Konten Media Partner
Dari Pesantren ke ArtJog: Proses Faisal Kamandobat Menciptakan Endog Jagad
20 Agustus 2025 17:36 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Dari Pesantren ke ArtJog: Proses Faisal Kamandobat Menciptakan Endog Jagad
Faisal Kamandobat memamerkan “Endog Jagad” di ArtJog 2025, karya manuskrip Arab Pegon 14 meter yang merekam siklus hidup & pengetahuan Desa Karanggedang. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Seniman Faisal Kamandobat membawa kisah dari pesantren di Desa Karanggedang, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, ke panggung ArtJog 2025 “Motif: Amalan” di Jogja National Museum (JNM). Karyanya berjudul “Endog Jagad: Serat Nubuwat Kiai Jembar Manah”, berupa naskah dan lukisan dalam gulungan manuskrip iluminasi Arab Pegon (aksara Arab untuk menulis bahasa Jawa/Indonesia) berukuran panjang 14 meter dan lebar 1,5 meter. Dalam diskusi publik pada Selasa (19/8), Faisal memaparkan proses kreatifnya bersama penerjemah Welda Sanavero dan moderator Ignatia Nilu.
Kritik dan Gagasan dalam Endog Jagad
Faisal menuturkan bahwa gagasan karyanya berangkat dari riset di desanya. Dalam prosesnya, ia melibatkan para santri di Pesantren Karanggedang yang dikelola oleh keluarganya. Mereka diminta mewawancarai orang tua mereka, menggali sejarah kampung, dan merekam pengetahuan lokal. Hal ini dilakukannya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai masyarakat desa yang semakin terancam punah.
“Desain pembangunan nasional tidak menempatkan desa dalam proporsi yang tepat. Akhirnya, desa jadi habis,” kata Faisal, merujuk pada fisik dan pengetahuan desa.
Kritik ini menjadi pijakan lahirnya Endog Jagad. Bagi Faisal, desa menyimpan pengetahuan kosmos yang harus dijaga. Oleh sebab itu, ia memilih tembang macapat (puisi tradisional Jawa) sebagai kerangka isi karya. Lewat rangkaian tembang Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradhana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, hingga Pocung, Faisal merepresentasikan siklus hidup manusia sekaligus perjalanan masyarakat Desa Karanggedang. Dengan cara ini, karya seni menjadi sarana pendidikan yang menghidupkan kembali nilai-nilai desa yang terancam hilang.
Naskah Manuskrip Arab Pegon
Isi gagasan tersebut dituangkan Faisal dalam bentuk gulungan manuskrip iluminasi Arab Pegon. Naskah aslinya berbahasa Jawa dan disajikan dalam bentuk foto. Sebagai pelengkap, Faisal menghadirkan visual berupa lukisan yang menampilkan bentangan pegunungan dari Gunung Slamet hingga Gunung Galunggung, digarap dengan teknik melukis Sokaraja khas Banyumas, Jawa Tengah.
Dengan menghadirkan bentangan pegunungan dan kosmologi Jawa, Faisal menekankan hubungan manusia dengan alam dan ruang desa sebagai pusat kehidupan. Gulungan panjang itu sekaligus metafora kesinambungan memori yang tidak boleh terputus oleh arus pembangunan.
Kolaborasi dalam Penerjemahan
Teks berbahasa Jawa dalam aksara Arab Pegon yang ditulis Faisal kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Inggris oleh Welda Sanavero. Endog Jagad diterjemahkan menjadi “Telur Kosmik: Serat Nubuwat Kiai Jembar Manah” dalam bahasa Indonesia. Sedangkan dalam bahasa Inggris, namanya menjadi “Cosmic Egg: The Prophetic Letters of Kiai Jembar Manah”.
Bagi Welda, penerjemahan ini tidak hanya soal alih bahasa, tetapi juga alih rasa. “Saya harus masuk untuk mengenal kembali sense of myself. Tanpa melibatkan sense, rasanya mustahil untuk menerjemahkan,” ungkapnya.
Welda menyebut proses ini sebagai transcreation. Selain menjaga makna kata, ia juga mempertahankan irama dan rasa dari tembang gubahan Faisal. “Konsep keseimbangan dalam karya ini adalah universal concept yang hampir dimiliki semua falsafah. Jadi, bukan hanya history of art, tapi juga history of sense,” tambahnya.
Dengan demikian, penerjemahan menjadi jembatan agar isi kosmologi desa yang ditulis Faisal dapat diakses audiens lebih luas tanpa kehilangan nuansa aslinya.
Karya yang Hidup di Masyarakat
Endog Jagad melibatkan santri dalam proses melukis dan menulis, membuatnya sebagai karya yang lahir dari desa sekaligus kembali ke desa. Bahkan, warga pernah meminjam karya ini sebagai latar pernikahan, yang menjadi tanda bahwa karya tersebut sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Welda menyebut Endog Jagad sebagai living vision, yakni sebuah karya yang terus berdenyut bersama masyarakat. Senada, Faisal beranggapan bahwa karya seni tidak boleh berhenti di ruang pamer.
“Saya ingin karya ini jadi sesuatu yang ditulis setiap hari,” pungkas Faisal.
