Konten Media Partner
Eko Suwanto Banggakan Praktek Pancasila Wali Kota Yogya: Bedah Rumah Tanpa APBD
6 Juli 2025 19:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Eko Suwanto Banggakan Praktek Pancasila Wali Kota Yogya: Bedah Rumah Tanpa APBD
Dalam Seminar Kebangsaan di UC UGM, Minggu (6/7), Ketua DPC PDIP Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, membanggakan program bedah rumah Wali Kota Yogya. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, menyebut program bedah rumah yang berjalan rutin di Kota Yogyakarta sebagai wujud nyata praktek nilai-nilai Pancasila di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Hal itu ia sampaikan dalam Seminar Kebangsaan “Praktek Ideologi Pancasila dan Konstitusi dalam Pembangunan” yang digelar di University Center UGM, Minggu (6/7/2025).
“Di kota ini ada keterbatasan anggaran. Duitnya hanya kurang lebih Rp2 triliun. Dan ini tidak cukup untuk membangun kota,” ujar Eko di hadapan peserta seminar.
Meski begitu, ia mengapresiasi inisiatif Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang menggagas program-program kerakyatan di luar skema APBD. Salah satunya adalah program bedah rumah yang kini dijalankan dua hingga tiga kali setiap minggu.
“Pak Wali Kota sudah mulai menginisiasi program-program kerakyatan yang tidak bersumber dari APBD. Misalnya bedah rumah. Bedah rumah setiap minggu dua kali, tiga kali, terus menerus, dan tentunya ini akan menjadi sesuatu yang dinikmati oleh masyarakat. Dan itulah wajah PD Perjuangan hari ini,” ucapnya.
Tak hanya itu, Eko juga menyampaikan kabar baik terkait penguatan layanan dasar di tingkat kampung. Dalam anggaran perubahan Pemkot Yogya 2025, ia mengatakan telah ada program satu tenaga kesehatan untuk satu kampung yang menurutnya sangat relevan dengan kebutuhan warga.
“Dalam anggaran perubahan ini kami mendapat kabar baik: satu tenaga kesehatan untuk satu kampung. Untuk memastikan layanan kesehatan rakyat ini begitu kuat di Kota Yogyakarta,” katanya.
Menurut Eko, program-program tersebut lahir dari semangat gotong royong lintas struktur partai dan pemerintahan. Ia menyebut dukungan fraksi PDI Perjuangan dan peran kader hingga tingkat PAC turut memastikan keberlangsungan program-program yang langsung menyasar kebutuhan dasar rakyat.
Dalam pidatonya, Eko juga mengaitkan kerja-kerja kerakyatan itu dengan nilai-nilai ideologis partai. Ia menyebut bahwa seluruh elemen tiga pilar partai—kepala daerah, fraksi, dan DPC—wajib ngugemi dan menghikmati Pancasila serta konstitusi dalam menjalankan tugas sehari-hari.
“Arahan dari Ketua Umum adalah untuk selalu ngugemi, menghikmati Pancasila dan konstitusi sebagai pegangan di dalam melaksanakan tugas, baik sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, fraksi, maupun DPC partai dalam konsep tiga pilar,” tegasnya.
Eko turut menyampaikan perkembangan program prioritas lain di Kota Yogyakarta, termasuk pengelolaan sampah yang mulai menunjukkan progres, serta partisipasi aktif warga dalam gerakan Jogja Cling untuk membersihkan sungai.
Ia juga menggarisbawahi kebijakan Pemkot Yogyakarta yang membuka ruang aspirasi publik setiap Rabu pagi. “Hari ini untuk ketemu dengan Wali Kota juga menjadi sangat mudah. Masyarakat bisa langsung bertemu dengan Wali Kota untuk menyampaikan aspirasinya,” ungkapnya.
Menutup pidatonya, Eko menegaskan bahwa keberhasilan partai tidak bisa dipisahkan dari kedekatan dan cinta kepada rakyat. “Dengan ini insyaallah pemilu berikutnya kita akan bisa memenangkan apapun sistem dan apapun polanya, karena kuncinya adalah mencintai rakyat dan dicintai rakyat,” ujarnya.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno yang diselenggarakan DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta.
Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo tampil sebagai pembicara kunci dengan sejumlah pembicara lainnya, antara lain Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Wakil Rektor UGM Arie Sujito, politisi muda PDI Perjuangan Aryo Seno Bagaskoro. Selain seminar, kegiatan lain yang digelar antara lain turnamen Soekarno Cup dan bakti sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
