indonesia, terutama masalah gigi berlubang dan karies yang mencapai 88 persen. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya ke dokter gigi secara rutin setiap tahun.
“Ternyata 95,5 persen masyarakat Indonesia mengaku tidak pernah ke dokter gigi selama setahun,” lanjutnya.
Di saat bersamaan, tren konsumsi gula masyarakat Indonesia terus meningkat setiap tahun. Bahkan, diperkirakan hingga akhir tahun 2023 ini konsumsi gula di Indonesia akan naik hingga 9 persen dibandingkan tahun 2019. Hal ini perlu menjadi perhatian serius, mengingat gula dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan gigi.
“Kita tidak bisa sepenuhnya menghindari gula. Namun konsumsinya bisa dibatasi dan dibarengi dengan perilaku menyikat gigi yang benar dan rutin berkunjung ke dokter gigi,” paparnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM sekaligus ketua AFDOKGI, drg. Suryono, menyampaikan bahwa di DIY jumlah masyarakat yang telah menyikat gigi dengan benar sudah jauh lebih tinggi dari angka nasional. Meski begitu, angkanya masih sangat kecil, yakni hanya sekitar 6 persen.
“Kalau data di Indonesia tadi hanya 2,8 persen masyarakat yang baru menggosok gigi dengan benar, maka di Yogyakarta ini sudah mencapai 6 persen warganya yang menggosok gigi dengan benar,” ujarnya.
Ketua Umum PB PDGI, drg. Usman Sumantri, menambahkan upaya mewujudkan kesehatan gigi dan mulut di masyarakat harus dibarengi dengan akses ke dokter gigi yang memadai. Masalahnya, hingga saat ini jumlah dokter gigi di Indonesia masih belum ideal atau terbatas.
Karena itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan jumlah lulusan dokter gigi dan penerimaan mahasiswa fakultas kedokteran gigi (FKG).
“Jumlah dokter gigi semua ada 43 ribuan, termasuk dokter gigi umum dan spesialis. Sementara yang spesialis itu kurang dari 5 ribu jadi masih sangat kurang dan itu kebanyakan dokter gigi berkumpul di kota-kota,” ujarnya.
Terkait dengan tingginya konsumsi gula oleh masyarakat Indonesia, Usman meminta supaya masyarakat mengimbanginya dengan menjaga pola hidup sehat agar kesehatan gigi dan mulut bisa tetap terjaga.
“Apabila konsumsi gula yang tinggi tidak dibarengi dengan pola hidup sehat akan menyumbang peningkatan jumlah kasus gigi berlubang dan karies hingga 31 persen,” kata dia.
